Final Page


A Year Ago

Bandung, 30 Desember 2012

Dipaksa itu tidak pernah membuat semuanya menjadi lebih baik, tapi tidak membuat sesuatu menjadi semakin buruk pula. Pasti ada alasan untuk sebuah paksaan ikut liburan keluarga besar dengan anggota yang mencapai angka lebih dari 10. Terlalu banyak? Ya, aku akui itu. Aku bukan anak kecil, bukan juga orang dewasa. Aku butuh teman, teman dengan umur sebaya atau setidaknya hanya berbeda 1-3 tahun dariku selama perjalanan ini.

Tapi nyatanya, aku dikelilingi bocah-bocah ingusan berisik yang terlalu mudah menangis. Lucu memang, tapi mereka hanya bisa aku pandang dari jauh karena jika aku sudah dekat dengan mereka, maka akan sangat susah untuk kembali sendiri. Orang-orang yang sekiranya sebaya denganku baru akan pergi sore nanti, itu berarti masih ada 5 jam lagi sebelum kedatangan mereka.

Jadi, disinilah aku terdampar. Duduk satu mobil bersama kedua orang tuaku, sepasang orang tua lainnya yang aku panggil sebagai ‘Om’ dan ‘Tante’ serta anak tunggal mereka yang tidak bisa lepas dari gadget-nya padahal ia baru berumur 8 tahun. Daritadi aku mencari lagu yang enak untuk didengar, tapi backsound game yang sedang dimainkan bocah disampingku ini selalu berhasil menembus headset padahal aku sudah memintanya untuk mengecilkan volume. Backsound menyebalkan itu membuat lagu favoritku pun tidak enak untuk didengar.

Masih tersisa 3 jam perjalanan lagi untuk bisa sampai Bandung karena rombongan ini masih harus menjemput rombongan lain yang tersebar di daerah Depok, Bogor dan Bekasi. Tapi sialnya, sampai sekarang aku belum bisa tenang karena satu bocah disampingku ini.

“Kak Rei, kecilin dong volume lagunya. Kedengeran banget sampai luar.” Protes bocah disebelahku ini setelah mem-pause gamenya, dan aku berharap selalu seperti itu. “Lo juga volume gamenya terlalu kenceng. Berisik, makannya gue setel lagu kenceng-kenceng,” jawabku, yang aku baru sadar bahwa caraku berbicara tadi terlalu kasar untuk bocah ingusan disebelahku ini. Alih-alih menjawab atau berhenti bermain, ia malah mendengus dan memperbesar volume game-nya lalu kembali bermain seakan hanya ada dia di mobil ini.

Anehnya, tidak ada satu orangpun yang protes. Gila, ini benar-benar gila. “Elisa, kecilin volumenya.” Akhirnya, sebuah protes keluar dari mulut mama yang duduk di deretan tengah mobil keluaran Nissan ini. “Ya, tante.”dengan berat hati, bocah disampingku ini mengecilkan volume gamenya. Dalam hati aku tertawa puas melihatnya. “Kurang kecil,” tambahku setelah ia mengurangi sedikit volume gamenya. “Terserah aku dong Kak.”

Akhirnya aku merebut gadget gepeng lebar dari tangannya dan mengecilkan volume sampai benar-benar tidak ada suara keluar dari sana. Setelah sadar ada lapisan tipis bening yang mulai menyelimuti kedua matanya, aku buru-buru mengembalikan gadget itu dan menatap keluar, pura-pura tidak terjadi apa-apa hingga ia mulai menangis. Tamatlah riwayatku.

***

            “Bandung dulu nggak semacet ini ya,” suara mama membangunkanku. Ditambah bunyi klakson yang samar-samar terdengar dari luar. Aku melihat sekitar, rata-rata mobil disini berplat sama seperti mobil yang sedang aku dan keluargaku gunakan. Baru kali ini aku sadar bahwa mobil-mobil dari kota yang sama sepertiku sudah berhasil membuat Bandung menjadi sangat padat daripada biasanya.

