#6 *request-an AK -__-

Kate mengangguk-angguk mengerti, “Sam… Kau bukan asli Eropa ‘kan?” tanyanya. Sam mengangguk. “Lalu bagaimana kau bisa ada disini? Datang di pesta ini?” tanya Kate merasa ia tidak perlu tahu bagaimana Sam bisa tinggal di Paris. “Kau pasti kenal Max bukan? Ia kakak-ku,” jawab Sam dengan tatapannya yang datar namun menyeramkan. Itu sebabnya, Kate tidak berani untuk menatap pria itu langsung ke mata. Namun Sam menatapnya tepat ke mata. Sam benar-benar menyeramkan. “Max?” tanya Kate. Nama itu dan wajah yang tiba-tiba muncul di pikirannya sangat familiar. Jangan-jangan… “KAU ADIK DARI MODEL SENIOR ITU?!” pekik Kate sambil menutup mulutnya dengan 2 tangan. Sam menatap Kate lemas, tepat dimata. Tatapan itu seolah berkata ‘iya’. “J-jadi, dia punya adik menyeram— eh adik pria maksudku,” kata Kate setelah tersadar dengan apa yang akan ia ucapkan. “Aku tahu kau ingin bilang menyeramkan, bukan?” tanya Sam tenang dan Kate malah menganggapnya sebagai serangan verbal. Kate tertunduk, beberapa detik kemudian mendongkakan kepalanya dan mengangguk. “Tidak perlu takut, aku tidak akan menggigit.” Mendengar kalimat itu, Kate tersenyum memaksa lalu, “Salam kenal… Sam.” Sam hanya membalasnya dengan anggukan tanpa ekspresi lalu kembali asyik dengan iPad-nya. Pria didepannya ini benar-benar menyeramkan. Tatapannya yang bahkan lebih seram dari tatapan sebuah ‘makhluk’ sekalipun dan lebih dingin daripada berbagai jenis ratu salju dari beberapa film fantasi. Untuk sisi itu, Kate sangat menghargai Sam. Ia tahu, pria itu tidak sejahat yang ia karang dipikirannya. Disisi lain, Kate kecewa harus bertemu bahkan berkenalan dengan Sam. Hatinya sakit dengan perlakuan Sam yang dingin bahkan terkadang kelewat dingin. Tak lama, angin berhembus pelan dan menggelitik leher Kate yang tidak terhalang oleh rambut. Dengan satu gerakan cepat, Kate mendudukan tubuhnya dan membuka ikatan rambut tersebut. Hentakan kakinya membuat Sam kembali menoleh dan bertanya, “Kau kenapa? Tersengat listrik?”

Kate masih terduduk lemas lalu menggeleng.

“Atau… Ada sebuah ‘makh—“

Kate buru-buru berdiri dan menutup wajah Sam dengan kedua tangannya sementara kamera yang ia kalungi sedikit memukul pundak Sam. Pria itu tercengang sambil berusaha melepaskan tangan Kate yang menutupi wajahnya. “H-hei!” seru Sam sambil sesekali menepis tangan Kate. Namun, tenaga Kate yang entah-bagaimana-wanita-punya-tenga-seperti-ini tidak mengalah. Bagaimana hukum di dunia ini? Wanita boleh memukul pria namun pria tidak boleh memukul wanita. Kate tidak tahu jika Sam adalah mantan juara berturut-turut turnamen Karate 4 tahun lalu, saat ia masih di Jepang. Sayangnya, Sam tidak boleh mematahkan lengan Kate dengan kelima jarinya sekarang.

Beberapa detik kemudian, Kate melepaskan tangannya dan “Tolong jangan katakan makhluk apa yang kau maksud. Maaf riasanmu hancur,” jelas Kate lalu membalikan tubuhnya. Baru saja beberapa langkah dan mata Sam yang masih memicing Kate, wanita itu menoleh sambil berpikir sesuatu. Sedetik kemudian ia sudah balik kanan dan mata mereka bertemu. “Tapi… Apa riasanmu hancur atau memang dasarnya sudah hancur?” tanya Kate polos dengan mata yang berbinar disinari cahaya dari ball room seperti mata kucing. Sam mendengus kesal, menatap Kate dengan dead eyes-nya tanpa berkata. Seketika Kate bergidik melihatnya. Tanpa ambil pusing, wanita itu hanya melayangkan huruf V dengan telunjuk dan jari tengahnya di udara, lalu buru-buru berjalan masuk ball room dari pintu samping. Ternyata, keluar ball room lewat teras lounge itu jauh lebih aman daripada melewati sisi depan dan berbelok ke samping bertemu dengan semak belukar yang menyeramkan.

Zoe melihat Kate duduk dikursi tempat wanita itu pertama duduk. “Bagaimana? Apa terjadi sesuatu diluar?” tanya Zoe yang awalnya asyik dengan ponsel kesayangannya dan sekarang menatap Kate. Kate terdiam sambil menaruh kameranya, “Hm… lumayan,” dan seketika wajahnya bersemu merah menahan tawa mengingat dirinya yang benar-benar bertingkah bodoh dan seenaknya didepan Sam. “Kau tahu? Max… Senior kita itu mempunyai seorang adik lelaki. Ia membawanya kemari, kabarnya adiknya tersebut terlalu cuek dan meremehkan acara seperti ini sehingga sekarang ia hilang entah kemana. Yang bertahan untuk senantiasa menghargai acara ini hanya Max saja. Dan.. kau tahu nama adiknya itu? Ada unsur jepangnya! Namanya Sam—“

“Samuel Ozuru,”

“Bagaimana kau tahu? Kau bertemu dengan Samuel?”

