Final Page

A Year Ago

Bandung, 30 Desember 2012

Dipaksa itu tidak pernah membuat semuanya menjadi lebih baik, tapi tidak membuat sesuatu menjadi semakin buruk pula. Pasti ada alasan untuk sebuah paksaan ikut liburan keluarga besar dengan anggota yang mencapai angka lebih dari 10. Terlalu banyak? Ya, aku akui itu. Aku bukan anak kecil, bukan juga orang dewasa. Aku butuh teman, teman dengan umur sebaya atau setidaknya hanya berbeda 1-3 tahun dariku selama perjalanan ini.

Tapi nyatanya, aku dikelilingi bocah-bocah ingusan berisik yang terlalu mudah menangis. Lucu memang, tapi mereka hanya bisa aku pandang dari jauh karena jika aku sudah dekat dengan mereka, maka akan sangat susah untuk kembali sendiri. Orang-orang yang sekiranya sebaya denganku baru akan pergi sore nanti, itu berarti masih ada 5 jam lagi sebelum kedatangan mereka.

Jadi, disinilah aku terdampar. Duduk satu mobil bersama kedua orang tuaku, sepasang orang tua lainnya yang aku panggil sebagai ‘Om’ dan ‘Tante’ serta anak tunggal mereka yang tidak bisa lepas dari gadget-nya padahal ia baru berumur 8 tahun. Daritadi aku mencari lagu yang enak untuk didengar, tapi backsound game yang sedang dimainkan bocah disampingku ini selalu berhasil menembus headset padahal aku sudah memintanya untuk mengecilkan volume. Backsound menyebalkan itu membuat lagu favoritku pun tidak enak untuk didengar.

Masih tersisa 3 jam perjalanan lagi untuk bisa sampai Bandung karena rombongan ini masih harus menjemput rombongan lain yang tersebar di daerah Depok, Bogor dan Bekasi. Tapi sialnya, sampai sekarang aku belum bisa tenang karena satu bocah disampingku ini.

“Kak Rei, kecilin dong volume lagunya. Kedengeran banget sampai luar.” Protes bocah disebelahku ini setelah mem-pause gamenya, dan aku berharap selalu seperti itu. “Lo juga volume gamenya terlalu kenceng. Berisik, makannya gue setel lagu kenceng-kenceng,” jawabku, yang aku baru sadar bahwa caraku berbicara tadi terlalu kasar untuk bocah ingusan disebelahku ini. Alih-alih menjawab atau berhenti bermain, ia malah mendengus dan memperbesar volume game-nya lalu kembali bermain seakan hanya ada dia di mobil ini.

Anehnya, tidak ada satu orangpun yang protes. Gila, ini benar-benar gila. “Elisa, kecilin volumenya.” Akhirnya, sebuah protes keluar dari mulut mama yang duduk di deretan tengah mobil keluaran Nissan ini. “Ya, tante.”dengan berat hati, bocah disampingku ini mengecilkan volume gamenya. Dalam hati aku tertawa puas melihatnya. “Kurang kecil,” tambahku setelah ia mengurangi sedikit volume gamenya. “Terserah aku dong Kak.”

Akhirnya aku merebut gadget gepeng lebar dari tangannya dan mengecilkan volume sampai benar-benar tidak ada suara keluar dari sana. Setelah sadar ada lapisan tipis bening yang mulai menyelimuti kedua matanya, aku buru-buru mengembalikan gadget itu dan menatap keluar, pura-pura tidak terjadi apa-apa hingga ia mulai menangis. Tamatlah riwayatku.

***

            “Bandung dulu nggak semacet ini ya,” suara mama membangunkanku. Ditambah bunyi klakson yang samar-samar terdengar dari luar. Aku melihat sekitar, rata-rata mobil disini berplat sama seperti mobil yang sedang aku dan keluargaku gunakan. Baru kali ini aku sadar bahwa mobil-mobil dari kota yang sama sepertiku sudah berhasil membuat Bandung menjadi sangat padat daripada biasanya.

