Tentang Mencari Yang Terbaik

#nowplaying Pulang – Float.

Bukan, ini bukan tentang mencari my other half yang entah siapa orangnya dan sedang berada di belahan dunia bagian mana. Karena waktu nggak bisa di ajak kompromi, gue makin sini makin berusaha keras untuk merombak isi pikiran dan hati. Kenapa di rombak? Begini ceritanya.

Beberapa tahun lalu, pas gue masih SD tepatnya. Saat gue masih unyil nan lucu, sebelum jadi amit-amit seperti sekarang dan pengen punya cita-cita anti-mainstream (baca: selain dokter, polwan/polisi & pilot), alm. Aki (panggilan kakek) mulai memberitahukan pekerjaannya yang terdengar SANGAT keren. Apa itu? Ahli Geologi. Mulai saat itu, gue tersihir oleh Ahli Geologi yang membuat gue dengan pedenya menjawab “Cita-citanya jadi Ahli Geologi.” tiap ditanya sama orang.

Oke, bahkan sampe SMP pun cita-cita itu terus terbayang. Bahkan gue nggak punya cita-cita utama lain selain jadi Ahli Geologi. Sebenernya banyak sih, contohnya penulis. Ah, tapi itu kan bisa jadi kerjaan sampingan, waktu itu otak gue berpikir demikian.

Pas masuk awal SMA, gue masih pede dengan Ahli Geologi itu. Semakin sini, saat gue menginjak kelas 11 semester 2, ada sesuatu yang menampar pikiran ini, membuatnya sadar akan sihir terkeren bernama ‘Ahli Geologi’. Gue lemah fisika. Pelan-pelan gue mulai sadar dari sihir itu, tapi ternyata sihirnya udah bersemayam terlalu lama, menyebabkan gue keras kepala akan kelemahan ini dan terus memaksakan diri biar gue bisa.

Kesalahan fatal gue adalah, gue nggak pernah nyari cita-cita utama lain selain Ahli Geologi. Dengan bodohnya, gue pede bilang pengen jadi Ahli Geologi, tapi gue sendiri nggak tahu seorang Ahli Geologi (selain jalan-jalan melewati gunung dan lembah beserta seribu penelitian lain) itu ngapain aja, sih? Nanti bakal kerja di perusahaan apa? Tambang? Coba sebutin nama perusahaan yang pengen kamu jadiin tempat kerja nanti! Gak bisa, gue gak bisa jawab. Bukan karena gamau, tapi emang gatau. Isn’t it pathetic?

Akhirnyaaa setelah gue pelan-pelan mengosongkan pikiran dan hati dari geologi, gue mulai cari informasi soal fakultas lain tapi tetep aja yang paling sreg di hati itu geologi. Darn it, dude. Dulu rasanya gue yang paling semangat soal kuliah tapi sekarang malah gue yang bingung mau masuk mana. Sebenernya bukan bingung, sih. Lebih ke ‘takut salah milih jurusan’.

Waktu itu, gue sempet ikut tes penjurusan dari BP*P UNP*D. Hasilnya adalah… Ya, gue emang kurang cocok buat ambil geologi. Sebenernya bisa kalo gue kerja keras, tapi apalah sekarang aja males-malesan. Katanya, kimia gue lebih bagus daripada fisika, kalo mau masuk farmasi. Nggaaaak! Gatau kenapa tapi gue dari dulu gak pernah tertarik buat kerja berhubungan dengan kesehatan-kesehatan gitu, mau Rumah sakit atau apotek, dsb. Mungkin karena gue gak suka ada di dalem gedung dengan bau obat-obatan di sekitar, apalagi kurang terkena sinar matahari. Karena salah satu passion gue adalah jalan-jalan, keliling Indonesia (jadi inget #20factsaboutme di instagram LOL). Walaupun hasil dari tes itu jangan dijadikan patokan, tapi gue tetep coba.

Lalu, darisitu gue mulai sadar diri. Sadar kalo standar gue itu gak nyampe Geologi alias geologi terlalu tinggi, sadar mungkin yang terbaik buat gue (walaupun itu sangat berat) bukan Geologi. Sadar kalo gue tetep memaksakan terus akhirnya keteteran, gimana?

Seneng sekaligus deg-degan ngeliat temen-temen yang udah keterima di swasta lewat jalur nilai rapot a.k.a pmdk. Beberapa minggu yang lalu, gue mulai nyoba daftar ke salah satu universitas swasta jurusan Ilmu Komunikasi lewat nilai rapot. Gue tipe orang yang males ikut tes (karena gamau belajar), jadi mau nggak mau gue harus keterima lewat jalur ini. *DASAR KAU PEMALAS!*. DAN hasilnya adalah….

.

.

.

.

.

.

.

.

Alhamdulillah, tapi setelah percakapan bareng Ibu tadi malem, gue gak akan ambil kesempatan itu.

Gimana sih caranya tau itu adalah yang terbaik? Gue juga belum tau. Walaupun masih ada space yang terisi oleh Geologi di hati dan pikiran ini, tapi sekarang gue udah mulai ngerasa “Ooooh jadi Ilmu komunikasi bisa kerja sebagai blablabla.” Walaupun bukan PTN, tapi ini juga udah bersyukur (walaupun ga akan di ambil).

And guess what? Most of my passion are needed there. Pelan-pelan keras kepala akan Geologi itu sirna, tapi gak bener-bener hilang.

Tentang mencari yang terbaik, kedengerannya egois banget gitu pengen apa-apa yang terbaik. Tapi ini kan terbaik untuk diri sendiri, apa itu masih egois?

…masih kayaknya. Ah, pusing.

Gue punya ide. Apa nanti cari cowok mahasiswa geologi aja ya? HAHAHA. Tidak tidak, jalan untuk cin… masih panjang, kenapa repot-repot dipikirin dari sekarang?

…apa emang harus dipikirin dari sekarang?

Btw, langit sore kan selalu bagus, tapi yang kemarin bener-bener menghipnotis gue buat mengabadikan keindahannya. Begini penampakannya:

1

KPAD memang best! Semoga sampe tua pun gak akan pindah darisini huhu. Walaupun ada kabel listrik yang ngalangin (padahal kabelnya dari rumah sendiri).

Advertisements

4 thoughts on “Tentang Mencari Yang Terbaik

Diterima Apa Adanya Kok

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s