“Kebanyakan plat B ya,” tambah papa, entah sadar atau tidak bahwa mobil yang sedang disetirnya ini berplat B juga. “Kita juga B kan,” ujar Tante Yurin, mama dari bocah gila gadget bernama Elisa yang sekarang sedang tidur. “Tapi kita nggak tiap minggu kesini, jadi nggak perlu merasa.” Komentar papa yang dari nada bicaranya, sudah bisa tercium bau kekesalan disana. Lalu, kesunyian kembali menyelimuti mobil ini.

Bandung tidak banyak berubah, rupanya. Sekarang lahan kecil di pinggir jalan sudah ditutupi tanaman berbagai jenis dan beberapa trotoar yang setahun lalu tidak jelas bentuknya sekarang sudah ditata sebagus mungkin. Mengingat keadaan setahun lalu, wajah seseorang kembali terbayang di pikiran. Seseorang yang bahkan aku tidak tahu namanya tapi setahun yang lalu orang tua kami berbincang layaknya teman lama padahal baru bertemu saat itu juga.

Ingatanku semakin menjadi saat mobil ini melewati lapangan Sabuga, tempat saat pertama kali orang tuaku dan orang tua gadis yang tidak tahu namanya siapa, bertemu. “Gimana kabar Pak Bena eh… Pak siapa ya namanya?” gumam mama. “Pak Beno ma,” aku mengoreksi perkataan mama. “Ah iya! Pak Beno, orang yang ngobrol sama kita tahun kemarin di lapangan ini. Iya kan, Rei?”

“Iya ma.”

“Oh, papa inget kayaknya. Waktu itu ada anaknya juga, perempuan.”

“Iya, mukanya judes banget. Mama nggak suka.” Tiba-tiba raut wajah mama pun menyiratkan ketidak sukaan. “Untung dia nggak gaul sama kamu, Rei. Nanti yang ada kalian perang tatap-tatapan,” komentar papa lalu terkekeh. Aku diam, merasa tidak perlu merespon kalimat papa tadi. “Tapi kalo diinget-inget, mukanya mirip sama kamu lho, Reinaldo. Sama-sama juteknya,” ujar mama lalu tersenyum lebar kearahku, yang aku balas dengan tatapan datar.

Sebenarnya, beberapa hari sebelum aku bertemu dengan gadis jutek itu dan kedua orang tuanya di tempat lari, aku sudah bertemu dengannya terlebih dahulu. Kita berdua sama-sama dalam keadaan kacau, tapi rasanya gadis itu lebih kacau karena ia bahkan tidak ingat namanya. Tapi, tidak ada yang tahu perihal kejadian itu selain diriku dan 3 orang teman yang sekarang sedang ada di Bali, kembali melaksanakan ritual penghabisan 7 malam akhir tahun di tempat remang-remang dengan berbagai jenis minuman. Tahun kemarin, aku bertemu gadis itu di malam ke-6 ritual kami.

Akhir tahun ini, aku jadi ingin bertemu dengan perempuan yang kata mama memiliki wajah jutek sama sepertiku. Entah ia masih mengingatku atau tidak, tapi kali nanti jika bertemu aku akan menanyakan namanya, aku akan memastikan kita bisa menjadi teman. Sederhana, bukan? Tapi aku tahu hal sederhana seperti itu tidak akan mudah untuk menjadi kenyataan. Jadi, aku bertekad untuk berhenti berharap dan kembali menikmati kemacetan akhir tahun Kota Kembang ini sambil membiarkan memoriku memutar ulang kejadian tahun kemarin di tanggal yang sama seperti hari ini.

***

Bandung, 30 Desember 2011

            Aku memijat kening yang rasanya seperti dipukul-pukul benda keras, ditambah lambung yang tidak bisa diajak berkompromi karena daritadi aku selalu merasa mual. Kali ini rasanya seperti aku akan memuntahkan semua organ-organ dalam tubuh agar tidak merasa sakit lagi. Padahal, aku sudah berhasil menghindari minuman beralkohol selama 5 hari terakhir tapi di hari ke-6  ritual ketiga orang paling kampret sedunia ini membuatku ingin muntah. Semua gara-gara aku kalah dalam permainan truth or dare karena aku memilih dare.

