Part 3 ★

DOR! Suara konveti memenuhi 1 ruangan yang dipakai Chloe untuk melangsungkan acara fashion show-nya. 2 bulan setelah pertemuannya dengan Arnold, 2 bulan setelah lahapan cheese cake Chloe habis di cafe terkenal tersebut. Suara konveti yang sudah berdentum semenit yang lalu, tanda fashion show berakhir dan menyisakan 1 calon model yang akan diasuh Chloe selama 6 bulan penuh untuk menjadi generasi terbaru Teen Vogue di Paris. Tak lama, ponsel Chloe berbunyi disaat yang tepat. Acara sudah selesai, para designer ternama sudah mendapati calon model yang baru, artinya mereka sudah mempunyai client untuk cover majalah baru mereka 6 bulan lagi. 6 bulan lagi, artinya Chloe akan berhenti untuk menjadi model. Namun entahlah, apakah itu keputusan yang baik? Tidak… Chloe harus memikirkannya lagi sebelum bertindak.

“Hallo?” jawab Chloe setelah 2 nada sambung. “APA?! DISAAT SEPERTI INI?!…. tidak bukannya aku keberatan, namun ada alasan lain….. bukan itu! Aku sedang bekerja sekarang kau tahu….. Yaya, baiklah, secepat yang aku bisa,” lalu perbincangan Chloe dengan rekannya tersebut selesai. Dengan sopan, Chloe meninggalkan gedung tersebut, semua staff sudah tahu dan memperbolehkan Chloe meninggalkan gedung duluan. “Terimakasih,” ucap Chloe hingga akhirnya ia berlari menuju parking area. “Kenapa hari ini…” gumam Chloe sambil memakai sabuk pengaman dan mulai menekan gas. Ini yang selalu diperhitungkan oleh Chloe sebelum memasuki dunia-nya yang lain, dan dunia artisnya. Harus selalu diperhitungkan apapun keadaannya.

“Jadi?” tanya Chloe setelah keluar di lantai 5 dan langsung berjalan cepat ke salah satu meja yang disana duduk seorang pria. Umurnya sekitar akhir dari 40-an. “Ya, hari ini giliran kau dan Arnold,” jawab pria tersebut. “Arnold lagi?!” tanya Chloe. Pria tersebut mengangguk, “Bukankah kau tahu kalau dari awal Arnold akan menjadi pasanganmu?” tanya pria tersebut.

Chloe diam, lalu mengangguk kecil.

“5 menit setelah perintah ini, temui Arnold dan segera ke lokasi. 5 anggota lain sudah kesana, mereka hanya berjaga-jaga keadaan sekitar. Diperkirakan pelaku masih ada disekitar rumah korban, maka itu sebelum terlambat cepat kau pergi!”

Chloe segera mengerti. Baiklah, kehidupan nyatanya akan terungkap. Cepat atau lambat…

“JANGAN GILA!” teriak Chloe sambil berpegangan saat Arnold mengejar pelaku yang memutar arah. Arnold terpaksa memotong jalur. Ia berbelok dari jalur kiri ke jalur kanan yang dibatasi oleh rumput setinggi 10 cm. “DIAM!” sentak Arnold sambil mengerem lalu dengan cepat ia memutar kemudinya maksimal lalu mulai menekan gas sekencang-kencangnya. Terdengar suara decikan rem mobil yang mnimbulkan asap diantara ban dan jalanan. Mobil mereka sudah bersebalahan, pelakunya ada 2 orang. Perlahan, Arnold memundurkan joknya, menunjuk mobil pelaku dengan dagu. Chloe mengeluarkan pistol, mengarahkan pistol ke pelaku. Sebenarnya, itu bukan pistol sungguhan yang akan melesatkan peluru untuk menyakiti. Itu adalah kamera yang berbentuk pistol. Hanya 3 detik Chloe sudah mendapatkan 1 foto wajah pelaku. Untuk itu, mereka tidak akan repot mencari pelaku jika gurat wajahnya sudah diketahui. Namun para pelaku tidak tahu kalau pistol tersebut ternyata kamera, lalu mereka segera menembakan 1 tembakan namun terlambat, Arnold sudah menembak mereka lebih dulu. Pas di bahu. Tumbang 1, tersisa 1 lagi. Arnold memajukan joknya lagi sementara para pelaku tersebut belum merasa kapok. Arnold terlalu fokus ke jalanan daripada melihat gurat wajah pelaku. Pelaku yang sudah tumbang tersebut terus berteriak dan mencengkram bahunya. Pemandangan yang biasa, namun pelaku yang sedang menyetir disebelahnya mengeluarkan pistol, menekan pelatuk, lalu mengarahkannya ke kepala sang rekan pembunuhannya. Tak lama, ia menembak rekannya dan sekarang mati total. “Maaf,” setidaknya itu yang pelaku katakan setelah menembak rekannya sendiri. “Terkadang, itu memang harus kita lakukan,” gumam Arnold yang akhirnya sadar bahwa Chloe daritadi melihat pemandangan tragis disebelah mobil Arnold.

“Kami kehilangan jejak setelah mobil pelaku masuk ke kerumunan mobil di daerah pertokoan. Disana sangat ramai, namun setidaknya gurat kedua pelaku sudah kami dapatkan,” jelas Arnold sambil memperlihatkan foto-foto yang tadi diambil Chloe baik dari kamera biasa maupun dari pistol-kamera. Chloe sedang memindahkan foto dari layar pertama ke layar kedua dengan sentuhan tangan. Layar tersebut memisah, namun dapat selalu berhubungan. Teknologi. “Lalu?” tanya pria yang tadi meminta Chloe menyelidiki kasus. Arnold terus menjelaskan, hingga Chloe sadar 1 hal saat ia melihat foto ke-9 yang ia dapat. Tampak belakang mobil pelaku. “Ekhem…,” Chloe mampu mengendalikan suasana, membuat ke-2 pria tersebut menoleh padanya. “Sepertinya didalam mobil tersebut tidak hanya 2 orang. Melainkan 4 orang, bersama…. 1 mayat di jok belakang dan 1 orang lagi di bagasi,”

Advertisements

Diterima Apa Adanya Kok

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s