#1 *request-an AK -__-

“Ya, tentu…. Tidak…. baiklah sampai bertemu besok,” kata seorang wanita muda berumur 23 tahun sambil menghela nafas dan memasukan ponselnya ke tas selempang. Kate Ravioska dengan mantel putih, syal kelabu  yang melingkari lehernya dan kupluk putih serta kacamata hitam di atasnya. Tak lupa legging jeans hitam dan boot putih-abu menutupi kakinya. Suhu kota Paris yang mencapai -5˚C pada sore menjelang malam memang membuatnya merapatkan mantel. Setiap udara yang keluar dari hidung atau mulut Kate pasti berwarna putih. Suhu minus seperti itu memang sangat dingin. Tak lama, sebuah benda dingin mendarat di pundaknya dengan cukup keras. “Hei!” tegur Kate sambil mencari arah datang benda dingin tersebut. Sebuah bola salju. Hingga seorang lelaki tinggi tertangkap oleh matanya. “M-maaf! Aku tidak sengaja! Apakah lemparan tadi cukup keras?” tanya lelaki itu sesaat belum sempat Kate membersihkan sisa bola salju yang tadi menghantam pundaknya. Sedetik kemudian, Kate hanya berdehem sambil menepuk-nepuk pundaknya sebelum beberapa butiran es menjadi air dan menyerap ke mantel putihnya. “Tidak apa-apa,” jawab Kate akhirnya dan lelaki itu kembali ke tempatnya semula. Dari jam 6 pagi, wanita itu sudah harus ada di kantor untuk mengurus design cover majalah remaja. Jam 9, ia ke kampus. Jam 2, Kate langsung pergi ke tempat modeling untuk mengurus beberapa client yang akan melihat foto-foto vogue hasil jepretan bosnya sebelum akhirnya diseleksi dan mempromosikan kembali model lain untuk dijadikan cover majalah. Sekarang, tepat jam 6 sore ia kembali ke apartemen untuk bersiap-siap karena malamnya akan mendatangi sebuah acara pertemuan khusus untuk para mantan model remaja 6 tahun yang lalu. Atau sebuah acara reuni. Kate merasa dirinyalah yang paling sial hari ini. Sambil membayangkan betapa padatnya jadwal ia hari ini ditambah lagi bunyi ponsel yang sepanjang jalan mengganggunya. Telepon dari bosnya. Tanpa mengangkat sambungannya pun, Kate sudah tahu bahwa apa yang akan dibicarakan bosnya itu adalah hanya sekedar basa-basi sebelum sebuah acara besar. Seperti basa-basi mengingatkan Kate untuk tidak lupa memakan sayuran yang banyak dan mengurangi tidur larut untuk menghindari kerutan atau lengkungan hitam dibawah mata. Hingga salju turun perlahan, bersiap menutupi seluruh jalanan kota Paris. Hari ke-5 musim salju. Kate menggeram sedikit sampai akhirnya ia memutuskan untuk menghangatkan diri disebuah kedai kopi beberapa ratus meter dari gedung apartemennya. Tanpa ditanya, pelayan di kedai kopi tersebut sudah tahu apa saja yang akan dipesan Kate. Saat salah satu pelayan menghampiri, Kate hanya tersenyum sambil mengangguk sedikit dan pelayan tersebut kembali ke tempat dibuatnya kopi tersebut. Simple.

Bermaksud menunggu, Kate mengubah nada dering ponselnya siapa tahu ada telepon penting yang masuk. Semenit kemudian, ponsel Kate mengeluarkan suara nyaring namun mengalun. Ya, sebuah telepon… bukan dari siapa-siapa, melainkan bosnya. “Halo?” sedetik kemudian, Kate langsung menjauhkan ponsel tersebut dari telinganya dan hati-hati mendekatkannya kembali. “Ya? M-maaf…. Aku tidak sempat membuka ponsel….. Ya, baiklah tentu saja aku tidak akan makan banyak minyak dan daging…. Ya, akupun akan tidur tepat waktu….. Baiklah, sampai bertemu besok.” Dan sebuah hembusan nafas berat keluar dari mulutnya. “Ini pesanannya,”

“Terimakasih,” Di detik berikutnya, Kate masih membiarkan asap mengepul dari cangkir antik didepannya. Saat ia mulai menuangkan sedikit crème ke kopi hitam tersebut dan mengaduknya, ponsel wanita itu kembali berdering dan membuatnya nyaris terciprat air kopi yang masih mengepul. Sebentar, ia mengutuk siapapun yang menghubunginya. Dan…. Siapa? Nomor tidak dikenal? Kate melanjutkan meminum kopinya. Nada dering dengan nomor yang sama terdengar lagi. Kate melirik ponselnya sebentar yang ia taruh didepan cangkir kopi panasnya. Mencoba untuk tidak mengangkat sambungan telepon dengan nomor yang tidak dikenalnya, ia kembali memfokuskan dirinya pada acara malam ini. Acara pertemuan dengan mantan modelnya dulu. Tidak lama, seorang pria dengan mantel coklat duduk di bangku sebelah bangku Kate. Bangku khusus 2 orang. Pertama, Kate bergidik melihatnya karena tatapan pria itu terkesan ‘tajam’ dan akan membunuh siapapun yang mengganggunya. Di detik pertama setelah pria tersebut duduk, Kate masih memperhatikannya hingga kepala pria tersebut menoleh ke arah Kate tanpa ekspresi lalu kembali memalingkan wajahnya dan membaca menu. Seketika tubuh Kate terasa beku, namun dimenit selanjutnya ia tersadarkan dengan dering nyaring dari ponselnya. Nomor yang sama. Ia sedikut bersyukur karena disadarkan dengan nada ponselnya yang berisik. Namun disisi lain ia tidak suka diganggu dengan orang yang tidak dikenalnya—atau dikenalnya—tapi ia tidak tahu. Kate melirik jam tangan ditangan kanannya, mendesah lalu cepat-cepat menghabiskan kopinya yang masih lumayan panas. Sekarang, ponselnya berdering lagi. Awalnya, Kate akan memutuskan sambungan hingga matanya menangkap nama kontak teman se-modelnya dulu, “H-halo?” dan Kate menjauhi ponselnya tersebut sambil memegang telinganya. Sesuatu telah terjadi, ia diteriaki oleh seseorang—lagi. “Maaf! Itu nomor baru?! Aku mengira nomor itu bukan milik siapa-siapa…. Iya iya, lain kali aku tidak akan seperti itu lagi…. Baik, sampai jumpa!”

Advertisements

Diterima Apa Adanya Kok

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s