            Tantangannya cukup sulit untukku, yaitu merayu perempuan sampai perempuan itu mau duduk bersamaku dan ketiga temanku ini. Karena aku tidak biasa merayu perempuan, jadi aku  gagal. Sebagai hukuman, mereka menutup mataku dan memaksaku minum segelas vodka. Dan seperti inilah aku sekarang, duduk menopang kepala yang terasa lebih berat dari biasanya selagi menunggu ketiga temanku selesai menumpahkan emosi mereka lewat tarian tidak jelas gerakannya. Seharusnya aku bisa menari bersama yang lain dan pura-pura mabok, tapi hari ini adalah hari pertama aku minum minuman beralkohol, jadi, beginilah akhirnya.  

            Tiba-tiba seorang gadis menidurkan kepalanya di meja bar yang panjang dengan posisi kepala melihatku. Rambutnya yang terurai bebas melewati bahu itu terlihat berantakan. Ia lalu mengangkat kepalanya, tersenyum tipis dengan mata sayu dan hidung merah. “Hai,” katanya. Aku mengulum sebuah senyuman, “Sama-sama pusing, hah?” tanyaku. Ia mengangguk-angguk, “Pusing banget.” Jawabnya. “Kenapa ada disini?” aku membuka percakapan terlebih dahulu—sebuah hal yang tidak biasa aku lakukan. Ia terkekeh sebentar sebelum menjawab pertanyaanku. “Stress. Lo sendiri?”

            Aku mengedikkan bahu, “Nasib.”

            Gadis itu lalu tertawa dan pindah duduk ke bangku disebelahku. “Umur lo berapa sih? Nasibnya sial banget harus sampai kesini,” tanya gadis disampingku ini. Nafasnya terlalu bau alkohol. “Umur lo berapa emang?” aku bertanya balik, tidak mudah untukku memberi tahu sesuatu pada orang yang tidak aku kenal. “Tujuh belas.” Jawabnya kalem. “Ternyata nasib lo lebih sial daripada nasib gue.” Komentarku, sudah tidak peduli apakah gadis itu akan merasa tersinggung atau apa. Omong-omong, umurku sama dengan gadis ini.

            “Nasib gue emang nggak pernah bagus dari gue lahir.” Tiba-tiba suasana berubah menjadi canggung. Tidak terlihat senyum atau cengiran konyol seperti detik detik sebelumnya. Lalu ia beranjak dari duduknya, aku buru-buru menahannya. “Bentar. Nama lo siapa?” ia tidak menatapku dan juga tidak memberontak karena aku mencengkram tangannya. “Nama gue… Nama gue siapa ya.” Sedetik setelah itu, ia tertawa lepas. Melihat seorang gadis seperti ini membuatku takut, lebih takut daripada aku melihat waria. Akhirnya, dengan berat hati aku lepaskan cengkramanku, membiarkan gadis itu pergi dan lenyap dalam kerumunan orang-orang pencari kesenangan.

***

Kumpul bersama keluarga besar tidak terasa menyenangkan seperti dulu. Setelah kepergian kakak ke Eropa untuk melanjutkan studinya disana 5 bulan lalu, aku merasa sebagian kecil dari hidupku pun ikut pergi bersamanya. Beberapa menit lagi, keluarga besarku ini akan pergi ke restoran di daerah Dago, yang menyajikan pemandangan seluruh Kota Bandung pada malam hari tapi tidak ada tanda-tanda mama dan ibu-ibu lainnya siap untuk pergi. Aku sudah duduk di ruang tamu sejak 10 menit yang lalu, menunggu para ibu-ibu selesai dandan. Heran, kenapa butuh waktu yang sangat lama hanya untuk dandan makan malam?

