Cerita Berhijab

#nowplaying Arizona – Common Souls.

Emang sulit kalau mau komitmen untuk berhijab, apalagi awalnya bukan keinginan sendiri.

Bermula saat gue baru selesai MOS jaman SMP, tiba-tiba ayah sama ibu nyuruh gue pake hijab. DOR. Gue serasa ditembak pakai senapan saat itu juga. Berhijab? Ih, no thanks. Waktu itu gue berpikir demikian, karena masih belum rela untuk nutupin rambut yang padahal nggak badai tapi entah kenapa gue nggak mau. Tapi, karena itu perintah orang tua, yaudah akhirnya gue lakuin.

image

Awalnya gue pake hijab cuma ke sekolah doang, jadi di luar itu gue nggak pake kerudung sama sekali. Saat ada di kondisi kayak gitu, gue malah ketemu sama temen-temen SMP di luar sekolah. Sedikit-banyak gue merasa malu, malu karena seorang Audris yang mereka kenal adalah Audris yang pakai hijab. Kadang suka ditanya, “Ko nggak pake kerudung?” atau pas di sekolah ada yang bilang, “Kemarin aku liat kamu deket nasi tim lagi jalan-jalan, nggak pake kerudung.”

Seharusnya gue merasa biasa aja, karena temen-temen yang lain pun sudah biasa dengan hal buka-tutup hijab ini seakan itu adalah sesuatu yang lumrah. Nggak cuma gue yang pake hijab ke sekolah doang. Seiring berjalannya waktu, gue makin sini makin malu, jadi suka males keluar karena takut ketemu temen-temen.

Waktu itu pernah jadi panitia festival angklung terus gue nggak pake hijab, diemnya di deket meja registrasi, otomatis ketemu sama para peserta yang bakal ikut festival. Ternyata SMP gue ikut festival itu dan alhasil gue ketahuan sama temen-temen bahkan guru-guru. Selama sehari itu gue bener-bener menghindari orang-orang dari sekolah walaupun akhirnya ketemu juga.

Ada beberapa alasan kenapa gue nggak mau berhijab,

  1. Gue dulu suka diajak renang hampir setiap minggu bareng orang tua dan saudara-saudara yang lainnya. Gue belum bisa, kalau harus berenang pakai penutup rambut bawaan dari baju renangnya.
  2. Gue dulu nggak mau ribet, dan hijab menurut gue itu ribet. Banget. Makanya, gue kalo keluar lebih seneng nggak pake kerudung.
  3. Outfit favorit adalah celana basket atau celana pendek selutut, sepatu kets sama kaos. Gue ngerasa nyaman banget kalo pake celana pendek, apalagi celana basket. Kenapa bisa pakai celana basket? Karena pas latihan basket, gue pake celana panjang soalnya masih dalam lingkungan sekolah jadi gue pake hijab, akhirnya celana bawaan seragamnya dipake buat sehari-hari.
  4. Memasuki tahun-tahun SMP akhir, gue nyobain hijab yang kerenan dikit, yaitu hijab segiempat yang dipenitiin. Selama pake hijab kayak gitu, selalu ibu yang menitiin sebelum berangkat sekolah. Gue merasa bergantung sama ibu, karena nggak bisa menitiin sendiri. Jadi kalo nggak ada ibu, gue nggak akan berhijab.

Menjadi anak SMA, akhirnya gue udah mulai serius pake hijab ditambah gue udah bisa menitiin sendiri. Gue merasa malu, malu banget kalo ketemu orang yang dikenal dan gue nggak berhijab. Walaupun ada kegiatan-kegiatan yang akhirnya nggak gue lakukan lagi, contohnya berenang. Gue jadi ikutan malu, kalau ada orang yang melihat gue dalam baju renang yang notabene memperlihatkan lekukan badan. Mending kalo badannya bagus, kan enak dilihat. Lah badan ini?

Kalau dihitung-hitung, perjalanan menuju serius pakai hijab itu adalah 3 tahun. Butuh waktu 3 tahun untuk membuat gue sadar kalau hijab itu jadi identitas gue yang diketahui orang-orang. Butuh waktu 3 tahun untuk cukup membuat gue malu setiap lepas-pasang hijab. Butuh waktu 3 tahun untuk meyakinkan gue kalau hijab nggak akan membuat seseorang jadi jelek. Butuh waktu 3 tahun untuk sadar kalau hijab itu nggak akan menghambat aktivitas-aktivitas yang dulu sering dilakukan.

Akhirnya, sejak SMA sampai sekarang, hijab ini nggak pernah dimainin lagi. Alhamdulillah, terimakasih. Walaupun butuh waktu yang lama, tapi ternyata gue bisa melakukannya. Ternyata berubah itu emang nggak gampang, tapi menyerah juga nggak bakal ngehasilin apa-apa. Jalanin aja dulu, siapa tau nyaman. Kayak kamu sama dia.