“Kebanyakan plat B ya,” tambah papa, entah sadar atau tidak bahwa mobil yang sedang disetirnya ini berplat B juga. “Kita juga B kan,” ujar Tante Yurin, mama dari bocah gila gadget bernama Elisa yang sekarang sedang tidur. “Tapi kita nggak tiap minggu kesini, jadi nggak perlu merasa.” Komentar papa yang dari nada bicaranya, sudah bisa tercium bau kekesalan disana. Lalu, kesunyian kembali menyelimuti mobil ini.

Bandung tidak banyak berubah, rupanya. Sekarang lahan kecil di pinggir jalan sudah ditutupi tanaman berbagai jenis dan beberapa trotoar yang setahun lalu tidak jelas bentuknya sekarang sudah ditata sebagus mungkin. Mengingat keadaan setahun lalu, wajah seseorang kembali terbayang di pikiran. Seseorang yang bahkan aku tidak tahu namanya tapi setahun yang lalu orang tua kami berbincang layaknya teman lama padahal baru bertemu saat itu juga.

Ingatanku semakin menjadi saat mobil ini melewati lapangan Sabuga, tempat saat pertama kali orang tuaku dan orang tua gadis yang tidak tahu namanya siapa, bertemu. “Gimana kabar Pak Bena eh… Pak siapa ya namanya?” gumam mama. “Pak Beno ma,” aku mengoreksi perkataan mama. “Ah iya! Pak Beno, orang yang ngobrol sama kita tahun kemarin di lapangan ini. Iya kan, Rei?”

“Iya ma.”

“Oh, papa inget kayaknya. Waktu itu ada anaknya juga, perempuan.”

“Iya, mukanya judes banget. Mama nggak suka.” Tiba-tiba raut wajah mama pun menyiratkan ketidak sukaan. “Untung dia nggak gaul sama kamu, Rei. Nanti yang ada kalian perang tatap-tatapan,” komentar papa lalu terkekeh. Aku diam, merasa tidak perlu merespon kalimat papa tadi. “Tapi kalo diinget-inget, mukanya mirip sama kamu lho, Reinaldo. Sama-sama juteknya,” ujar mama lalu tersenyum lebar kearahku, yang aku balas dengan tatapan datar.

Sebenarnya, beberapa hari sebelum aku bertemu dengan gadis jutek itu dan kedua orang tuanya di tempat lari, aku sudah bertemu dengannya terlebih dahulu. Kita berdua sama-sama dalam keadaan kacau, tapi rasanya gadis itu lebih kacau karena ia bahkan tidak ingat namanya. Tapi, tidak ada yang tahu perihal kejadian itu selain diriku dan 3 orang teman yang sekarang sedang ada di Bali, kembali melaksanakan ritual penghabisan 7 malam akhir tahun di tempat remang-remang dengan berbagai jenis minuman. Tahun kemarin, aku bertemu gadis itu di malam ke-6 ritual kami.

Akhir tahun ini, aku jadi ingin bertemu dengan perempuan yang kata mama memiliki wajah jutek sama sepertiku. Entah ia masih mengingatku atau tidak, tapi kali nanti jika bertemu aku akan menanyakan namanya, aku akan memastikan kita bisa menjadi teman. Sederhana, bukan? Tapi aku tahu hal sederhana seperti itu tidak akan mudah untuk menjadi kenyataan. Jadi, aku bertekad untuk berhenti berharap dan kembali menikmati kemacetan akhir tahun Kota Kembang ini sambil membiarkan memoriku memutar ulang kejadian tahun kemarin di tanggal yang sama seperti hari ini.

***

Bandung, 30 Desember 2011

            Aku memijat kening yang rasanya seperti dipukul-pukul benda keras, ditambah lambung yang tidak bisa diajak berkompromi karena daritadi aku selalu merasa mual. Kali ini rasanya seperti aku akan memuntahkan semua organ-organ dalam tubuh agar tidak merasa sakit lagi. Padahal, aku sudah berhasil menghindari minuman beralkohol selama 5 hari terakhir tapi di hari ke-6  ritual ketiga orang paling kampret sedunia ini membuatku ingin muntah. Semua gara-gara aku kalah dalam permainan truth or dare karena aku memilih dare.

