Fieldtrip ke-6: Dibalik Layar, Cara Main dan Jogja

#nowplaying Tentang Diriku – Javablanca.

Ada yang aneh sama Jogja, ada sesuatu dalam kota itu yang selalu berhasil membuat orang-orang terjerat olehnya.

Warning: Postingan ini sangat panjang, kalau yang nggak kuat boleh diklik aja tombol silangnya.

Kejadian terbaru adalah saat Manajemen Destinasi Pariwisata semester tiga melakukan field trip ke-6nya di Jogja. Gue pribadi, awalnya ogah-ogahan kalo harus field trip ke Jogja lagi, karena semester pertama juga kita udah ke Jogja. Awalnya mikir, “Ah kenapa sih harus ke Jogja lagi? Nanti semester 4 juga ada field trip ke Jogja.”

Kita berangkat hari Kamis pagi, sampai Jogja itu jam 9 malamnya karena kita kebanyakan berhenti. Field trip kali ini adalah ft pertama yang menurut gue cocok untuk ditulis detail dalam blog, karena ini yang paling asik. Begini kira-kira cara main field trip ke-6 dengan para dosen pembimbing favorit yaitu Pak Iwan sebagai dosen mata kuliah yang menjadi tema field trip ini yaitu marketing, Bu Wissy dan Bu Masitoh sebagai pembimbing tambahan.

manajemen destinasi pariwisata

Dibalik Layar

Karena tema field trip kali ini adalah pemasaran, hal yang menjadi senjata utama adalah kuesioner. Kita dituntut untuk bikin kuesioner sendiri mengacu pada konsep-konsep yang udah ada. Ada dua faktor yang bakal dijabarin lagi, yaitu eksternal dan internal. Sekelas dibagi jadi dua kelompok besar untuk ngerjain 2 kuesioner berbeda, satu eksternal dan satu internal. Setiap jawaban dan sub-dimensi yang ada harus mengacu pada konsep, jadi waktu itu kita lembur di kampus hanya untuk bikin beberapa pertanyaan. Gue kira membuat kuesioner bisa ngasal aja pilihannya sesuai keinginan kita, tapi ternyata semuanya harus dipertanggung jawabkan oleh konsep.

Sorenya, H-1 berangkat, Pak Iwan masuk kelas dengan senyumnya yang khas itu. Kita sama-sama ngoreksi kuesioner yang udah dibuat, tapi nyatanya yang eksternal salah besar. Kita disuruh revisi, dikasih waktu 2 jam habis itu harus bertemu lagi sama beliau dengan kuesioner utuh yang udah rampung. Akhirnya kita ribut sekelas, nyari konsep yang bakal jadi acuan utama, bikin 1 kuesioner utuh dan nyatanya ngaret 30 menit dari waktu yang udah ditentuin. Jam sudah menunjukkan pukul setengah tujuh malam, banyak yang belum packing sedangkan besok pergi jam 5 subuh, 2 anak kelas akhirnya menghadap Pak Iwan sebagai perwakilan, dengan kuesioner revisian yang entah di approve atau nggak. Saat dua orang itu balik lagi, salah satu diantara mereka berseru, “KUESIONERNYA DI APPROVE!”

Malam itu juga, kita ngeprint kuesioner dan ngekopi jadi 306 buah dilebihin 6 untuk jaga-jaga. MDP 3 siap field trip.

Cara Main

Manajemen Destinasi Pariwisata yang biasa disingkat MDP berjumlah 25 orang ini dibagi menjadi 3 tim besar. 1 tim Alam, 1 tim Budaya dan 1 tim Buatan. Kita disebar hari Sabtu dan Minggu mengingat wisatawan pasti ramai kalau weekend, dengan target 100 kuesioner. Untuk transportasi, karena tim budaya dan buatan lokusnya deket, jadi mereka pake Transjogja dari depan hotel. Hotel tempat kita menginap adalah Jayakarta, yang entah kenapa kalau dipikir-pikir, hotelnya strategis banget. Disebelah dan disebrangnya ada halte Transjogja, hotel pun punya shuttle gratis untuk ditumpangi. Satu kamar diisi dua orang dan gue dapet kamar dengan balkon ditambah view langsung ke kolam renangnya.

Hotel Jayakarta Jogja.
Hotel Jayakarta Jogja.