Tiba-tiba seseorang memencet bel rumah. Aku tidak merasa harus membukanya karena pasti Mbak Put akan membukakannya. Hening sesaat, tidak ada tanda-tanda Mbak Put berjalan untuk membukakan pintu. Lalu, bel rumah kembali berbunyi. Kali ini lebih panjang dari pada yang pertama. Akhirnya aku mengalah pada egoku, membiarkan kaki ini berjalan untuk membukakan pintu pada orang tidak sabaran diluar rumah.

Aku membuka daun pintu, melihat seseorang berdiri di depan pagar tinggi rumah ini. Ia terlihat sebagai siluet dari tempatku berdiri. Aku berjalan mendekat, “Ya?” tanyaku saat sudah tersisa beberapa langkah dari pagar. “Ada titipan.” Ujar sebuah suara seorang perempuan lalu aku melihat piring besar tertutup beberapa lembar tisu ditangannya.

Aku buru-buru membuka pagar dan menerima piring besar itu. Seorang gadis dengan rambut yang diikat berantakan lalu mengangkat kepala untuk menatapku, dan saat itu keningnya berkerut heran.  “Eh, ini titipan dari keluarga Soemohardjo,” katanya. Aku mengangguk-angguk, berusaha terlihat kalem padahal otakku sedang berusaha mencerna arti momen dimana perempuan ini menatapku heran. “Makasih.” Dan perempuan dengan rambut diikat berantakan itu langsung pergi begitu saja.

Ada satu pertanyaan besar di pikiranku, apakah orang-orang disini masih senang menyebutkan nama marga keluarga mereka daripada menyebutkan nama Ayah atau Kakeknya? Itu sebuah tradisi yang nyaris hilang, menurutku. Dan melihat ada yang masih mempertahankan nama marganya seperti tadi membuatku mengaca. Lagipula, ternyata keren juga menggunakan nama marga. Sepertinya aku harus mulai menggunakan marga saat perkenalan atau apa.

“Itu apa Rei?” tiba-tiba kakek—yang entah sejak kapan sudah duduk di teras, melihat heran kearahku. “Titipan, dari keluaga Soemohardjo.” Jawabku, merasa sedikit geli saat menyebut marga seseorang karena aku tidak pernah melakukan hal seperti itu sebelumnya. “Oh, makanan ya? Dari tahun kemarin selalu seperti ini ya keluarga Pak Soemohardjo itu.” Gumam kakek. Aku mengangguk-angguk sekilas dan berjalan masuk. “Itu apa Kak?” tanya Tante Luna, ibu-ibu yang pertama kali selesai dandan. Aku salut dengannya.

“Titipan dari tetangga.” Jawabku, yang hanya mendapat anggukan dari Tante Luna. Aku menaruh piring besar ini di meja makan lalu mengaca sebentar di kaca besar yang sengaja ditaruh dekat meja makan supaya ruangan ini lebih terlihat besar, kata nenek. Tataan rambutku sudah hampir hancur karena menunggu para ibu-ibu selesai berdandan. Aku lantas menarik rambut agar kembali ke atas, setelah sampai di restoran nanti, tidak peduli apakah rambutku berantakan atau tidak, yang penting saat pergi harus rapi.

“Udah ganteng, Rei! Centil banget sih cowok pake dandan segala,” komentar Hanna yang sudah berdiri dibelakangku dengan segelas minuman ditangannya. Aku terkekeh menanggapinya, “Biar makin ganteng.” Ujarku. Hanna, perempuan itu seumuran denganku. “Ayo pergi!” tidak lama setelah aku merapikan tataan rambut, dua kata yang aku tunggu-tunggu daritadi terucap juga oleh Om Retno.

***

Bandung, 31 Desember 2012

Acara makan malam sekeluarga tadi malam berjalan lancar, nanti malam kami berencana untuk mengadakan pesta bakar-bakar kecil-kecilan di halaman rumah daripada bergelut dengan macetnya Kota Bandung di malam tahun baru. Pagi ini aku sudah bersiap untuk olahraga, mengingat udara disini lebih segar daripada udara Ibu Kota. Aku tidak akan olahraga sendiri, tentunya. Ada Gyfon, Hanna dan Wildan. Dari kami berempat, yang paling muda adalah Gyfon, usianya baru 15 tahun.

