Perempuan dan Isu Perempuan di Usia 20

#nowplaying Buaian – Danilla.

Rasanya topik yang hangat-hangat di awal tahun 2018 ini hampir semuanya menyangkut tentang perempuan. Posisi gue dalam tulisan ini adalah sebagai perempuan yang menanggapi isu-isu tentang perempuan di kalangan masyarakat. Cie. Ada hal yang gue kurang setuju dari beberapa statement masyarakat terhadap perempuan. Sebelum lanjut, gue ingin memperingati bahwa tulisan ini mengandung topik yang agak atau malah sangat sensitif. Kalo mau lanjut boleh, kalo nggak juga nggak apa-apa.

Sedikit kalimat untuk pembaca.

Seperti yang ditulis dalam gambar itu, cinta qu padamu tida akan pernah padam macam lagu Sandy Sandoro. Ohiya mau curhat dulu. Gue sebenernya membiarkan tulisan yang udah rampung ini mengendap di draft selama hampir seminggu. Gue sejujurnya takut ada pemilihan kata yang kurang tepat dan semua opini gue jadinya salah dicerna sama orang. Ngerinya, apa yang gue maksud dan orang tangkep itu berbeda.

Tapi wes, dipost aja. Jadi, yang menempati urutan pertama adalah:

1. Feminisme

Di instagram waktu itu sempet rame sama postingan pro dan kontra tentang feminisme gara-gara ada Women’s March. Beberapa adik kelas dan teman instagram gue ikut acara itu dan banyak orang-orang yang ngerepost poster-poster menarik saat acara berlangsung. Gue sebagai si kepo jelas dong baca beberapa sumber tentang pro dan kontranya feminisme. Dari pihak kontra dengan followers di atas 300k, ada yang nggak setuju sama poster-poster di Women’s March apalagi yang berisikan tulisan semacam ‘alat kelamin saya, pakaian saya, bukan urusan kalian’. Mereka betul-betul nggak setuju sama statement tersebut. Sedangkan dari pihak pro ya mereka santai-santai aja.

Kalo menurut gue, alat kelamin dan pakaian seseorang emang bukan urusan kita. Itu urusan dia dan Tuhannya. Itu urusan dia dan Sang Maha Pencipta. Ngapain kita ngurusin orang lain. Bukannya di dunia ini kita sebenernya sendiri-sendiri? Nanti mati juga sendirian kan? Yang bisa berjuang untuk terus mengarungi dunia yang semakin kejam ini ya diri sendiri juga. Akhirnya, yang berhak sama badan dan pakaian yang kita pakai ya diri sendiri.

Kalau pun mau bilang mereka salah dan menentang beberapa nilai agama atau budaya, ada banyak cara yang bisa dilakukan selain ngeshare dan nyerang perempuan-perempuan yang ikut Women’s March. Salah satunya dengan menjadi contoh yang baik. Menurut gue, orang-orang Indonesia kadang hanya jago ngomong tapi lupa untuk menjadi contoh yang baik. Ya… Gimana mau didenger sama orang lain kalau caranya masih bersifat menggurui bukan merangkul. Cara lainnya adalah, sesimpel ngedo’ain orang-orang termasuk orang yang kita nggak suka. Bukannya kalo ada yang jahat ke kita, harus kita do’ain yang baik-baik? Kenapa cara ini nggak dipake untuk hal-hal lain juga?

Tentang feminisme dari sudut pandang gue, bentuk feminisme itu untuk setiap orang bisa berbeda-beda loh. Gue malah bersyukur jaman dulu udah ada feminisme. Sekarang perempuan nggak perlu takut untuk jadi siapa pun, sekarang perempuan nggak perlu berdiam diri di rumah karena posisinya nggak dianggap rendah lagi, sekarang perempuan bisa melakukan banyak hal, sekarang perempuan punya hak untuk bekerja layaknya laki-laki.

Emang salah? Kan nggak. Itu kan, hal yang Kartini perjuangkan dulu?

Mungkin buat perempuan lain, bentuk feminisme mereka beda lagi dan itu nggak masalah.

2. Pelecehan Seksual

Jujur, ini topik yang menurut gue nggak bisa dianggap sepele tapi masih disepelekan. Entah kenapa gue selalu tertarik sama topik ini. Sampai akhirnya gue menemukan cerita para perempuan di ig storynya Mbak Ira tentang pelecehan seksual. Disitu, beliau membiarkan followers-nya untuk cerita tentang pelecehan yang pernah terjadi sama mereka atau sama orang yang dikenalnya terus di upload sebagai anonymous ke igs. Gila! Ternyata sebanyak itu. Gue sampe nggak habis pikir dan sedih banget. Sedih, kesel, pengen marah, pengen bantu. Kalo yang mau liat cerita-cerita mereka, bisa klik instagramnya terus langsung cus ke highlight.