Kelompok alam karena lokusnya jauh-jauh, jadi kita dianter pakai bus kampus yang besar sedangkan isinya hanya mahasiswa ber-8 ditambah 2 supir, 1 guide dan 2 pembimbing. Masing-masing anak dikasih uang makan siang Rp. 30.000 karena nggak mungkin kampus menyediakan makan siang bareng-bareng. Pak Iwan berpesan sebelumnya, kalau kita sebagai peneliti nggak boleh mental gratisan. Maksudnya, kalau udah ada yang ngisi kuesioner, kita harus ngasih mereka sesuatu sebagai tanda terimakasih. Akhirnya kita menyiapkan souvenir yang ‘Bandung Banget’, jatuhlah pilihan pada gantungan angklung mini yang kita rasa itu ‘Bandung Banget’ bukan Bandung Saja. Souvenir pun disiapkan H-1, beberapa jam sebelum revisian kuesioner.

Pagi hari Sabtu, yaitu hari pertama kita nyebar, diadakan briefing sebentar selepas sarapan sebelum kita dilepas menuju lokus masing-masing.

dsc_5899
Captured by: Pak Dadi selaku guide kita.

Tim Alam Tidak Iri

Gue sendiri adalah anggota tim alam, yang awalnya iri berat sama tim buatan dan budaya karena mereka bisa jalan-jalan sekaligus dapet stok foto yang banyak. Kita hari Sabtu dapet Kaliurang, dengan jumlah penolakan 2 orang untuk gue sendiri dan nyaris ditolak 2 kali pula. Sambil nunggu, sambil jalan-jalan diparkiran, sambil bingung, nggak laper karena kalau tugas belum kelar pasti nggak mood makan, kita macam anak tersesat yang tidak diinginkan keberadaannya. Ditambah, kita ditinggal sama para dosen pembimbing dan guide yang melakukan lava tour. Tenang! Kita juga akan dapet lava tour itu nanti semester 4. Sabar sabar, sekarang belum waktunya.

manajemen-destinasi-pariwisata-1
Pak Iwannya ketutupan.

Sejujurnya gue sedikit kecewa untuk lokus pertama ini karena yang gue pikir adalah Kaliurang yang beneran Merapi itu tapi kita malah terdampar di kawasan hutan yang bisa jadi sasaran tepat untuk para pasangan yang ingin berdua-duaan. 😦 Tapi bersyukur juga karena yang dateng kesana banyak.

Captured by: Karel.
Captured by: Karel.

Keajaiban rezeki memang nggak kemana, pulangnya kita memutuskan untuk makan bareng-bareng aja sama rombongan kecil bis kampus. Waktu itu kita makan di daerah Depok, gue lupa nama tempatnya apa tapi bisa ambil sendiri gitu. Dimana letak keajaibannya? Kita semua dibayarin sama Bu Wissy jadi uang makan siang Rp. 30.000 yang dikasih itu tetep utuh. Alhamdulillah. Tim alam tidak (jadi) iri karena dapet makan siang gratis.

manajemen-destinasi-pariwisata-2

Malam Minggu alias Sabtu malam, setelah hari pertama nyebarin kuesioner selesai, seperti biasa ada briefing sebelum makan malam. Sebenernya setiap field trip pasti ada briefingnya, ditentukan oleh dosen pembimbing. Kadang berjam-jam, kadang cuma 30 menit, kadang cuma sejam, kadang briefing terpaksa diberhentikan karena dosen pembimbing sudah terbiasa tidur nggak lebih dari jam 10 malam. Macam-macam pokoknya.

Untuk field trip ini sendiri, kita cuma briefing sekitar 30 menit doang karena dosen pembimbing hanya nanya progress kita hari itu. Ada berapa kuesioner yang nggak valid, kira-kira dominasi pilihan profil wisatawan, hingga kuis dadakan berhadiah kaos Wonderful Indonesia asli dari Kementrian Pariwisata. Malam itu juga, kita harus input data kuesioner ke dalam tabel. Akhirnya gue ngebantuin sampe jam setengah 3 subuh.

Paginya, hasil inputan data semalam itu diliatin ke Pak Iwan selaku dosen pembimbing saat sarapan. Sambil makan, sambil beliau ngecek datanya satu persatu, sambil ngobrol. Field trip ini bener-bener santai. Baru inget lagi kalau ini adalah,

HOTEL TERAKHIR.

Iya, kita bersyukur banget kalau field trip nginep di hotel karena kebanyakan field trip tidur di rumah warga atau homestay. Tiba-tiba dapet hotel kece macam Jayakarta yang pilihan sarapannya banyak mampus dan enak-enak itu, tentu nggak boleh disia-siakan. Ini adalah hotel terakhir kita selama kuliah, karena secara pengalaman sebelumnya, nanti nggak akan dapet hotel lagi jadi kita puas-puasin pake koper daripada carrier.