            Tantangannya cukup sulit untukku, yaitu merayu perempuan sampai perempuan itu mau duduk bersamaku dan ketiga temanku ini. Karena aku tidak biasa merayu perempuan, jadi aku  gagal. Sebagai hukuman, mereka menutup mataku dan memaksaku minum segelas vodka. Dan seperti inilah aku sekarang, duduk menopang kepala yang terasa lebih berat dari biasanya selagi menunggu ketiga temanku selesai menumpahkan emosi mereka lewat tarian tidak jelas gerakannya. Seharusnya aku bisa menari bersama yang lain dan pura-pura mabok, tapi hari ini adalah hari pertama aku minum minuman beralkohol, jadi, beginilah akhirnya.  

            Tiba-tiba seorang gadis menidurkan kepalanya di meja bar yang panjang dengan posisi kepala melihatku. Rambutnya yang terurai bebas melewati bahu itu terlihat berantakan. Ia lalu mengangkat kepalanya, tersenyum tipis dengan mata sayu dan hidung merah. “Hai,” katanya. Aku mengulum sebuah senyuman, “Sama-sama pusing, hah?” tanyaku. Ia mengangguk-angguk, “Pusing banget.” Jawabnya. “Kenapa ada disini?” aku membuka percakapan terlebih dahulu—sebuah hal yang tidak biasa aku lakukan. Ia terkekeh sebentar sebelum menjawab pertanyaanku. “Stress. Lo sendiri?”

            Aku mengedikkan bahu, “Nasib.”

            Gadis itu lalu tertawa dan pindah duduk ke bangku disebelahku. “Umur lo berapa sih? Nasibnya sial banget harus sampai kesini,” tanya gadis disampingku ini. Nafasnya terlalu bau alkohol. “Umur lo berapa emang?” aku bertanya balik, tidak mudah untukku memberi tahu sesuatu pada orang yang tidak aku kenal. “Tujuh belas.” Jawabnya kalem. “Ternyata nasib lo lebih sial daripada nasib gue.” Komentarku, sudah tidak peduli apakah gadis itu akan merasa tersinggung atau apa. Omong-omong, umurku sama dengan gadis ini.

            “Nasib gue emang nggak pernah bagus dari gue lahir.” Tiba-tiba suasana berubah menjadi canggung. Tidak terlihat senyum atau cengiran konyol seperti detik detik sebelumnya. Lalu ia beranjak dari duduknya, aku buru-buru menahannya. “Bentar. Nama lo siapa?” ia tidak menatapku dan juga tidak memberontak karena aku mencengkram tangannya. “Nama gue… Nama gue siapa ya.” Sedetik setelah itu, ia tertawa lepas. Melihat seorang gadis seperti ini membuatku takut, lebih takut daripada aku melihat waria. Akhirnya, dengan berat hati aku lepaskan cengkramanku, membiarkan gadis itu pergi dan lenyap dalam kerumunan orang-orang pencari kesenangan.

***

Kumpul bersama keluarga besar tidak terasa menyenangkan seperti dulu. Setelah kepergian kakak ke Eropa untuk melanjutkan studinya disana 5 bulan lalu, aku merasa sebagian kecil dari hidupku pun ikut pergi bersamanya. Beberapa menit lagi, keluarga besarku ini akan pergi ke restoran di daerah Dago, yang menyajikan pemandangan seluruh Kota Bandung pada malam hari tapi tidak ada tanda-tanda mama dan ibu-ibu lainnya siap untuk pergi. Aku sudah duduk di ruang tamu sejak 10 menit yang lalu, menunggu para ibu-ibu selesai dandan. Heran, kenapa butuh waktu yang sangat lama hanya untuk dandan makan malam?

Tiba-tiba seseorang memencet bel rumah. Aku tidak merasa harus membukanya karena pasti Mbak Put akan membukakannya. Hening sesaat, tidak ada tanda-tanda Mbak Put berjalan untuk membukakan pintu. Lalu, bel rumah kembali berbunyi. Kali ini lebih panjang dari pada yang pertama. Akhirnya aku mengalah pada egoku, membiarkan kaki ini berjalan untuk membukakan pintu pada orang tidak sabaran diluar rumah.