Jadi kalo ada yang bilang gue nggak pernah lepas-pasang hijab, kalian salah. Gue mengalaminya, selama 3 tahun malah. Lama banget. Gue mengalami masa-masa itu dulu sebelum akhirnya serius kayak gini.

Gue nggak nyuruh kalian untuk berhijab, gue hanya ingin berpesan kalo berubah itu kadang nggak segampang naikin berat badan dan sesusah nurunin berat badan. Kadang berubah juga sama peliknya seperti memutuskan untuk jatuh cinta sepenuhnya atau nggak, sebelumnya selalu ada banyak pertimbangan dan keragu-raguan.

Tapi inget, jangan paksa orang-orang untuk berubah ya. Mereka punya cara, jalan, keyakinan dan kepentingan sendiri dimana kita nggak bisa mengusiknya. Jangan paksa orang-orang untuk melakukan apa yang menurut kita benar, kalau kata dosen Kebijakan Pariwisata, karena yang benar menurut kita belum tentu baik buat mereka. Jadilah individu yang punya toleransi, jangan jadi provokator untuk menyudutkan sebuah kelompok karena merasa sebagai yang paling benar. Basi. Nggak keren.

Gue tahu, cara berhijab gue masih belum lulus standar, tapi biarkan gue menjalaninya dulu. Okey?

Jadi beginilah, kisah gue kenapa bisa berhijab. Walaupun butuh waktu lama, tapi gue udah sepenuhnya berkomitmen sekarang.

Advertisements

24 thoughts on “Cerita Berhijab

  1. Nice, dris.. semoga istiqamah dg hijabnya. Dan juga menginspirasi org lain yg blm berhijab, dan menginspirasi org yg dakwah dg cara maksain kehendak, biar lebih menghargai perubahan. Last, hijab is identity of muslimah, so no reason to play tolerance in it. Semangat..

    Like

  2. Ooooo ternyata begitu ya ceritanya… Ku kira udah lama pakai hijabnya Dris, dari kecil gitu… Ternyata yaaaa udah lama juga sih yaaaaa hehehe
    Dris, kenapa suka pakai kerudung segiempat yang pakai peniti? Nggak coba yang langsungan? Hehehe

    Like

    1. Sudah lumayan lama sih ya segitu mah itungannya wkwk. Dulu SMP sempet pake kerudung langsung gitu kaaan, tapi kayak kurang greget gitu. Sukanya yang rada menantang wkwk

      Like

    1. Kan cewek, makanya cantik. Kalo cowo yang pake hijabnya beda kasus yha 😦 wkwk
      NASIBNYA ENAK. Apa dayaku yang nurunin berat badan aja susahnya setengah mampus

      Like

  3. Ahlamdulillah, nemu artikel ini, ak baru mulai berhijab hari in dan sempet ragu awalnya, bahkan tadi pagi pas mau berangkat kerja aja nyaris aku lepas lagi karena mikir ini itu ini itu, bla bla bla, tapi akhirnya “memaksakan” diri supaya tetep berangkat kerja dengan menggunakan hijab. Dan keraguan itu pastinya masih ada ya, smoga dengan membaca artikel ini bisa membantu memantapkan hati supaya tidak lepas lepas lagi.

    Terimakasih ^^

    Like

    1. Alhamdulillah terimakasih udah nyasar kemari heuheu. Waw! Baru banget berhijab?! Keren! Aku sih jujur aja waktu itu sempet mikir, “Duh nanti kalo temen-temen liat, mereka bakal komentar apa ya….” gitu galau abis wkwk. Aamiin, semoga artikel seadanya ini bisa sedikit membantu hehe.

      Terimakasih juga sudah berkunjung 😀

      Like

      1. Yah sama lah kira kira begitu, malah sempet hari pertama mau berangkat kerja mau pake, eh gagal, karena hasil make kerudungnya berantakan :D, lalu besoknya saya coba lagi “nekat make” alhamdulillah jadi, tapi ya sama ragunya, yang ak pikirin adalah, apa kata temen2 kantor ya, secara awalnya ak tomboy pake banget :D. Tapi ya karna sudah diniatin, so here I am. Next nulis2 tentang pengalaman km lagi ya, after mantep berhijab. Thank you

        Like

      2. Aku pun pernah pas berantakan jadi bete seharian, kayak diserang sama ‘Bad Hair Day’ heuheu. Alhamdulillaaaah, yang penting sekarang udah komitmen buar berhijab terus ya InsyaAllah. Okey beklaa, ditunggu juga pengalaman mbak soal ups&downs sebelum sampe akhirnya memakai hijab ehehe

        Liked by 1 person

Diterima Apa Adanya Kok

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s