Jangan Kode

#nowplaying New Love – Maroon 5.

Kalo banyak yang bilang bahwa cowok itu nggak bisa dikodein, berarti itu pun berlaku buat gue. Iya, gue merasa gagal jadi cewek karena gue nggak bisa dikodein. Sebenernya tergantung dalam konteks apa kode itu. Kalo masalah hati, gue paling nggak bisa dikodein. Nggak tau kenapa, rasanya gue nggak disetting untuk peka terhadap kode yang menyangkut hati manusia berisikan perasaan.

Minggu lalu, entah hari apa tepatnya, seorang cowok tiba-tiba mengirim pesan panjaaang banget dan rangkaian katanya juga udah level susah. Setelah dibaca 2 kali, gue yang masih belum ngerti langsung ngeliatin pesan itu ke sodara gue. Dia nggak bereaksi, gue nggak bereaksi. Kita emang sama, sama-sama cuek dan nggak peka. ๐Ÿ˜ฆ

Akhirnya, gue bales “Jadi apa?”

Dianya bales, “Nggak, blablablabla :)”

Tuh kan. Yaudah.

Setiap ada yang rasanya kode-kode dan gue dapet firasat itu buat gue, biasanya gue bilang ke sodara gue dulu yang notabene adalah tempat curhat paling deket karena umur kita nggak beda jauh. Abis cerita singkat, dia biasanya nanggepin, “Jangan ge-er dulu, siapa tau buat orang lain. Emang dia nggak deket siapa-siapa lagi?” Darisitulah, firasat yang gue dapet sirna. Biasanya gue langsung mikir, “Ah yaudah, masih banyak cewek ini. Kenapa harus mikir kalo itu buat gue?”

Gitu.

Rumit ya?

Nggak ah, nggak rumit kok.

Intinya, gue lebih suka apa-apa yang langsung ke intinya. Kalo suka ya bilang suka, kalo sayang ya bilang sayang. Gitu, sih. Menurut gue, malah yang nggak kode-kode itu biasanya lebih dihargai. Karena kita tahu susahnya mengutarakan perasaan itu kayak gimana, jadi mereka yang berhasil melakukannya pasti lebih dihargai. Sayangnya, dunia ini udah diselimuti gengsi, mungkin dengan ngekode itu adalah salah satu bentuk orang-orang mengungkapkan perasaannya yang udah sedikit dikontrol oleh gengsi.

Buat gue, daripada ngekode terus berujung orang yang dikodein malah nggak peka atau pengen mengutarakan langsung tapi malu, lebih mending dipendem dan mengagumi secara diam-diam. Iya, buat gue yang gitu malah manis banget. Nggak perlu kode, nggak perlu diumbar-umbar dan nggak perlu kalimat-kalimat gombal. Gue percaya, suatu saat, kesabaran dalam diam itu bakal membuahkan hasil yang nggak disangka-sangka.

Mungkin, pihak laki-laki pun ingin berusaha. Jadi mereka cenderung kasih kalimat-kalimat gombal atau kode untuk menunjukan bahwa mereka serius sama perempuan. Tapi pihak perempuan pun nggak semuanya percaya kalo itu bentuk keseriusan laki-laki. Lucu ya, permainan yang terbentuk diantara laki-laki dan perempuan itu macem-macem.

Pokoknya, jangan sampai ada lagi kode diantara kita.

Kalo mau kode pun, pastikan orang yang bakal dikodein itu peka.

Yhaaa.

Advertisements

18 thoughts on “Jangan Kode

  1. Hehehee.. “Kodenya kebaca kok, tapi maaf ya akunya aja yang pura2 oon” Hihii yaa gitu deh….

    Setuju, gengsi memang penyakit yang harus dimusnahin dari dalam diri kita. ๐Ÿ™‚

    Like

  2. Aku dl waktu sama calon suami, sempet kode2an bentar tp doi cuek aja. Trs akhire aku sholat Istikarah. Masih tanggapannya dingin. Akhirnya aku anggep reaksinya tsb sbg kode dr Alloh bahwa dia gak ada rasa ke aku. Yowes aku brusaha ikhlas. Eeeeh besokannya dia menghubungi aku n tanya kabarku. Katanya smalam abis mimpiin aku. Lhaaa…. Yg sholat Istikarah siapaaa…. Yg dikasih kode dalam mimpi siapaaaa…. Hahaha…..

    Liked by 1 person

    1. Iiii keren! Akhirnya sholat istikharah! Jadi beneran diserahin ke YME walaupun berusaha dulu kan ya sebelumnya wkwk. Lucuuu, jadi beneran suami yang sekarang itu jodohnya ya ehehe

      Like

Diterima Apa Adanya Kok

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s