Aku membuka daun pintu, melihat seseorang berdiri di depan pagar tinggi rumah ini. Ia terlihat sebagai siluet dari tempatku berdiri. Aku berjalan mendekat, “Ya?” tanyaku saat sudah tersisa beberapa langkah dari pagar. “Ada titipan.” Ujar sebuah suara seorang perempuan lalu aku melihat piring besar tertutup beberapa lembar tisu ditangannya.

Aku buru-buru membuka pagar dan menerima piring besar itu. Seorang gadis dengan rambut yang diikat berantakan lalu mengangkat kepala untuk menatapku, dan saat itu keningnya berkerut heran.  “Eh, ini titipan dari keluarga Soemohardjo,” katanya. Aku mengangguk-angguk, berusaha terlihat kalem padahal otakku sedang berusaha mencerna arti momen dimana perempuan ini menatapku heran. “Makasih.” Dan perempuan dengan rambut diikat berantakan itu langsung pergi begitu saja.

Ada satu pertanyaan besar di pikiranku, apakah orang-orang disini masih senang menyebutkan nama marga keluarga mereka daripada menyebutkan nama Ayah atau Kakeknya? Itu sebuah tradisi yang nyaris hilang, menurutku. Dan melihat ada yang masih mempertahankan nama marganya seperti tadi membuatku mengaca. Lagipula, ternyata keren juga menggunakan nama marga. Sepertinya aku harus mulai menggunakan marga saat perkenalan atau apa.

“Itu apa Rei?” tiba-tiba kakek—yang entah sejak kapan sudah duduk di teras, melihat heran kearahku. “Titipan, dari keluaga Soemohardjo.” Jawabku, merasa sedikit geli saat menyebut marga seseorang karena aku tidak pernah melakukan hal seperti itu sebelumnya. “Oh, makanan ya? Dari tahun kemarin selalu seperti ini ya keluarga Pak Soemohardjo itu.” Gumam kakek. Aku mengangguk-angguk sekilas dan berjalan masuk. “Itu apa Kak?” tanya Tante Luna, ibu-ibu yang pertama kali selesai dandan. Aku salut dengannya.

“Titipan dari tetangga.” Jawabku, yang hanya mendapat anggukan dari Tante Luna. Aku menaruh piring besar ini di meja makan lalu mengaca sebentar di kaca besar yang sengaja ditaruh dekat meja makan supaya ruangan ini lebih terlihat besar, kata nenek. Tataan rambutku sudah hampir hancur karena menunggu para ibu-ibu selesai berdandan. Aku lantas menarik rambut agar kembali ke atas, setelah sampai di restoran nanti, tidak peduli apakah rambutku berantakan atau tidak, yang penting saat pergi harus rapi.

“Udah ganteng, Rei! Centil banget sih cowok pake dandan segala,” komentar Hanna yang sudah berdiri dibelakangku dengan segelas minuman ditangannya. Aku terkekeh menanggapinya, “Biar makin ganteng.” Ujarku. Hanna, perempuan itu seumuran denganku. “Ayo pergi!” tidak lama setelah aku merapikan tataan rambut, dua kata yang aku tunggu-tunggu daritadi terucap juga oleh Om Retno.

***

Bandung, 31 Desember 2012

Acara makan malam sekeluarga tadi malam berjalan lancar, nanti malam kami berencana untuk mengadakan pesta bakar-bakar kecil-kecilan di halaman rumah daripada bergelut dengan macetnya Kota Bandung di malam tahun baru. Pagi ini aku sudah bersiap untuk olahraga, mengingat udara disini lebih segar daripada udara Ibu Kota. Aku tidak akan olahraga sendiri, tentunya. Ada Gyfon, Hanna dan Wildan. Dari kami berempat, yang paling muda adalah Gyfon, usianya baru 15 tahun.

Sebenarnya, alasan pribadi aku olahraga pagi adalah, aku ingin melihat perempuan yang tadi malam mengantarkan titipan. Sekedar melihat ya, tidak lebih—walaupun aku sadar hal itu benar-benar sebuah kebohongan. Aku jelas-jelas ingin berkenalan dengannya, berteman dengannya, jadi aku punya teman di Bandung. Walaupun lagi, aku tahu hal yang baru saja aku sebutkan itu merupakan kebohongan—lagi. Siapa sih, laki-laki yang tidak ingin berpacaran dengan perempuan tadi malam? Lagipula, sepertinya kita memang pernah bertemu.