Darisitu gue pun akhirnya sadar, kalo pelecehan seksual bisa terjadi kapan pun, dimana pun dan siapa pun bisa berpotensi jadi korbannya. Entah itu anak-anak, saudara kandung, keluarga sendiri, ibu-ibu lagi hamil gede, perempuan berhijab, dsb. Gue pun bisa menarik kesimpulan bahwa orang-orang yang berpotensi besar melakukan pelecehan itu malah orang-orang terdekat korban. Gila banget nggak sih.

Tapi, masih aja ada yang nyalahin atau malah nggak percaya sama cerita si korban. Bilangnya karena korban terlalu merangsang lah, korban berpakaian seksi lah, korban ini, korban itu, semuanya nyalahin korban. Dari semua alasan, ada satu alasan yang bikin gue istighfar.

Jujur lagi-lagi, sori, lanjut dari mereka yang kontra sama feminisme. Walaupun ada beberapa alasan kontra sama feminisme, tapi buat gue yang satu ini bikin geleng-geleng. Mereka bilang, kalo pelecehan seksual itu terjadi saat laki-laki terlalu banyak melihat hal-hal yang bakal merangsang mereka, karena laki-laki nggak hanya dengan sekali melihat langsung terangsang. Jadi, saat laki-laki itu udah terlalu sering ngeliat cewek-cewek seksi atau nonton bokep, nanti mereka bakal punya keinginan untuk melakukan hal yang udah mereka lihat itu sama siapapun.

Dari sudut pandang gue, kalau semua orang masih berpikir seperti itu, mau nunggu berapa lama lagi sampai pemain film porno taubat dan industri tersebut berhenti biar pada nggak punya bahan video baru? Mau nunggu berapa lama sampai semua orang di dunia ini berpakaian tertutup dan nggak ngumbar aurat mereka? Mau nunggu berapa lama lagi sampai semua orang bisa dijamin 100% untuk nggak melecehkan orang lain? Mau nunggu sampai ada berapa ratus ribu korban pelecehan lagi?

Dalam kasus ini juga, gue ngerasa paradigma orang terhadap laki-laki kayaknya udah berubah seakan-akan laki-laki hanya manusia dengan nafsu seks yang tinggi. Padahal, yang melakukan pelecehan bukan melulu laki-laki. Buktinya, dari cerita di instagram Mbak Ira ada yang predatornya perempuan.

Tapi yaudah, ini kan opini satu orang. Mungkin kalian punya opini berbeda tentang pelecehan seksual.

3. Pelakor

O-ooow! Ini topik rasanya nggak padam-padam ya. Mulai dari Jejedun sampai Bu Dendy, semuanya jadi pada seneng pake istilah pelakor alias perebut laki orang. Walaupun pas video Bu Dendy viral, gue nggak ngerti dia ngomong apaan karena nggak ada subtitle-nya. Dalam kasus perselingkuhan, yang disalahin LAGI-LAGI perempuan. Gue sendiri nggak setuju banget kalo selalu pelakor yang dilabrak sedangkan lakinya santai-santai aja, mungkin sebenernya sambil ketawa ngeliat istri dia sama selingkuhannya berantem. Mungkin juga lakinya itu sambil nyari perempuan lain disaat istrinya sibuk berantem sama selingkuhan pertama.

Dalam prinsip yang gue anut, orang ketiga nggak bakal masuk kalau nggak ada celah diantara pasangan. Nggak ngaruh seberapa seksi, seberapa cantik, seberapa menggoda itu orang ketiga kalo pasangan nggak menyediakan celah barang setitik. Jadi, kenapa yang selalu disalahkan itu orang ketiga?

Kadang skenarionya bener-bener nggak masuk akal. Jadi ceritanya ada bapak-bapak A udah punya istri dan dia ngedeketin perempuan single C. Terus nanti yang disalahin dan dibenci sama netijen siapa? Oh jelas si perempuan C yang notabene dideketin duluan sama bapak A. Atau kalo skenarionya terbalik, si perempuan duluan yang ngedeketin terus cowoknya mau. Yang disalahin kan perempuan ya. Jadi entah mau bagaimana pun skenarionya, kalo ketauan sama netijen pasti yang dicap perusak atau perebut itu pihak perempuan.

