#2 *request-an AK -__-

Dengan terburu-buru, Kate berlari hingga menabrak ujung meja kedai kopi tersebut. Ia baru ingat kalau pertemuannya akan berlangsung 2 jam lagi dan ia belum siap sama sekali. Setelah membayar uang kopi crème-nya, ia segera melesat keluar kedai kopi, sementara lelaki yang tadi duduk disebelah bangku Kate memicingnya hingga wanita itu benar-benar hilang dari pandangan. Tidak sengaja, pria itu menangkap sesuatu dengan matanya. Sebuah benda berkilauan dengan sebuah miniature mini menara Eiffel dan note kecil sebelah gantungan tersebut dibawah meja yang tadi dipakai Kate, sebuah…. Kunci?

~

‘Aku akan telat!’ geram Kate dalam hati sambil berjalan cepat di sepanjang lobi apartemen. Seperti biasa, ia menunjukan kartu kamar pada petugas yang mengawasi akses lift ke lantai atas untuk memastikan orang itu adalah pemilik 1 dari 920 apartemen di gedung ini atau bukan. Setelah petugas mengangguk, Kate kembali berjalan cepat menuju lift. Apartemennya terletak di lantai 7, apartemen nomor 708. “Lama!” keluh Kate sambil mengetuk-ngetukan jari lentiknya ke dinding lift dan bersender. Entah mengapa, apa lift disini memang diperlambat atau memang lambat tapi sekarang menjadi sangat lambat. Biasanya ia hanya butuh waktu setengah menit untuk sampai lantai 7 dan sekarang sudah terasa seperti 30 jam. TING. Kate tersenyum dan berjalan menuju apartemennya. Didepan pintu apartemen 708, ia memasukan tangannya ke tas selempang, mencari sesuatu. Lalu berpindah ke saku mantel, mencari sesuatu—lagi. Dan terakhir ke saku legging jeansnya. Mulutnya menganga hebat dan akhirnya ia nekat untuk membuka paksa pintu apartemennya. Kate lupa, apartemen disini bukan apartemen sembarangan. Ia terduduk didepan pintu apartemennya, bersandar tak berdaya. Dengan sisa tenaga, ia mengeluarkan seluruh isi tas selempangnya. Hanya ponsel, dompet, kartu nama, kunci mobil dan lip balm. Ia berpikir keras dimana kuncinya berada. Hingga Kate menjentikan jarinya, “HA!” serunya semangat lalu segera menyambar ponselnya dan menelepon room service. “Ya, kunci duplikat apartemen 708….. APA?! SUDAH DI AMBIL?!” Kate memutar otaknya, sejak kapan ia mengambil kunci duplikat? Ah ia ingat, kunci itu bukannya hilang. Ia meninggalkannya di meja ruang TV bersama majalah-majalah lama yang covernya terpampang jelas wajah Kate 6 tahun lalu. “Bisa minta tolong?”

2 menit kemudian, 2 orang room service sudah ada di depan Kate, berdiri dengan beberapa box peralatan. Sepertinya mereka akan mendobrak pintu apartemen Kate atau lebih parahnya membongkar dinding depan untuk mengganti pintu yang terpaksa membuat Kate mencari tempat tinggal baru. Kate segera menggeleng saat kemungkinan-kemungkinan menyeramkan itu melintas dipikirannya. “Ya… terpaksa, untuk malam ini anda tidak bisa menggunakan apartemen anda. Kami akan berusaha mencarikan kartu atau kunci duplikat baru. Selamat malam,” Kate melongo, lalu segera mengangguk kaku dan pikiran-pikiran buruk kembali terlintas dikepalanya. Harus bermalam dimana ia malam ini? Belum lagi 1 jam 45 menit lagi ia harus datang ke gedung pertemuan untuk reuni. Sebenarnya tidak masalah untuk mencari tempat tinggal baru. Tapi hari sudah terlanjur larut dan salju pun sudah menebal. Kate berpikir keras, ia berencana untuk kembali ke kedai kopi tersebut. Tunggu… kedai kopi?! Bisa saja saat ia mengeluarkan dompet, kunci itu terjatuh tanpa ia duga. Senyumnya kembali terkembang setelah beberapa menit cemberut. Ia tidak akan membuat kakinya terlalu capek, jadi ia putuskan untuk mengendarai mobilnya yang sudah 2 hari tidak di hidupkan dan terparkir rapi di basement. “Apapun akan kulakukan asal tidak merugikan,” gumamnya dan dengan semangat membara, kakinya membawa tubuh Kate berjalan menuju basement dengan semangat.

“Kate Ravioska, 708. E-A” gumam seorang pria sambil memegang kunci dengan miniature mini menara Eiffel dan secarik note yang tadi ia temukan di kedai kopi. “Kate… Sepertinya namanya tidak asing,” gumamnya lagi lalu menancapkan gas. Ia tahu, dimana Kate tinggal. Sebuah apartemen dengan hunian nyaman dan berkelas eksekutif. Mobil sport pria tersebut sudah memasuki basement saat mobil sedan Kate terus melaju disampingnya. Seharusnya mereka berpapasan jika tidak mengendarai mobil, namun sayangnya mereka menggunakan mobil pribadi. “Sepertinya benar ia tinggal disini,” gumam pria itu lagi sambil membuka safety-belt dan memarkirkan mobilnya dekat pintu akses menuju lift ke lobi dari ground floor basement. Sekilas, ia menatap jam tangan yang melingkar di tangan kanannya, sama seperti Kate. Dengan cepat, pria tersebut berjalan ke lobi dan segera menyampaikan maksud kedatangannya kemari pada recepsionist. “Maaf, ada orang yang menjatuhkan ini disebuah kedai kopi,” jelas pria tersebut sambil mengacungkan kunci milik ‘Kate Ravioska’. Awalnya, sang recepsionist terkejut melihat pria tinggi yang tidak begitu berisi berdiri didepannya dengan tatapan tajam setelah membuka kacamata hitamnya. Namun, melihat situasi yang tidak begitu buruk, sang recepsionist langsung menjawab.

Advertisements

Diterima Apa Adanya Kok

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s