Aku memasang headset, membiarkan lagu Tennis Court dari Lorde ini mengalun. Yang lain sudah lari duluan, aku sengaja mengulur waktu agar misiku untuk melihat perempuan tadi malam tidak terganggu. Setelah memastikan Wildan, Gyfon dan Hanna tidak terlihat di jalanan, aku mulai berlari, memperhatikan setiap rumah yang ada. Sudah bertahun-tahun aku menghabiskan malam tahun baru di komplek ini, tapi baru pagi ini aku sadar bahwa rumah-rumah disini bentuknya beragam dan sangat menarik.

Pantas saja nenek dan kakek enggan untuk pindah dari rumah besar yang sekarang menjadi basecamp keluarga setiap ada acara tahunan. Karena rumah mereka pun tidak kalah menariknya, hanya saja terlihat lebih tua umurnya dari rumah-rumah disekitar rumah mereka. Lalu aku melihat seseorang keluar dari sebuah rumah, dengan rollerblade di kakinya. Ia hanya sendiri, ia pun tidak memakai helm atau pun alat pengaman lainnya. Aku yakin itu perempuan yang tadi malam.

Diam-diam aku tersenyum, akhirnya keinginanku untuk melihatnya kembali tercapai. Dan baru kali ini aku yakin bahwa ia memang perempuan setahun lalu. Aku berusaha mempertipis jarak diantara kami, ia menutup kedua telinganya dengan headset putih, tampak tidak sadar bahwa ada orang yang daritadi mengawasinya hati-hati. Sekarang, perempuan itu duduk di trotoar, tepat di lapangan komplek. Tempat berbagai jajanan khas pagi dipamerkan sekeliling lapang. Rata-rata orang yang ada disini adalah penghuni komplek.

Aku pura-pura tidak melihatnya, lalu berjalan lewat didepannya, berharap ia menghentikan langkahku dan berbicara panjang lebar layaknya teman lama. Tapi, saat aku jalan dihadapannya, tidak ada tanda-tanda ia mengenaliku atau apa. Usaha pertamaku gagal. Akhirnya aku menghampiri Gyfon, Hanna dan Wildan yang sedang duduk dengan bulir keringat keluar dari kening mereka.

“Lama banget lo Rei, kita udah kecapean kayak gini.” Komentar Wildan sambil mengipas-ngipaskan handuk kecilnya. Aku mengedikkan bahu, “Gue nggak pengen capek kayak lo semua jadi pelan-pelan, yang penting gerak.” Ucapku sekenanya. Aku memilih tempat duduk yang bisa terus melihat perempuan rollerblade itu dengan mudah. “Nanti siang kita beli kembang api yuk.” Ajak Gyfon sesaat setelah bubur ayamnya datang. Disusul dengan bubur milik Hanna dan Wildan. “Belum ada yang beli?” tanyaku, heran ternyata belum ada yang beli benda paling penting untuk tahun baru itu.

Ketiga saudaraku ini menggeleng sambil melahap buburnya. Tiba-tiba ponselku berbunyi, menandakan ada telepon masuk. Lalu, aku mendapati nama ‘Tronton’ di layar ponsel. Aku memencet tanda hijau di layar lalu menempelkan ponsel ke telinga kanan, “Ada ap—“

“LO TAU REI? KITA DISINI KETEMU LAGI SAMA CEWEK YANG WAKTU ITU GUE TAMPAR WAKTU RITUAL DI BANDUNG.”

Aku buru-buru mengelus telinga kananku sambil beranjak menjauh dari tempat bubur. “Jangan teriak bisa nggak?”

“Ya sori deh, tapi gue beneran… Si cewek itu juga masih inget sama gue ternyata.”

“Siapa sih orang yang bakal lupa sama orang yang pernah nampar mereka? Terus? Lo ngapain? Dia ngapain? Nampar lo balik?”

“Lebih parah!”