Dari sudut pandang gue, yang salah itu ya mereka semua. Istri, bapak dan si yang disebut pelakor ini. Mereka semua salah tapi yang membedakan adalah kadarnya. Karena seperti di paragraf yang di atas naik dikit, orang ketiga nggak bakal masuk kalo nggak dikasih celah.

Lagian, siapa sih manusia yang nggak pernah salah di dunia ini? Ehe. Bahkan, kalimat gue setelah ini atau sudut pandang gue dalam postingan ini bisa salah banget di mata orang.


Rasanya hati ini udah cukup menuangkan segala resahnya. Sekali lagi, ini tulisan menurut gue sendiri pada usia 20 tahun. Mungkin beberapa tahun lagi, sudut pandang gue akan sesuatu bisa berubah termasuk terhadap 3 poin di atas. Yang jelas, cinta qu pada kalian tida akan pernah padam. Mwah!

Advertisements

19 thoughts on “Perempuan dan Isu Perempuan di Usia 20

  1. Tentang poin nomer 2, aku setuju sama kamu. Kenapa orang Indonesia kalo ada pelecehan selalu bilang, β€œItu karena pakaian wanitanya terlalu seksi”. Itu bullshit banget, itu aneh!, seolah-olah wanitanya lah yang salah, padahal kan yang salah si pelaku pelecehan tersebut yang ga bisa mengontrol diri (bukan karena salah si wanita pake pakaian yg terlalu seksi).

    Indonesia memang agak aneh, disini wanita selalu disalahkan dan dijadikan objek atas justifikasi nafsu laki-laki.

    Liked by 1 person

    1. Iya banget mas. Emang sih tiap orang punya pendapat sendiri tapi kok ya begini banget, masa yang kayak gini dianggap nggak serius. Padahal anak-anak mereka, adik, atau siapapun di keluarga mereka bisa berpotensi jadi korban jugak. Kalo yang masih nyalahin korban dan dia tiba-tiba jadi korban, apa masih terima disalahin kayak gitu juga? Rasanya sih nggak ya mas, aku juga ndak tau. Tapi sedih aja gitu sama isu ini.

      Laki-laki juga jadinya di cap sebagai orang penuh nafsu sekarang.

      Liked by 1 person

  2. Ketika ada dua pendapat yang berbeda.. terkadang kita tidak mencari siapa yang benar atau siapa yang salah.. bisa saja keduanya sama2 benar atau sama2 salah..

    Karna sebagai manusia kita hidup dengan meyakini hal2 yang kita anggap benar..

    Like

      1. Nah kalo itu tergantung acuan penilaiannya apa.. kalo keduanya hanya pake logika masing2 ya apa2.. tapi kalo salah satunya berpedoman pada segi agama gimana.. pasti ga berimbang.. sebab tak semua ajaran agama bisa dijabarkan dengan sebuah logika 😁

        Liked by 1 person

      2. Iya begitu, jadi aku sih ndak terlalu ambil pusing. Kalo ada yang melihat dari segi agama doang ya wes itu urusan dia, kalo ada yang melihat dari segi logika aja ya wes itu juga urusan dia.
        Jadi aku sih sama penilaian menurut diri sendiri aja ndak bergantung sama orang lain huehuehue.

        Liked by 2 people

  3. keren banget berani ngangkat topik soal feminisme. yang aku tangkap selama ini, ada beberapa wanita yang terlalu berlebihan mendukung feminisme.
    karena emang yang berlebihan itu enggak baik. soal pelakor bu dendi itu ya? sini aku kasih tau artinya. nanti DM di instagram ya nomer whatsappnya *tetep usaha

    Liked by 1 person

    1. Entahlah, kalo dipendem terus-terusan nanti juga nggak enak di hati. Eak. Iya, buatku sih karena semua hal itu baik asal nggak berlebihan jadi selama masih di dalam batas wajar sih ya ndak apa-apa.
      AHAHAH #teteup #tidamenyerah

      Liked by 2 people

  4. Halo mba audris, terimakasih telah menyuguhkan bacaan yang menarik didukung delivery yang ringan, walaupun memang banyak hal yang di simplifikasi dan menurutku permasalahan jauh lebih besar dari yang mba audris sebutkan. Tapi selebihnya memang perempuan dan kehidupannya memang bahan yang menarik sekaligus membingungkan untuk sekedar dipikirkan “apakah mereka baik-baik saja?”. Senang bisa membaca ini. mungkin mba audris bisa juga main ke rasakarsadialektika.wordpress.com untuk memberikan masukan dan saran πŸ™‚

    Terimakasih mba, saya tunggu kunjungannya πŸ™‚

    Like

Diterima Apa Adanya Kok

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

w

Connecting to %s