Short Escape: Lampung

#nowplaying Roman Ketiga – White Shoes & The Couples Company.

Nggak bisa dipungkiri kalo sesuatu yang dipersiapkan dadakan kebanyakan akan terlaksana. Contohnya perjalanan dadakan ke Lampung pada tanggal 11 November kemarin. Perjalanan yang baru dinyatakan fixnya sekitar 3-4 hari sebelum berangkat. Siang itu, di grup keluarga yang isinya kebanyakan ngomongin jalan-jalan ketimbang ngegosip, ada celetukan soal salah satu resort di Lampung. Setelah share foto-foto tempatnya, memastikan pada bisa ikut, akhirnya satu villa terbooking lewat aplikasi andalan orang-orang.

Tanggal 11 November, yaitu hari Jum’at, ibu udah bilang kalo gue nggak boleh pulang kampus kemaleman karena rencananya mau ke Lampung malem itu juga. Tapi karena gue yang mendadak ada tugas pagi dari dosen yang sorenya harus dikumpulin biar bisa di revisi dan ternyata ada rapat dadakan juga, sehingga menunda main bersama seseorang yang waktu itu namanya tercantum dalam check in-an Path, akhirnya gue nyampe rumah jam 10an. Dengan kondisi belum packing untuk ke Lampung, dengan beban tugas tambahan yaitu input data dari >100 kuesioner dalam bentuk tabel yang ternyata kerjaannya sangat menyenangkan, gue diem dulu guna mencerna semuanya.

Diputuskanlah kalau kita akan pergi jam 2 dini hari, jadi gue bisa santai sebentar. Masukin baju-baju seadanya, siapin laptop, masukin kuesioner yang harus di-input ke dalam tas dan tidur.

short-escape freezyfroosty

Bangun-bangun, karena masih terlalu pagi untuk mandi, jadi gue nggak mandi. #TeamNggakMandi. Tapi beda kondisi kalau ini acara kampus atau hal di luar keluarga, mau jam berapapun pasti mandi dulu.

Dengan mata yang masih kriyep-kriyep tapi juga semangat bak pejuang kemerdekaan, kita berangkat ber-7 dengan total anak kecil tiga, remaja dua dan orang yang udah tua dua. Kita nggak ngejar apa-apa, dijalan bener-bener santai. Hingga tiba lagi di Pelabuhan Merak untuk kedua kalinya dalam setahun belakangan ini. Seperti biasa, gue masih norak kalau ngeliat kapal besar-besar walaupun yang kita dapet waktu itu nggak begitu besar.

Selama perjalanan, kita nggak pake ruangan ber-AC kayak waktu itu. Kita milih buat selonjoran diluar, menikmati hembusan angin laut yang nggak bikin sumuk pagi itu.

Jagain Aria.
Jagain Aria.

Dengan cemilan yang udah dibawa dari Bandung, kita bener-bener menikmati perjalanan yang santai ini. Dengan keadaan belum mandi, masih pake baju tidur yang hanya dibalut cardigan, namun bibir harus tetap berwarna. Wk.

lampung-freezyfroosty-1

Sesampainya di Bakauheni, ketika kapal sedang merapat, tiba-tiba sebuah insiden terjadi. Ponsel pintar milik Rafli, adik sepupu yang baru masuk SMP tahun ini terjatuh dengan indah ke lautan. Kita yang berdiri dipinggir kapal sambil bersangga pada pagarnya, melihat kejadian itu dengan prihatin sekaligus pasrah. Gue sempet ngebayangin gimana kalo itu punya gue. Nggak, membayangkannya aja gue nggak sanggup karena terlalu banyak data-data yang menurut gue penting dan bisa berpengaruh besar jika gue kehilangan data-data itu. Huahua.

lampung-freezyfroosty-2
Foto diambil sebelum hp Rafli terjatuh indah.

Nyampe Lampungnya masih terlalu pagi. Belum bisa check in juga di Elty (pilihan akomodasi kita selama disana) karena baru bisa masuk kamar jam 14.00. Bermakud membunuh waktu, keluarlah dua pilihan. Pertama, ke Bandar Lampung atau jalan-jalan dulu sambil cari sarapan, kedua ke Way Kambas. Gue yang notabene belum pernah ke Way Kambas dan kebetulan tanggal segitu lagi ada Festival Way Kambas, pilihan jatuh pada Way Kambas. Dengan bayangan gue soal sebuah taman nasional yang kece, akhirnya kita berangkat dengan semangat kesana. Mampir dulu sebentar beli soto ayam untuk sarapan yang nggak disangka ternyata enak diperjalanan kesana.

