Tren Kutuan Jaman SD

#nowplaying Falling – Haim.

Kayaknya semua anak SD pernah mengalami yang namanya kutuan. Penyebabnya pun macem-macem, ada yang karena temen sebangkunya, ada yang karena pake mukena temen yang udah kutuan duluan, ada yang karena baris di belakang orang kutuan dan ada yang dapet transferan kutu dari pembantunya. Pas SD kelas 1, gue pun pernah kutuan. Itu kutu pertama gue yang diasumsikan didapat dari temen yang baris depan gue. Padahal bisa jadi bukan, tapi entah kenapa gue yakinnya gitu karena pemilik rambut yang suka baris di depan gue itu udah ada kutunya duluan. Rambut dora gue waktu itu tercemar karena kutu-kutu selama beberapa minggu. Entah kenapa, setelah itu, kutu-kutu gue hilang padahal nggak pernah pake obat pengusir kutu atau semacamnya karena gue pun nggak mengenal barang gituan jaman dahulu.

Disusul serangan kutu kedua. Gue kutuan lagi saat kelas 4 dan saat itu, saudara gue yang kelas 2 juga kutuan. Kita berdua berasumsi bahwa kutu itu ditransferin dari pembantu kita. Jahat banget emang, selalu menuduh orang lain sebagai penyebabnya. Lagi, masa kutuan itu nggak bertahan lama karena kutunya langsung hilang gitu aja. Rasanya jaman SD itu, kutuan menjadi salah satu tren paling hits. Nggak afdol kalo anak SD jaman gue dan para sesepuh dulu nggak kutuan. Gue nggak tahu, apa anak SD jaman sekarang juga pada kutuan?

Yang nggak kuat baca soal kutuan ini boleh berhenti sampai disini kok, gue nggak maksa untuk baca sampai akhir.

Lanjut! Kasus kutuan ini sampai bikin gaya duduk paling hits. Dimana ada ibu-ibu yang lagi menatap kepala anak dihadapan mereka lekat-lekat sambil kerung-kerung, disitu pasti ada kutu. Pada fase itu, sang anak biasanya mainin jari mereka atau ngeluh kesakitan karena rambutnya ikut ketarik dengan cara yang kurang manusiawi. Setelah kesakitan itu, sang anak biasanya udah nggak mood untuk dicariin kutunya dan pergi.

Gue heran, kenapa kutu-kutu itu seneng banget hidup di kepala-kepala tidak bersalah anak SD? Tapi gue bersyukur karena momen diserang kutu itu hanya pas SD, kesananya aman. Mungkin, kutu pun masih baik karena jika mereka menyerang korban saat udah puber, pasti dia bakal jadi bahan omongan. Kalo SD sih kayaknya pede-pede aja kutuan karena kita tahu yang lain pun pasti kutuan.

Jorok ya.

Tapi itu kan fakta.

Sayangnya, hanya cewek yang dapet serangan kutu ini. Gue belom pernah nemu kasus cowok kutuan jaman SD-nya. Yaiya, lagian kutunya mau berkembang biak dimana kalo rambutnya nggak memadai.

Terimakasih kutu squad, kalian sudah mengukir pengalaman gatal-gatal yang tak terlupakan.

Terimakasih juga bagi yang bersedia membaca sampai akhir.

 

BHAY.

Advertisements

15 thoughts on “Tren Kutuan Jaman SD

  1. aku juga pernah kutuan. pas jaman SD jugak :))))
    itu posisi duduk anak sama ibu kalo bahasa jawa namanya “Metani” dari kata petan (atau peta) yg artinya menyusuri rambut. kira kira begitu ke sok tau an saya. mohon dimaafkan kalau ada salah. wassalamu’a’alaikum

    Like

    1. Waaah ternyata cowok pun mengalami! Aku baru tau, akhirnya ya ada cowo yang merasakan. Metani wkwk lucu masa sebutannya. Iya, aku maafkan kesalahannya walaupun gak ada (?)

      Like

  2. Haha. Postingan nostalgia. Kayaknya anak 90 an rata rata juga kutuan Mba. Saya dan satu rumah waktu itu juga kutuan. Kami mencurigai shampo bermerk Eme*ron jadi penyebab merajalelanya kutu. Eh.. Waktu udah besar, rasanya absurd juga masak kutu hidup di cairan shampo yang penuh zat aditif. *duhh deekkk.

    Like

Diterima Apa Adanya Kok

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s