“Aku itu mind reader,”

Zoe memampangkan mimik datar dengan mata yang tiba-tiba sama datarnya dengan mulut. Benar-benar datar.

***

“Aku benar-benar lelah!” komentar Kate dengan langkah lunglai memasuki apartemennya. Tubuhnya seakan remuk karena seharian ini tubuh bahkan matanya belum beristirahat. Waktu dan jadwal seolah tidak pernah membiarkan wanita sibuk ini beristirahat. Namun apa daya, ia harus menuntasi 2 pekerjaan dan 1 pendidikan sekaligus dalam 2 tahun kedepan. Selepasnya, jadwal ia untuk bekerja akan semakin renggang dan waktunya untuk beristirahat akan semakin lama. Kate tiba-tiba tersenyum membayangkan kemungkinan-kemungkinan menyenangkan itu terjadi dalam hidupnya. Sekilas ia melirik jam dinding yang berada di dekat meja makan dengan 2 kursi tinggi dan sebuah meja yang menyatu dengan rak-rak makanan untuk memasak. Kate menggeleng-geleng saat ia baru sadar bahwa sekarang jam 1 dini hari. Itu gila, belum pernah dirinya pulang selarut ini. Dengan cepat, Kate berganti pakaian yang sudah ternodai oleh beberapa tetes kopi yang tadi ia minum menjadi pajamas bergambar bunga matahari. Sungguh, ia tidak bisa membayangkan bagaimana reaksi teman-teman atau sahabatnya Zoe jika melihat Kate memakai pajamas bunga matahari ini. Sekarang tujuannya hanya satu, yaitu tidur. Ia berharap saat fajar menjelang, tubuhnya sudah terisi penuh oleh tenaga dan rencananya berkeliling Paris sebelum ‘perpisahan’ berjalan lancar.

Jam sudah menunjukan pukul 10 pagi dan wanita dengan pajamas bunga matahari ini masih meringkuk didalam bed covernya. Matahari bersinar lumayan terang dan mampu menghangatkan gagang pintu di dinginnya udara musim salju. Semalam tidak ada hujan salju, langit bersih tanpa awan. Bahkan, sekarang pun tidak ada hujan salju seakan salju-salju itu tahu bahwa salju yang menutupi jalanan sudah 5 senti tebalnya. Hingga beberapa menit kemudian, wanita itu menggerakan kelopak matanya, terbangun. Perlahan ia duduk, namun ternyata tubuhnya terjatuh. Sikutnya membentur meja kecil tempat lampu tidur bertegangan kecil disimpan. Wanita itu… Kate. Ia meringis kesakitan sambil mengelus-elus siku kanannya dan berusaha berdiri. Ia melihat jam dinding yang ada didekat macbook miliknya. “Sudah jam 10 ternyata,” gumamnya lalu memaksakan kakinya melangkah menuju dapur. Ia harus minum air mineral untuk membuat tenggorokannya tidak serak. Setelah meneguk segelas air mineral, ia bergegas mandi dan bersiap-siap.

Beberapa perlengkapan musim dingin, baju dan keperluan-keperluan yang tidak ia butuhkan saat perjalanan—diperlukan saat sampai di tempat tujuan, ia masukan ke dalam koper besar berwarna merah. Tidak lupa beberapa komik yang selalu menjadi temannya selain kamera ia masukan juga. Ia sudah menyiapkan tekadnya untuk tinggal di negara yang beribu-ribu mil jauhnya dari Paris bahkan dari setahun yang lalu saat rencananya tertunda karena pesuruh menyeramkan yang selalu menyuruh Kate untuk memastikan ini-itu dalam waktu singkat. Panggil pesuruh menyeramkan itu sebagai bos. Kate menghela nafas saat melihat foto Polaroid yang ia ambil tadi malam bersama Zoe dan… Sam. Ya, Kate sempat berfoto berdua bersama Sam setelah ia berhasil membujuk pria itu untuk bertemu dengan Zoe dan teman-teman mantan model lainnya. Sepertinya, itu akan menjadi pertemuan terakhirnya dengan Sam, tapi tidak masalah bertemu secara tidak sengaja dan bahkan ia belum tahu bagaimana Sam sebenarnya. Ia mengambil 2 foto Polaroid-nya dan ia masukan ke tas ransel berwarna putih dan pita polkadot pink didekat kancing tas tersebut. Tas ranselnya itu hanya berisi foto Polaroid, dompet, passport, lip balm dan sebagian komik dari beberapa komik yang ia bawa dalam perjalanannya. “Paris…,” gumamnya sambil menghentikan apa yang sedang ia kerjakan. Sekarang…

Advertisements

Diterima Apa Adanya Kok

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s