Way Kambas

Sesampainya disana, apa yang gue bayangin sebelumnya dengan keadaan sebenarnya itu berbanding terbalik. Kayak baru aja kena PHP. Gue mikirin bentuk taman nasional dengan sistemnya mirip Gunung Leuser yang notabene harus ada perjuangan dulu guna melihat orang utan di habitatnya. Yang ini beda, dengan adanya festival malah bikin Way Kambas lebih mirip Pasar Malam ketimbang taman nasional. Kecewa, kesel, nggak habis pikir. Sampah dimana-mana, kendaraan parkir terlalu dekat sama gajah, orang-orang berkerumunan jajan segala macem. Kecewa.

way-kambas-4

Sebenernya gue oke oke aja kalau misalkan festivalnya beneran diselenggarakan jauh dari tempat gajah-gajah atau kalau settingannya jelas, nggak acak-acakan. Gue kira juga gajah-gajahnya beneran ada di habitat mereka, semacam gajah liar yang nggak bisa di setir kayak di Taman Safari. Nyatanya di Way Kambas kita bisa naik gajah juga.

way-kambas-5

Gue beneran kecewa. Kita nggak lama-lama disana, keburu kena PHP duluan. Yang bikin kita waktu itu bertanya-tanya adalah, ada 1 kawasan luas dengan beberapa gajah besar di dalamnya. Di depannya ada tulisan seperti ini:

way-kambas-3

“Don’t Enter, Staff Only.” Gue kan penasaran pengen masuk juga karena orang-orang keluar-masuk gitu aja tanpa ada yang jagain. Nggak ada staff juga, atau mungkin laki-laki berbaju biru dalam foto itu salah satu staff ya? Nggak tahu. Akhirnya kita masuk aja tanpa didampingi atau apapun. Gue pun membayangkan gajah-gajah leluasa jalan kesana-kemari. Ternyata, yang gue temui adalah gajah-gajah dirantai kakinya.

way-kambas-2

Bener-bener diluar ekspektasi sebelumnya. Kotorannya dibiarin menumpuk gitu aja disekitar dia, nggak ada makanan, nggak ada yang ngawasin, ini tempat macam apa. Mungkin definisi melindungi versi mereka berbeda dengan melindungi versi gue. Mungkin emang gue yang nggak cari informasi dulu soal Way Kambas sehingga bisa sekecewa itu. Gue nggak tega ngeliat gajah-gajah dirantai kakinya jadi ruang gerak mereka terbatas. Sabar ya gajah si hewan cerdas dan pintar. 😦

way-kambas

Ditambah tatapannya yang sayu tidak berdaya itu, gue jadi makin nggak tega. Akhirnya, Om gue tergerak untuk mencari daun keladi buat dimakan gajah itu. Gue nggak tahu bahasa gajah, yang jelas belalainya selalu nyamperin orang-orang kayak minta sesuatu. Dengan sok tahu kita menyimpulkan dia lagi laper. Huahua.

Setelah memberi makan gajah berwajah sayu itu, kita memutuskan untuk ke Grand Elty, tempat kita menginap selama di Lampung. Cukup. Gue pengen liat gajah yang bener-bener di habitatnya tanpa rantai, tanpa kerumunan manusia, tanpa ada tunggangan gajah apapun.

Elty

Ternyata Grand Elty adalah resort yang semuanya udah tersedia disana. Gue jadi inget sama Tanjung Lesung. Pertama dan terakhir gue kesitu tahun 2011 dan memang tempatnya jauh darimana-mana. Elty pun begitu, serasa punya pantai luas pribadi yang punya batesan wilayah. Tipsnya kalau mau hemat, mending bawa makanan sendiri yang mengenyangkan daripada harus selalu beli disana walaupun menurut gue harganya standar, nggak mahal-mahal kayak di hotel itu.

Untuk view kamar waktu itu, langsung menghadap kolam renang dan cuma beberapa meter ke pantai. Lebih jauh ke lobby hotel ketimbang ke pantai.

grand-elty

Dengan luas area yang seperti itu, ada penyewaan sepeda seharga Rp. 25.000 perjam. Ada juga penyewaan alat snorkeling dengan harga Rp. 50.000 perjam. Tapi karena waktu itu anginnya kenceng dan gue nggak tahu snorkeling dimana berikut gue nggak bawa baju renang, jadi kita cuma main sepeda aja keliling resort yang ternyata bikin capek juga.

grand-elty-3

Sengaja nggak bawa bekel terlalu banyak dari Bandung, jadi sedikit keteteran untuk orang yang suka makan kayak gue ini. Cafe-nya kebetulan baru buka sore dan restorannya waktu itu full dipake sama rombongan jadi pilihan menunya berkurang. Untungnya, ada promo seafood untuk 4 orang, ada juga paket buffet grill dengan harga Rp. 180.000 perorang. Tapi waktu itu kita milih beli paket seafood dan sisanya pesen makanan sendiri-sendiri.

grand-elty-4

Gue nggak tahu apa bisa kano juga disana soalnya nggak ada info soal itu, tapi tempat kanonya ada.

grand-elty-5

Untuk view pas lagi makan pun terbilang kece. Ada dermaga, ada gunung yang gue kira awalnya itu adalah Kraktau taunya bukan, ada kegelapan malam yang mengundang nyamuk-nyamuk untuk singgah mencari makanan di kaki gue tanpa terlihat. Dengan angin yang super besar waktu itu, setiap jalan ke dermaga pasti dengan susah payah menahan baju biar nggak berterbangan nakal.

