Perihal Pacaran

#nowplaying Love Me Like You – Little Mix.

Mata kuliah perencanaan mengajarkan apa artinya kenyamanan, kesempurnaan sebuah perencaan yang sistematis, salah satunya adalah untuk meminimalisir dampak negatif yang akan ditimbulkan kelak. Begitupula dengan hidup ini, kawan. Selalu ada perencanaan-perencanaan entah itu jangka pendek atau jangka panjang. Sayangnya, orang-orang jaman sekarang banyak yang tidak mengerti esensi dari sebuah perencanaan. Mereka kebanyakan mengabaikan proses lama yang membuahkan hasil berkelanjutan, tapi mengagung-agungkan sebuah proses instan dengan hasil yang tidak bertahan lama.

image

Buat gue sendiri, yang seneng apa-apanya terencana alias nggak terlalu dadakan alias yang walaupun dadakan tapi masih ada spare waktu berjam-jam, perencanaan untuk sistem yang berkelanjutan itu indah. Sama halnya seperti gue yang nggak ingin pacaran bahkan belum pernah pacaran sebelumnya. Alias, gue belum punya mantan selama delapan belas tahun ini. Iya pemirsa, gue belum-pernah-pacaran.

Pertanyaan dan pernyataan yang sering gue dapet dari orang-orang yang baru kenal adalah,

“Hah serius belum pernah pacaran?” atau “Ah nggak percaya.”

Sedangkan pertanyaan dan pernyataan dari orang yang udah kenal gue banget adalah,

“Hah seorang Odis pacaran? Najis nggak pantes hahaha.”

“Yaaah Audris lagi kan pacaran.”

“Kira-kira siapa nanti yang berhasil bikin seorang Odis luluh?”

Tapi dari semuanya, pertanyaan yang paling sering muncul adalah, “Kenapa nggak pacaran?”

Terus gue tanya balik, “Buat apa pacaran?”

Diam. Bungkam. Tanpa jawaban.

Coba kasih gue jawaban realistis menurut fakta, yang bisa diterima logika, tanpa menimbulkan kerugian, kenapa gue harus pacaran?

Kalo dari gue sendiri, alasan nggak pacaran itu bukan karena suruhan orang tua atau apa, berikut beberapa alasan kenapa seorang Audris nggak pacaran:

  • Gue egois. Orang egois kalo misalkan udah memiliki sesuatu, pasti sulit untuk melepasnya gitu aja. Gue nggak bisa sembarang memiliki lantas disatu masa gue terpaksa berhenti memilikinya, gue harus ikhlas, gue harus buka hati lagi. Nggak, gue nggak semudah itu untuk membiarkan orang masuk gitu aja. Makanya, sekali gue merasa memiliki, orang itu pasti udah berkontribusi besar di hidup gue sehingga gue nggak bisa melepasnya atau bahkan merelakannya untuk orang lain.
  • Gue cemburuan. Gue nggak suka kalo orang yang gue taruh rasa itu ngungkit-ngungkit masa lalunya dimana gue nggak berperan disana. Cemburu. Emang cewek mana sih yang nggak cemburu kalau gebetannya cerita soal cewek-cewek di masa lalu mereka? Mungkin kalau masih dalam porsi wajar, itu nggak masalah. Tapi tetep aja, sebisa mungkin jangan bikin cewek kalian cemburu. Bahaya.
  • Lebih dari itu, gue nggak punya cerita serupa. Lanjutan dari poin diatas, jika kelak gebetan gue cerita soal mantan-mantan dia, gue bisa cerita apa? Ceritain mantan gebetan? Gue ingin hubungan timbal-baliknya berjalan mulus. Dimana ada satu sisi bercerita soal A, maka gue pun bisa menceritakan hal serupa walaupun nggak sama.
  • Perbaiki diri dulu aja. Iya, ini yang paling seneng untuk dibahas. Gue masih dalam tahap belajar, tahap memperbaiki diri, gue bukan cewek pintar, bukan cewek multitalenta, bukan cewek cantik, bukan cewek yang agamanya sempurna juga, tapi seenggaknya ada kemauan untuk meningkatkan kualitas diri ini. Gue yakin dan percaya kalau kelak jodoh itu adalah cerminan diri kita. Kalau misalkan diri kita baik dengan kualitas baik pula, maka jodoh kita pun akan seperti itu.
  • Nggak percayaan. Gue adalah tipe yang susah percaya sama orang baru. Gue bukan cewek yang baru PDKT 3 bulan lantas jadian. Bahkan ekstrimnya ada yang baru PDKT seminggu bahkan kurang, terus langsung jadian gitu aja. Nggak, menjalin hubungan nggak seinstan dan sebercanda itu.
  • Nggak suka terburu-buru. Kebanyakan, pasangan jaman sekarang selalu mulai dari menggebu-gebu sampai akhirnya rasa itu mulai hilang dikit-dikit. Cowok jaman sekarang nggak ngerti esensi dari sabar. Kebanyakan dari mereka tidak sabar, bahkan terlalu cepat. Gue sebagai orang santai tentu nggak suka diburu-buru.
  • Nggak menaruh harapan pada sesama manusia. Iya, sebagai manusia yang hatinya rapuh dan rentan untuk dibulak-balik, diguncang, dipermainkan, gue nggak boleh sembarang naruh harapan apalagi pada sesama manusia yang notabene hatinya pun sama rapuhnya. Yang paling aman adalah menaruh harapan pada do’a, buat gue itu adalah salah satu pengharapan paling indah. Cie.
  • Udah ah kebanyakan.

