#CeritaCerita: Pernah Kagum


#nowplaying Gaze – Adithia Sofyan.

Perkenalkan, ini adalah tulisan tentang mantan selama 20 tahun hidup di dunia. Nggak, bukan mantan pacar, apalagi mantan suami, ini statusnya mantan gebetan. Mungkin ada yang nggak tau dengan istilah gebetan, mari memperluas istilahnya, yaitu orang yang pernah kita kagumi dan sempat memberi memori-memori tertentu dalam hidup ini.

Lalu, berapa mantan gebetan yang pernah menuai sepercik rasa geli dalam perut ini?

Ehm, satu.

Iya, hanya satu.

Gue pernah membalas perasaan seseorang, tapi rasanya itu bukan karena gue yang ngegebet dia duluan. Nanti bakal diceritain, tapi ditulisan lain aja. Sekarang fokus dulu ke mantan gebetan ini. Ihiy.

Jadi ceritanya, seorang Audris masih duduk di bangku SMA kelas 11 waktu itu. Jaman-jamannya gue nggak suka difoto, rasanya insecure sama diri sendiri karena banyak faktor yang sebenernya gue nggak peduli juga, tapi cukup mendukung kenapa gue tidak dikagumi kaum lelaki. Tapi siapa yang peduli? Seenggaknya itu yang gue tau, rasanya nggak akan ada cowok yang bakal menaruh rasa sama perempuan kayak gue.

Saat itu, masih jaman-jamannya gue dan yang lain ngomongin tentang cowok. Saat gue masih menjadi seorang idealis dalam memilih cowok. Disaat temen-temen lagi deket sama cowok-cowok, gimana mereka galau-galau, gimana mereka punya pacar – putus – ganti lagi, gue cuma berperan sebagai pendengar dan saksi hidup kisah cinta mereka sambil menunggu sosok cowok ideal yang gue idamkan.

Kelas 11 itu pula, gue mulai seneng sama seseorang. Sebut saja namanya Y. Entah apa yang harus disukai darinya, yang gue sadar adalah dia nggak begitu peduli sama lingkungan sekitarnya. Seenggaknya itu yang gue tau tentang dia, karena dia hanya menunjukkan apa yang pengen dia tunjukan ke orang-orang. Atau memang, gue aja yang nggak deket sama dia.

Bentar, istirahat dulu. Gue nggak biasa nulis kisah romansa kayak begini. Huft.

Oke lanjut lagi.

Terus sampai kelas 12, ternyata si kupu-kupu dan rasa kagum gue terhadapnya nggak ilang-ilang. Tapi ternyata proses seperti itu gue nikmati. Maksudnya, entah itu sedih, seneng dan bahkan kangennya itu selalu gue nikmati. Percaya atau nggak, yang tau kalo gue pernah punya gebetan saat SMA hanya segelintir orang. Pertama adalah temen-temen gue jaman SMP, adik sepupu gue dan beberapa temen SMA.

Sampai akhir waktu kagum sama dia, gue baru sadar apa yang bikin gue menikmatinya, yaitu gue nggak berharap. Gue nggak berharap dibales, gue nggak berharap orang-orang tau, gue nggak berharap dia tau, bener-bener gue nggak berharap apapun. Hal itu adalah kunci penting dari kenikmatan, bukannya kekecewaan. Gue sadar, seenggaknya waktu itu, kalo gue berharap maka orientasi gue bukan sebagai pengagum, tapi untuk dijadikan sesuatu yang lebih dari itu dan gue nggak mau.

Gue nggak tahu, kalo kagum itu kita harus ngapain. Yang gue paham adalah, ada beberapa hal dalam dirinya yang selalu bikin gue terpesona. Jijik banget, tapi waktu itu memang begitu adanya. Gue sampai hafal parfumnya, sampe kangen kalo udah lama nggak mencium baunya dan tiba-tiba keinget sama dia kalo di jalan atau di tempat lain mencium bau yang sama. Bau yang pernah gue kagumi dulu. Entah kenapa ya kalau bau itu suka bikin kesan tertentu, suka mampu membawa otak ini menuju memori-memori yang kalau berusaha diinget aja tanpa ada perantara bau atau lagu, malah nggak bakal inget.

Gue sampe kangen kalo udah lama nggak ketemu, tapi nggak pernah diutarain karena untuk apa pula. Itu kan gue yang nanggung, bukan dia. Jadi pengagum satu pihak itu bukan sesuatu yang salah dan menyakitkan kok. Buktinya gue nggak sakit hati.
Pengalaman kagum pada seseorang ini emang yang paling berkesan sih. Disamping fakta bahwa ada orang yang menaruh rasa sama gue dan gue membalasnya dan kita sama-sama tahu kalo kita saling punya rasa, gue ternyata lebih suka rasa kagum diam-diam ini. Gue malah suka banget kalo dianya nggak tahu kalo gue kagum, jadi cukup gue, Allah dan orang-orang yang dikasih tau aja yang paham. Cintailah diam-diam, rasanya lebih syahdu daripada cinta yang diperlihatkan dan menggebu-gebu. Lalu sampai sekarang gue masih belum bisa membedakan cinta dan suka itu apa. Dulu sih si gebetan ini berarti masih dalam tahap suka kan ya bukan cinta beneran.

Walaupun hanya sebatas gebetan, tapi hal itu adalah yang paling berkesan. Terima kasih, untuk kesempatan kenal dan akhirnya gue kagum. Kampret. Padahal kalo dipikir-pikir, apa yang harus dikagumi darinya? Namun, ternyata rasa kagum itu bersifat relatif, penilaian setiap orang akan kadar kagum kan berbeda. Buat gue, hal-hal sepele pun bisa bikin kagum. 

Maaf, gue belum sempet untuk mengutarakan hal ini secara langsung, gue masih belum berani. Entah berapa puluh tahun lagi kalo kita masih sama-sama dikasih umur dan dikasih kesempatan ketemu, gue akan mengutarakannya. Pakai nada sedikit bercanda dan jaga image, padahal dalam hati mungkin atau pasti degdegan banget. Nggak apa-apa, demi mengutarakan, gue rela degdegan lagi.

Terima kasih, mantan gebetan. Tapi untuk sekarang, rasa itu udah sirna, untungnya. Seenggaknya gue pernah kagum diam-diam walaupun hal itu nggak terbalaskan karena nggak ada yang tau, tapi gue bener-bener menikmati jadi secret admirer kayak judul lagu Mocca itu. Gue pun bersyukur karena nggak ada yang tahu, gue bisa lebih syahdu mengaguminya.

Apa sih ah.

Udahan deh, nanti jadi kangen.

Eh.

Source: Tumblr.
Advertisements

#CeritaCerita: Bagian Yang Berubah


#nowplaying Himalaya – Maliq & D’Essentials.

Sebenernya pengen ngebuat hashtagnya bukan #CeritaCerita, tapi kalo diganti seperti yang direncanakan diawal nggak akan asik. Emang rencananya apa sih? Pengennya #CeritaCinta tapi terlalu menjijikan dan bukan gue banget. Maka dari itu, gue mengubahnya jadi #CeritaCerita, walaupun isinya juga tetep soal cinta-cintaan. Ini adalah bagian pertama dari entah berapa bagian pada akhirnya. Selamat menyelam!

Continue reading “#CeritaCerita: Bagian Yang Berubah”