#5 *request-an AK -__-

Kate melemparkan pandangannya ke pria tinggi yang baru saja memasuki ball room dan duduk di bangku tidak jauh dengan bangku tempat Kate, Zoe, dan 3 orang mantan model lainnya duduk. “Kau tidak tahu!?” pekik Zoe sedikit keras hingga membuat 3 orang lainnya—yang sebangku dengan mereka—menatap Kate dan Zoe penuh tanya. Kate segera melambaikan tangannya dan tersenyum, membuat mereka segera kembali dengan aktivitas sebelumnya masing-masing. “Sungguh aku tidak tahu, tapi wajahnya familiar.” Jawab Kate, berbisik. Zoe menjentikan jarinya, “Seharusnya kau ingat,” kata wanita itu. “Ingat? Memang aku atau kau pernah bertemu dengannya?” tanya Kate dengan wajah polos. Zoe terkekeh sebentar, “Kau benar-benar sudah lupa,” lanjutnya. Kate menatap Zoe penuh pertanyaan lalu mengangkat bahu tanda tidak mau tahu dan mengeluarkan kameranya. “Kau benar-benar tidak mau tahu?”

Kate terdiam, berfikir. “Iya,”

Zoe menghela nafas, “Dia… model senior kita,”

Seketika Kate tersedak, matanya terbelalak. “S-senior yang diincar oleh seluruh model itu!?” tanyanya dengan nada yang lumayan tinggi. “Ssstt!” seru Zoe sambil menginjak kaki Kate hingga ia lupa bahwa ia sedang memakai high-heels 7 senti. Kate memelototi Zoe sambil memegangi kakinya. Zoe terus meminta maaf pada Kate hingga mereka berdua menjadi bahan tontonan 3 wanita—yang sebangku dengan mereka. Kate mengangguk-angguk lalu akhirnya meneguk segelas espresso yang ia dapat dari seorang pelayan. Sekarang, barulah puncak acara dimulai. Mrs. Shepard, istri dari Mr. Shepard memasuki ruangan. Sial, puncak acara berlangsung saat mata Kate sudah hampir tertutup karena ngantuk. Hampir semenit sekali Kate melirik jam tangannya. Hingga… entah yang ini yang ke-seratus atau ke-50 kali jika ia tak kurang menghitung, Kate menggeram, “ Kenapa waktu tidak berjalan sangat cepat!”

Zoe mendengus, “Kate… Hampir setiap menit kau melirik jam tanganmu. Mana bisa terasa cepat, bodoh!” semburnya. Zoe memakai gaun berwarna hitam dengan beberapa pita kecil putih. Kate melengkungkan bibirnya ke bawah, cemberut. “Yasudah, aku titip tas ya,” lanjutnya lalu bangkit. Zoe menatap, “Mau kemana kau?”

“Mencari udara segar,” jawab Kate singkat lalu beberapa detik kemudian sudah tertelan lautan manusia memakai gaun.

Kate sampai diluar ball room, untungnya ia membawa kamera untuk berjaga-jaga siapa tahu dirinya mulai mengantuk. Kate mulai membuka kameranya, mempersiapkan untuk memotret sisi luar ball room dari bawah hingga dirinya harus berjongkok. Jika dilihat, bagus juga ball room ini. Gedungnya terpisah dari gedung hotel. Ball room ini dipisahkan oleh 1 kolam renang, 1 taman bunga dan 1 kolam ikan. Interior yang hampir sama dengan hotelnya terasa menyejukan mata. Dengan nuansa klasik yunani kuno tanpa patung dan beberapa sentuhan modern terdapat disana. Sayangnya, hari sudah larut hingga Kate tidak bisa melihat dengan jelas bentuk atau letak ball room ini. Sudah 5 menit berlalu dan ia mendapatkan 3 foto dari sekitar 40 kali bidikan. Ia mulai menyusuri bagian samping ball room. Ada semacam teras lounge disana. Kate penasaran dan mulai menghampiri teras tersebut. Sayangnya, jarak antara tempat Kate berdiri dan teras tersebut adalah 10 meter. Ia melihat samping kanannya, semak tanpa cahaya. Disekeliling ball room tersebut, masing-masing sisi di beri lantai selebar 2 meter untuk berlajan. Terlalu lebar jika hanya seorang yang berjalan disana. Tapi itu menguntungkan, membuat Kate tidak begitu dekat dengan semak-semak menyeramkan disisi kanannya. Segera ia melihat sisi kiri, sebuah jendela besar dengan tinggi kira-kira 3 meter dan lebar 2 meter memperlihatkan sebagian isi ball room. Tidak buruk. Hingga angin berhembus menggelitik lehernya, membuat bulu kuduknya berdiri dan suara langkah kaki dari belakangnya. ‘Oh brengsek, siapapun itu dibelakangku tidak akan aku maafkan!’ batin Kate sambil memejamkan matanya. Suara langkah kaki itu semakin jelas terdengar ‘Oh Tuhan,’ umpatnya dalam hati lalu dengan sisa keberaniannya, Kate membawa tubuhnya berjalan ke teras lounge itu. Untungnya, di teras tersebut ada lampu walaupun tidak begitu terang karena sudah mendapat pencahayaan dari ball room. Ia bersyukur, di teras tersebut ada seorang pria yang sedang asyik dengan iPad-nya. Kate melangkah lunglai ke kursi lounge, lalu duduk disana. Ia menarik nafas panjang, lalu menghembuskannya. Membuat pria yang duduk dibangku sebelahnya menengok. Kate merasa diperhatikan, ia mendongkak-an kepalanya dan mendapati pria itu sedang memperhatikannya penuh tanya namun ada sebuah jawaban dari pertanyaan tatapan matanya tersebut. Kate menyipit lalu sedetik kemudian terbelalak, begitupun pria tersebut. “K-kau… Kita bertemu lagi,” ucap Kate sambil menutup mulutnya tidak percaya. “Kate? Ternyata benar kau. Ya, kita bertemu lagi,” kata pria tersebut. Membaca tatapan Kate, pria tersebut hanya tersenyum simpul dan tatapannya kembali menyeramkan. Kate segera berbalik dan mengotak-atik kameranya. 5 menit diselimuti keheningan, Kate semakin penasaran.

“Eh—“

“—bagaimana kau bisa ada disini?” ternyata, pria tersebut baru mau membuka pembicaraan ketika Kate menyelanya dengan pertanyaan ingin tahu. “Maaf! Aku tidak sengaja menyela!” lanjut Kate dan matanya benar-benar melotot minta maaf. Warna mata pria ini coklat, jarinya panjang kurus dan kulitnya putih. Kate yakin, ia bukan asli keturunan Eropa. Pria tersebut hanya menatap Kate, “Tidak apa-apa,” pria itu menghela nafas. “Perkenalkan, aku Samuel Ozuru. Panggil aku Sam.” lanjutnya.

Advertisements

Diterima Apa Adanya Kok

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s