Dermaga.
Dermaga.

Selepas makan malem, gue sama Afi (adik sepupu) pergi ke dermaga yang udah gelap dan sedikit mengerikan. Kita foto-foto disana dengan penuh perjuangan menahan baju biar nggak goyang karena 1 foto memakan waktu 5 detik jepret saking gelapnya.

freezyfroosty

Fotonya kayak gitu doang tapi ada perjuangan besar menahan baju, kerudung dan badan agar nggak ada yang gerak difoto. Malemnya, kita menuju kamar sekaligus ngadem. Yang lain tidur, gue input data kuesioner ke dalam tabel. Short escape ke Lampung ini bentar lagi selesai.

Besoknya, kita sarapan sedikit telat karena males-malesan dulu. Seperti biasa, pola gue setiap sarapan adalah keliling ngeliatin satu-satu makanannya baru nentuin mana yang pertama kali dimakan. Kalau ada pancake, pasti gue ambil pancake duluan. Kalau nggak ada pancake, gue pasti nyari sereal. Kalau nggak ada dua-duanya, biasanya gue nyari lauk lain yang biasa digunakan untuk pendamping nasi. Nggak tahu kenapa tapi gue kurang suka makan nasi kalau sarapannya punya pilihan lain. Tujuan gue adalah nyicip semua makanan, karena itu gue nggak mood untuk makan nasi.

Selepas sarapan, gue melanjutkan menggunakan sepeda yang disewa Afi dan keliling resort bareng Rafli. Mulai dari yang santai-santai, sampe gue naik sepeda lewat dalem restoran karena kalau lewat pasir capek walau akhirnya disuruh keluar, ke jalur ATV nungguin angsa-angsa yang terlihat ganas, ngebiarin Rafli duluan yang nyebrang lewatin angsa-angsa sampai ngeliat dia dikejar 1 angsa dan kakinya nyaris dipatok. Begitulah, hari Minggu pagi itu lewat sangat cepat.

Pulang

Walaupun cuma semalem dan belum mencicipi semua fasilitas yang dimiliki Elty, tapi gue seneng disana. Walaupun ada tugas kuesioner juga, tapi tetap aja rasanya capek kuliah selama seminggu itu cukup terbayar dengan main-main di Elty walaupun lama dijalan. Yang lebih senengnya lagi, saat gue nyampe Bandung jam 12 malem, ternyata hari Seninnya dosen pada nggak bisa ngajar. Terimakasih untuk perjalanan singkatnya, untuk tulisan soal Elty nggak bisa dilengkapi dulu karena stok foto terbatas jadi kurang meyakinkan kalau nggak ada bukti visualnya.

Apa kalian pernah melakukan perjalanan singkat yang dadakan juga? Atau mungkin sering?

Advertisements

19 thoughts on “Short Escape: Lampung

  1. Sedih liat foto gajah berwajah sayu itu. Huhuhu. Sayang banget ta tempatnya gitu.
    Jalan2 dadakan kalo ke luar kota nggak pernah. Yg dlm kota sering: mendadak pengen ke mal biasanya. Hehehe

    Like

    1. Entah kenapa mikirnya lebih seneng ngeliat mereka di Taman Safari ketimbang di rantein gitu huhu. Setidaknya masih bisa jalan-jalan.
      Iya! Tiba-tiba ga ada kerjaan di rumah, bosen, suka pengen jalan wkwk

      Like

  2. Flashpacker bgt nih mba Audris hehee. Iya mba emang begitu deh kayanya klo lg ada event. Malah diluar ekspektasi, waktu itu juga di Way Hawang gue kesana pas ada event, gue kira bakal keren ternyata persis pasar. Hah php bener kata lo mba hahaha.
    Tp untung lo dpt view yang kece parah ya di hotel, terbayar lah ya seenggaknya perjalanan sekejap lo ini hehee.

    Like

    1. Kecewa beraaat, bukannya makin kece tapi makin rusak. Way Hawang itu dimana yha, otw gugel buat nyari way hawang wkwk. Php abis kan ya sebel:(
      Iya bener! Untung hotelnya pemandangannya kece jadi puas lah semalem disana.

      Like

  3. Pingback: Ucapan Ulang Tahun – Read Out Loud

Diterima Apa Adanya Kok

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s