Hal pertama yang diambil sebelum makanan lain.
Hal pertama yang diambil sebelum makanan lain.

Gue punya rute sarapan tiap nginep di hotel. Pertama, pasti keliling dulu untuk lihat-lihat ada apa sebelum memutuskan. Kedua, hal yang bakal gue cari pertama adalah pancake atau sereal. Kalau ada dua-duanya, gue pasti milih pancake terlebih dahulu. Gue jarang makan nasi kalau nginep di hotel, karena nasi semacam ngestop semua makanan untuk masuk. Jadi gue menghindari nasi.

img_7488
Captured by: Karel.

Setelah pada sarapan, gue sama dua orang lain nemenin Pak Iwan sarapan di dalem sementara yang lain pada balik ke kamar masing-masing untuk mandi dan beres-beres. Sambil ngobrol-ngobrol, sambil cerita, sambil nanya-nanya. Hari Minggu itu, Pak Iwan pulang duluan ke Bandung jam 12an karena besoknya harus nemenin tamu dari luar negeri yang mau ke Jakarta. Sedih banget ditinggal Pak Iwan, untung masih ada Bu Wissy dan Bu Masitoh walaupun akhirnya Bu Wissy pulang duluan juga karena harus pergi ke Bali nemenin semester 1 fieldtrip. Tinggalah Bu Masitoh yang jadi kesayangan semua orang.

dsc_5977

Lokus Tim Alam dihari terakhir adalah Pantai Parangtritis, dengan total penolakan NOL dan kuesioner beberapa anggota tim alam termasuk gue keisi dalam waktu 1 jam saja! Gila! Parangtritis memang da best! Waktu itu, satu keluarga pertama yang jadi responden gue baik banget. Ditengah-tengah pengisian kuesioner, tiba-tiba sang ibu yang nggak main air nyeletuk, “Cantik e mbaknya.” Demi menyenangkan hati responden, gue teriak, “ALHAMDULILLAH MAKASIIIH.” Yang kalo dipikir-pikir nggak guna banget responnya. Setelahnya, mereka malah seneng pas mau difoto. Karena sudah baik dan bikin senang, gue mau majang fotonya disini.

Responden pertama di Parangtritis.
Responden pertama di Parangtritis.

Ada juga keluarga yang ternyata lagi ngerayain ulang tahun disana. Sang ibu seperti biasa, tiba-tiba bilang, “Ini lagi ada yang ulang tahun mbak, dua orang.” Terus sebagai seseorang yang bawa-bawa nama ‘Researcher’ di nametag agar kekecean nambah guna meyakinkan para responden, gue langsung heboh, “SELAMAT ULANG TAHUUUN!” Setelah perwakilan dari mereka ngisi kuesioner, gue menawarkan untuk ngefotoin mereka pake kamera hp yang untungnya disambut hangat.

Terimakasih Parangtritis, akhirnya Tim Alam selesai melakukan fieldtrip kali ini tanpa ada kuesioner yang nggak valid. Lagi, kalau memang rezeki nggak kemana. Pas makan di Parangtritis, kita pun ditraktir sama Bu Wissy. Kesimpulannya, uang makan Tim Alam selama 2 hari ini sukses utuh. Terimakasih Bu Wissy!

(2/2) minus kaday dan abet. Nggak ngerti lagi udah 2x field trip sekelompok sama mereka terus. Field trip sebelumnya emang ditentuin sama dosen, tapi field trip terakhir kemaren kelompoknya dikocok dan dipisah-pisah sedemikian rupa tapi tetep ketemunya sama mereka lagi. Kita Tim Alam, yang mana pake bis kampus ke lokus yang udah ditentukan padahal isinya cuma 8 orang + pembimbing, guide dan supir. Kita Tim Alam, yang karena selalu pergi bareng dosen pembimbing, jadi uang makan siang yang dikasih selalu utuh. Kita Tim Alam, yang selalu iri sama Tim Buatan dan Tim Budaya tapi setelah tau kesulitan mereka, kita nggak jadi iri. Terimakasih untuk 2 field trip terakhir, untuk tim paling ancur berisikan orang-orang yang lebih senang bermain, bersantai, bercanda SETIAP briefing, ketimbang berkutat dengan aturan dan keharusan.

A post shared by audris (@ashftm) on

Jogja

Ini terakhir, serius.