Aku mengerutkan kening, “Ngancem mau ngebunuh lo?”

“Nggak, dia minta nomer hape gue Rei! Nggak tahu gue harus seneng atau sedih.” Aku terkekeh mendengar berita tersebut. “Seneng lah! Lagian ceweknya juga cantik, kan?” Aku mendengar Gerald—yang sering aku panggil Tronton itu tertawa disebrang sana. “Lo gimana? Ketemu lagi sama cewek yang waktu itu?” Aku terdiam, tidak kunjung menjawab pertanyaannya. “Rei?”

“Oh, iya kayaknya. Dia lagi duduk nggak jauh dari tempat gue berdiri, tapi gue nggak tahu itu beneran dia atau nggak soalnya dia sama sekali nggak ngasih tanda bahwa dia kenal gue.” Jelasku lalu menghembuskan nafas pelan. “Jangan kecewa gitu dong, bro! Masih ada seribu cara lain buat kenal sama dia! Lo pengen kan kenal sama cewek itu?” Aku mengangguk—yang jelas-jelas tidak akan bisa dilihat oleh Tronton. Bodoh sekali aku.

“Mau.” Jawabku akhirnya. “Dengerin rencana gue. Tapi lo nggak boleh gugup! Deal? Dengerin loh ya,” Lalu, aku mendengarkan rencana yang diberikan Tronton, tidak sadar bahwa daritadi perempuan yang ingin aku ketahui namanya sedang berdiri beberapa langkah dari tempatku berdiri. Sial. Aku buru-buru menghentikan sambungan telepon, lalu menatap perempuan didepanku ini gugup.

“Sori, ini punya lo?” tanyanya sambil menyodorkan sebuah headset. Sebentar, harusnya headset itu ada tergantung di leher karena aku melingkarkannya bak sebuah handuk kecil. Aku mengambil headset dari tangannya dan mengamatinya sebentar. “Iya, nemu dimana?” tanyaku. “Tadi, pas lo lewat di depan gue terus ada sesuatu jatuh. Taunya itu,” jelasnya. Aku mengangguk-angguk lalu menunduk, merasa bodoh sebagai lelaki karena tidak bisa menemukan topik lain. Ayo berpikir Rei, berpikir!

Akhirnya sebuah pertanyaan terlintas dipikiranku, “Eh, taun kema—“ saat itu juga, aku baru sadar bahwa perempuan rollerblade tadi sudah tidak ada dihadapanku. Aku menyapukan pandangan ke sekeliling, tapi tidak menemukannya. Apakah ia yang terlalu cepat hilang atau aku yang terlalu lama berpikir? Sial, aku kehilangan jejaknya. Tapi, kenapa pula aku merasa harus kenal dengannya?

***

Sisa 2 jam menuju pergantian tahun, aku baru selesai menyiapkan arang yang sekarang sudah menghasilkan api kecil. Kami akan bakar-bakar malam ini. Sekarang tugasku adalah mencari perempuan tadi pagi. Aku keluar pagar, melihat sekililing. Sudah ada beberapa keluarga yang menyalakan kembang api tidak jauh dari rumah nenek dan kakek. Lalu aku duduk di trotoar, ingin sekali aku berkenalan dengan perempuan itu.

Tidak lama, sepasang kaki dengan sepatu kets putih diam dihadapanku. Aku mendongak untuk melihat siapa pemilik sepatu itu. “Lo orang yang tahun kemaren ngobrol sama gue di tempat itu kan?” tanyanya datar. Detak jantungku tiba-tiba berdebar lebih kencang dari biasanya. “Lo orang yang tahun kemaren nanyain nama gue kan?” tanyanya lagi. Aku berdiri, ia mundur beberapa langkah untuk menciptakan jarak diantara kami. “Lo orang yang tadi pagi nemuin headset gue kan?” akhirnya aku melemparkan sebuah pertanyaan balik padanya.