Sebenernya, gue bukan orang yang menentang pacaran. Pacaran itu udah jadi hak setiap orang, lantas kenapa juga gue menentang hak orang untuk pacaran? Gue hanya fokus sama diri sendiri kalau gue nggak ingin pacaran. Gitu aja. Gue nggak meminta pasangan-pasangan so sweet diluar sana untuk putus, sekali lagi, itu hak setiap orang. Gue nggak peduli misalkan diluar sana ada yang masih menganggap status belum pernah pacaran adalah hal yang tabu. Jangan berharap pada perempuan kayak gue, karena gue nggak bisa mereliasasikan sebuah hubungan bernama pacaran itu. Percuma, sekeras apapun perjuangannya, selama gue belum akan meruntuhkan tembok penghalang untuk pacaran ini–semoga sampai seterusnya, semua bakal percuma. Percuma, sedalam apapun perasaan itu dan jika emang gue pun naruh perasaan yang sama, gue nggak akan pacaran. Gitu, sih simpelnya. Biarin aja, urusan jodoh udah ada yang ngatur mulai dari waktu hingga tetek bengeknya. Kerjaan kita tinggal memperbaiki diri aja sampai waktu itu tiba, entah kapan.

Ngomongin soal ini, keegoisan gue bertambah. Karena gue nggak punya mantan, apa boleh gue berharap jika jodoh gue yang udah ditentukan kelak pun nggak punya mantan juga? Biar seimbang gitu, biar kita sama-sama nggak ngomongin mantan.

Jadi, salah nggak sih keputusan gue untuk nggak pacaran?

Advertisements

45 thoughts on “Perihal Pacaran

  1. Alasan terkeren gw yang memilih nggak pacaran sampe akhirnya naik pelaminan #jiaaaah, adalah karena pilihan. Gw ga pacaran karena gw idealis dan menjaga biar Allah ga cemburu. Tau sendiri kan kalo Allah murka, alias lagi cemburu. Ini, sih sekedar opini. Dan selama 22 taun gw bernafas #jiaaaaah, gw nggak henti-hentinya diserang pertanyaan gituan tentang ‘kenapa ngga pacaran’. Ada orang yang ngga pacaran karena nasib (ngga laku-laku) dan ada juga yang milih karena pilihan kaya gue. Menurut gw alasan di atas memang sangat masuk akal dari sisi manusiawi. Tapi inget, cara dapet jodoh kan nggak melulu dari jalan pacaran kan, neng cantikk. Dirimu sungguh keren. Gw salut sebagai seorang hamba Allah #jiaaaaah

    Like

    1. Aku juga ingiiin ga pacaran sampe naik pelaminan. Biar jodoh jadi yang pertama dan terakhir. Makanya, akhirnya aku keluarkan postingan ini dari draft karena capek ditanya-tanya mulu, trs karena kebanyakan cowok itu ga ngerti prinsip kita 😦 wkwk
      Alhamdulillah lanjutkan ya kakak sampe naik pelaminan, semoga nggak goyah. Semoga aku juga nggak goyah pegangannya hehe. Aamiin

      Like

      1. Amiiin, sebagai sesama muslimah, mari berjuang menegakkan prinsip. Biar yang mandatangi bapak-bapak kita adalah mereka yang punya prinsip sama, tahu cara menghormati dan memperlakukan wanita dan ngerti syariat. Simpel kan, ya ^^

        Liked by 1 person

  2. Pengalamanku bikin aku setuju klu semua emg kudu pake perencanaan kyk poinmu d atas, biar ati ga sembarang bolong, hubungan yg orientasinya emg buat ke depan dliat dr banyak aspek, dll. :”

    Like

  3. Gak salah sama sekaliii. Kamu punya hak untuk gak pacaran dan alasan yang kamu gunakan pun cukup meyakinkan kok. Gak sekedar ikut2an orang atau apa. Keren Audris! Pertahankeun sampe ketemu jodoh dan menikah hehehe.

    Tapi, jangan ngarep banget kalau jodohmu sama2 gak punya mantan sepertimu. Kalaupun dia punya mantan dan pas bareng sama kamu dia gak bahas mantannya kan gak masalah juga 😀 semua orang punya masa lalu yang berbeda2 dan kalau kita terima orang itu, kita harus terima juga masa lalunya.

    Duh euy panjang komennya hahaha maap cyyyn~

    Like

    1. Aamiin! Terimakasih do’anya wkwk.
      Ohiya benar~ seenggaknya aku gak dibikin cemburu, itu nggak masalah sama sekali sih.
      Iya, pasti harus saling menerima ya. Gapapaaaa komennya menyadarkan wkwk

      Like

  4. Nggak salah kok Audris, gue setuju banget kalo jodoh kita adalah cerminan dari diri kita sendiri. Tapi terkadang nggak ada salahnya sih membuka hati kepada orang lain yang sudah memberikan hatinya untuk diri kita (tentu diwaktu yang tepat)

    Like

    1. Iya, makanya aku mau perbaiki diri dulu aja biar dapet jodoh yg baik juga insyaallah. Waaah hahaha aku biasanya diam-diam mengagumi, jd gak berbalik 😦 sedih

      Like

Diterima Apa Adanya Kok

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s