Malamnya, beberapa anak MDP memutuskan untuk pergi ke tempat-tempat di Jogja daripada nginput data. Padahal, hari Minggu itu juga kita harus langsung ngirim data selama 2 hari via e-mail ke Pak Iwan. Jalan-jalan dulu baru tugas lagi. Gue, Liza sama Ajeng pergi ke Tempo Gelato yang hits mampus di instagram sementara yang lain ada yang ke Ambarukmo. Jauh-jauh ke Jogja malah masuk mall. Akhirnya, beberapa orang dari Tim Alam begadang sampai jam set.4. Pak Iwan pasti ketawa tiap tahu kita begadang demi tugasnya terus ngomong, “MDP udah biasa kan begadang gini, nggak tidur.” dibumbui oleh senyumnya yang (lagi) gue bilang khas.

tempo gelato
Ukuran medium, dapet 3 topping: 40k.

Sehabis dari gelato, kita pergi ke angkringan deket Malioboro terus ketemu sama grup mall dan beberapa orang lagi disana. Bisa ketebak apa yang terjadi saat gue pulang ke Bandung dan nimbang berat badan. Iyak, berat badan gue sukses naik 2kg. Terimakasih Jogja atas tambah gemuknya badan ini, tapi jujur gue nggak mau pulang banget pas fieldtrip kemarin. Entah kenapa Jogja udah melekat pesonanya buat gue pribadi. Pantas saja daerahnya disebut istimewa, memang benar istimewa sampai sekarang walaupun kebanyakan baliho. Ohiya hampir lupa, pas malam minggu juga kita disamperin sama 3 orang mahasiswa semester 7 yang lagi job training di Jogja. Gue pun nanti akan merasakan job training walaupun nggak tahu bakal ditempatin dimana.

img_7590

Hari Seninnya kita balik lagi ke kampus, dengan sebagian besar hati masih tertinggal disana. Sebelum balik, kita ke Borobudur dulu. Tahun kemarin ke Borobudur sekalian observasi, tahun ini ke Borobudur dengan orang-orang yang sama tapi nggak harus nyari data apapun. Sungguh senang. Bonus foto yang menurut gue paling ciamik selama field trip sekarang karena setelah nyebar kuesioner, udah nggak ada niatan untuk foto-foto jadi sekalinya dapet yang bagus, langsung dipost ke ig dengan caption yang nggak nyambung.

Sometimes, the best part of this life are letting go and getting hurt. There's always someone, somewhere, something we just can't have as if forever is never meant to be a part of it. There's always a way to seperate us from someone we thought we have a future with. There's always a heart that broke everytime we have to let go. That's a thing we called as broken heart. But then you realized, the longer you've tried to keep someone stay, the more you'll getting hurt. You know it exactly in the deepest side of your heart, you were just pretending not to. So let them go. I don't know exactly how broken heart does to a person, I don't know how hurt it is to have a heart that broke. I want to have my very first broken heart yet I am too afraid to begin. Ha! Dasar wanita Jepreted by: @lznvt

A post shared by audris (@ashftm) on

Sekali lagi, terimakasih Jogja beserta segala isinya, topik fieldtrip pemasaran yang sukses bikin nggak bisa move on dan para pembimbing yang asik! Ternyata guide pas ke Jogja kemaren sama kayak pas field trip ke Ujung Kulon.

manajemen destinasi pariwisata

Sampai berjumpa di field trip selanjutnya ya geng! Selamat menjalani UAS, jangan lupa tugas dan revisian.
Advertisements

5 thoughts on “Fieldtrip ke-6: Dibalik Layar, Cara Main dan Jogja

  1. Saya bisa ngerasain keseruannya. Serasa balik lagi ke zaman kuliah yang penuh perjuangan, penuh kertas laporan, dan penuh begadang-begadang yang pastinya mepet sebelum deadline. Tapi ini bakal jadi kenangan yang tidak akan dilupakan oleh semua orang, lho. Apalagi melibatkan fieldtrip dan benar-benar terjun ke alam bebas. Semua kejadian dan dramanya jadi bikin hidup berwarna dan kaya cerita banget. Haha, jadi kangen kuliah. Jadi semangat juga buat melanjutkan studi nih, siapa tahu drama-drama serunya bisa kejadian lagi.

    Like

    1. Iyaaak kertas laporan, kertas tugas, kertas-kertas lainnya. Iya bener, apalagi prodi aku mah fieldtrip 1 semester 2x jadi makin-makin banyak yang gak akan terlupakan wkwk.
      Bisa! Ayo lanjutkan studinya di pascasarjana pariwisata, dapet fieldtrip juga kok walaupun mahasiswa lanjutan huahua. Promosi amat ini mah:))

      Like

Diterima Apa Adanya Kok

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s