Paintball

#nowplaying Angin Pujaan Hujan – Payung Teduh.

Rasanya gak klop kalo nulis tanpa denger lagu.

Oke jadi gini ceritanya, hari Senin tanggal 1 Desember kemarin kelas gue ke Cikole buat main paintball.

1

2

Setelah jalan menyusuri hutan pinus dan arena paintball, kita di kasih instruksi menggunakan senjata. Ini kali kedua gue main paintball, pertama kali main itu di Katumiri pas kelas 6 SD dan gue jaga kandang terus sampe mampus hahay. Bedanya, yang di Katumiri selain dikasih seragam, dikasih rompi anti peluru. Kalo yang di Cikole cuma dikasih seragam yang gombrangnya kayak apaan tau tanpa rompi anti peluru.

Btw, sekarang Katumiri masih se-eksis dulu gak sih? Yang paling gue sering main di Katumiri itu adalah ATV, flying fox sama jalan di atas tali (bukan sirkus) dengan ketinggian sekian meter di atas permukaan tanah. SEREM BOR. Oke balik ke topik.

Akhirnya kita berhitung satu-dua-satu-dua sampe terbagilah 2 tim, Hitam dan Kuning. Gue Tim Hitam, menggunakan helm hitam. Mainnya terbagi menjadi 2 ronde, dengan masing-masing ronde dikasih 20 peluru. Jadi kita punya jatah 40 peluru.

Masuk ke arena, gue degdegan setengah mampus sampe si wasit(?)nya berhitung. “TIGA… DUA… SATU!” Tim Hitam gak punya rencana, akhirnya yang cowok keluar satu persatu dari kandang. Sedangkan kita cewek-cewek diem dulu, menenangkan diri sampe siap. Gue keluar dari kandang, lari ke balik pohon pinus. Gak lama kedenger suara peluru pecah di pohon yg gue jadiin tempat sembunyi. Karena muak ditembakin terus, gue lari ke balik seng terus duduk-dudukan disana. Gak lama, terdengar seng tempat gue sembunyi ditembakin. Akhirnya gue tembakin balik para orang berhelm kuning di sebrang sana. GAK ADA YANG KENA. Sebel.

Lama gue sembunyi di balik seng sambil nembakin tim kuning, helm udah mulai berkabut dan gue pun ngerasa kepala gue kena peluru, akhirnya gue angkat senjata. Angkat senjata sambil jalan keluar arena. Peraturan untuk angkat senjata adalah: 1. Ketembak, 2. Ditodong musuh (padahal gak ditembak), 3. Helm fogging, 4. Peluru abis padahal belum ke tembak.

Blablabla akhirnya ronde kedua di mulai. Ditambah 20 peluru, padahal gue masih punya peluru banyak dari ronde pertama.

Ganti kandang, dan ternyata di area tim kuning itu tempat sembunyinya jauh-jauh. Gue sembunyi di balik pohon, nembakin si A yang lagi nembakin orang lain. Ternyata nembakin dia adalah pilihan yang salah. Gak lama kemudian gue yang ditembakin sama dia. Pas abis nembak dia (yang gak kena) dia nembak balik dan… SIKU GUEEE. Gue meraba siku gue yang nyut-nyutan, ada kuning-kuning di tangan. Yah, gue gugur. Dengan berat hati gue angkat senjata, jalan cepet keluar arena takut kena tembak.

Hasil keluar: Tim Kuning menang.

Peluru gue masih cukup banyak. Akhirnya di buatlah ronde ke-3. Cowok-cowok pada beli peluru. 30k dapet 20 peluru. Cewek yang tersisa tinggal gue, Icha dan Shafiya. Tim hitam 4 orang, kuning 5 orang.

Yang ini lebih seru menurut gue. Jadi kita dikumpulin di tengah arena paintball, si instrukturnya bilang “Hitungan satu dan dua lari, hitungan 3 tembak.” DEG. Disini gak ada yang gugur sampe pelurunya abis. Jadi mau kena tembak berkali-kali pun gak gugur. Akhirnya doi mulai berhitung.

“Satu…”

Gue lari, cari tempat sembunyi.

“Dua…”

Gue lari.

“Tiga!”

Gue nyampe di balik seng. Seng adalah tempat sembunyi paling aman menurut gue. Sambil menenangkan diri, gue tarik napas dalem-dalem sampe ada yang nembakin dari sebelah kanan. TELINGA GUEEE! Gue gak punya tempat berlindung kalo si lawan nyerang dari sebelah kanan/kiri/belakang. Kalo gue keluar seng, nanti ditembakin sama lawan dari depan. Dengan kondisi bagian telinga udah kuning-kuning, gue mulai nembak para lawan.

Sampe akhirnya sang instruktur bilang “Dalam hitungan ketiga tidak ada kawan. Yang asalnya kawan menjadi lawan.” Saat itu, gue otomatis ngeliat ke sebelah kiri, ada dua orang tim hitam disana. Hitungan dimulai. Salah satu dari mereka langsung lari begitu hitungan selesai. Sedangkan sisa satu lagi gak nembak gue, gue juga gak tega karena jaraknya deketan. Akhirnya gue fokus nembak ke sebrang.

Beberapa orang mulai mengangkat senjata, peluru mereka abis. Pas gue lagi jalan ke balik pohon, ada yang nembak dan itu tepat di… KELEK GUEEE. Aduh maaf frontal. Ya gak ditengahnya banget sih, tapi TETEP WEH SAKIT. Sambil nyut-nyutan gitu akhirnya gue berhadap-hadapan sama F, tinggal berdua di arena, udah saling todong senjata tapi gak ada yang nembak. Gue ga tega kalo nembak, karena jarak kita deketan. Gue mikirnya kalo dia nembak, gue tembak balik. Tapi akhirnya kita tiba-tiba sembunyi di balik pohon–tanpa ada yang nembak. Si A dari luar arena udah teriak “AYO DRIS TEMBAK!” tapi gimana atuh:(

Akhirnya kita tembak-tembakan, tapi ga ada yang kena LOL. Sampe akhirnya dia keluar, terus gue tembakin sampe peluru abis…

…dan gak kena.

Paintball pun berakhir. Dengan keadaan sakit kelek dan siku, berikut telinga udah kuning-kuning, gue pun kecapean. Rame euy (exclude sakit kelek), pengen lagi!

3

4

Kita makan di daerah Lembang, tapi yang cewek-cewek gak ikut makan, cuma ambil duit konsumsi aja hahay.

5

Homemade Sushi buatan Mama Icha yang gue gak jadi minta karena ada udangnya. Bukan, bukan karena alergi udang.

6

Nanti gue bikin ‘Rumah Makan 567’ sebagai cabang dari yang ini. Nanti pun ada menu baru namanya ‘Sa Bun Tahu’ karena ‘Sam Po’ tahu udah ada. GAK DENG, ini hanya bercandaan. Tolong jangan di anggap serius 😉

Seneng! Ya, lumayan tembak-tembakan buat melepas penat belajar /apasih. See ya next post 🙂

p.s: Jaga kelek anda saat bermain paintball.

Advertisements

4 thoughts on “Paintball

Diterima Apa Adanya Kok

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s