Ia tersenyum tipis lalu mengangguk. “Nama gue Belleza. Maaf lancang, tapi tolong jaga apa yang gue lakukan di tahun lalu,”

Aku mengangguk-angguk, merasa lega karena ternyata berteman itu bisa semudah ini. Apalagi, aku tidak perlu repot-repot memulai percakapan karena ia yang memulai terlebih dahulu. Aku mengedikkan bahu, “Oh, gue Rei. Itu selalu jadi rahasia, selalu jadi sesuatu yang nggak akan gue ulangin juga.” Ia mengangguk sekilas, “Makasih ya. Happy new year, new friend!” katanya lalu berbalik. Kali ini aku menahan tangannya, “Tahun baruan bareng gue?” tawarku. Ia melihatku sekilas lalu mengedarkan pandangan ke teras rumah nenekku dan menggeleng.

“Banyak orang nunggu lo di dalem kayaknya. Besok kita bisa ketemu lagi,”

Aku berusaha setengah mati menahan agar tidak ada kekecewaan yang kuperlihatkan padanya. “Besok? Oh… Oke. Kita bisa ngobrol lagi kan, Belleza?” tanyaku, yang lebih terdengar seperti permintaan. Ia mengangguk sambil tersenyum lebar, “Sampai ketemu besok ya, Rei!” katanya lalu melepaskan peganganku halus dari tangannya. Setelah itu, aku masuk rumah dengan berat hati. Padahal, aku ingin sekali menghabiskan malam tahun baru ini dengannya.

30 menit terasa begitu lama, orang-orang sedang sibuk dengan makanan yang mereka bakar. Sedangkan aku, Hanna, Gyfon dan Wildan menyiapkan kembang api berbagai jenis untuk diluncurkan. Serasa bersaing dengan tetangga-tetangga lain yang menghabiskan malam tahun baru mereka di rumah.

30 menit lagi terlewati, tapi kali ini lebih cepat daripada 30 menit sebelumnya. Lalu 30 menit setelah itu, aku sudah menghabiskan 2 potong bratwurst besar. Terhitung 15 menit menuju pergantian tahun, aku dan anggota keluargaku yang lain sudah siap di halaman depan, beberapa kembang api sudah siap diluncurkan. Saat tersisa 5 menit, Om Retno berseru. “AYO MAKE A WISH SEMUANYA!” lalu aku berbisik di dalam hati, berharap permintaanku ini terkabul.

Waktu sudah menunjukan pukul 00:00, kami semua berseru “Happy new year!” tapi permohonanku belum juga menjadi kenyataan. Beberapa orang kembali ke rumah, aku sengaja duduk di trotoar untuk menunggunya sambil menelungkupkan kepala dibalik tangan. “Happy new year.” Bisik seseorang. Aku buru-buru mengangkat kepala, lalu mendapati gadis itu berjongkok tepat didepanku dengan senyum lebar diwajahnya. Permintaan tahun baruku terkabul.

***

Bandung, 31 Desember 2013

Aku kembali lagi kesini, ke tempat setahun lalu aku mengenal Belleza. Malam ini terasa lebih spesial daripada malam-malam biasanya, karena hari ini genap satu tahun aku mengenal Belleza. Perempuan ini tidak banyak berubah, hanya aku mengetahui bahwa ternyata ia cerewet. Beberapa menit lagi pergantian tahun, aku sudah menyiapkan sesuatu untuknya.

“Rei, foto dulu sini bareng gue.” Katanya dengan kembang api menyala di tangan. Aku setengah berlari ke arahnya, lalu meminta Wildan untuk mengabadikan foto kami berdua. “Satu… Dua…” tept saat itu, aku merangkulkan tanganku di pinggang perempuan ini, membuatnya buru-buru melihatku. Hasil fotonya pun begitu.

Tepat saat jam 00:00, aku berbisik ditelinganya. Sesuatu yang tidak pernah aku ucapkan pada semua gadis yang pernah aku dekati. Sesuatu yang mengikat kami berdua, entah untuk berapa lama, tapi aku berharap selamanya. “Kita udah jadi pasangan, kan?” tanyaku memastikan. Belleza terkekeh lalu memukul pundakku, “Jangan terlalu gugup kayak gitu dong!”

Dan, halaman terakhir di tahun 2013 ini terisi sempurna dengan nama Belleza didalamnya.

 

Advertisements

Diterima Apa Adanya Kok

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s