Sebenarnya, alasan pribadi aku olahraga pagi adalah, aku ingin melihat perempuan yang tadi malam mengantarkan titipan. Sekedar melihat ya, tidak lebih—walaupun aku sadar hal itu benar-benar sebuah kebohongan. Aku jelas-jelas ingin berkenalan dengannya, berteman dengannya, jadi aku punya teman di Bandung. Walaupun lagi, aku tahu hal yang baru saja aku sebutkan itu merupakan kebohongan—lagi. Siapa sih, laki-laki yang tidak ingin berpacaran dengan perempuan tadi malam? Lagipula, sepertinya kita memang pernah bertemu.

Aku memasang headset, membiarkan lagu Tennis Court dari Lorde ini mengalun. Yang lain sudah lari duluan, aku sengaja mengulur waktu agar misiku untuk melihat perempuan tadi malam tidak terganggu. Setelah memastikan Wildan, Gyfon dan Hanna tidak terlihat di jalanan, aku mulai berlari, memperhatikan setiap rumah yang ada. Sudah bertahun-tahun aku menghabiskan malam tahun baru di komplek ini, tapi baru pagi ini aku sadar bahwa rumah-rumah disini bentuknya beragam dan sangat menarik.

Pantas saja nenek dan kakek enggan untuk pindah dari rumah besar yang sekarang menjadi basecamp keluarga setiap ada acara tahunan. Karena rumah mereka pun tidak kalah menariknya, hanya saja terlihat lebih tua umurnya dari rumah-rumah disekitar rumah mereka. Lalu aku melihat seseorang keluar dari sebuah rumah, dengan rollerblade di kakinya. Ia hanya sendiri, ia pun tidak memakai helm atau pun alat pengaman lainnya. Aku yakin itu perempuan yang tadi malam.

Diam-diam aku tersenyum, akhirnya keinginanku untuk melihatnya kembali tercapai. Dan baru kali ini aku yakin bahwa ia memang perempuan setahun lalu. Aku berusaha mempertipis jarak diantara kami, ia menutup kedua telinganya dengan headset putih, tampak tidak sadar bahwa ada orang yang daritadi mengawasinya hati-hati. Sekarang, perempuan itu duduk di trotoar, tepat di lapangan komplek. Tempat berbagai jajanan khas pagi dipamerkan sekeliling lapang. Rata-rata orang yang ada disini adalah penghuni komplek.

Aku pura-pura tidak melihatnya, lalu berjalan lewat didepannya, berharap ia menghentikan langkahku dan berbicara panjang lebar layaknya teman lama. Tapi, saat aku jalan dihadapannya, tidak ada tanda-tanda ia mengenaliku atau apa. Usaha pertamaku gagal. Akhirnya aku menghampiri Gyfon, Hanna dan Wildan yang sedang duduk dengan bulir keringat keluar dari kening mereka.

“Lama banget lo Rei, kita udah kecapean kayak gini.” Komentar Wildan sambil mengipas-ngipaskan handuk kecilnya. Aku mengedikkan bahu, “Gue nggak pengen capek kayak lo semua jadi pelan-pelan, yang penting gerak.” Ucapku sekenanya. Aku memilih tempat duduk yang bisa terus melihat perempuan rollerblade itu dengan mudah. “Nanti siang kita beli kembang api yuk.” Ajak Gyfon sesaat setelah bubur ayamnya datang. Disusul dengan bubur milik Hanna dan Wildan. “Belum ada yang beli?” tanyaku, heran ternyata belum ada yang beli benda paling penting untuk tahun baru itu.

Ketiga saudaraku ini menggeleng sambil melahap buburnya. Tiba-tiba ponselku berbunyi, menandakan ada telepon masuk. Lalu, aku mendapati nama ‘Tronton’ di layar ponsel. Aku memencet tanda hijau di layar lalu menempelkan ponsel ke telinga kanan, “Ada ap—“

“LO TAU REI? KITA DISINI KETEMU LAGI SAMA CEWEK YANG WAKTU ITU GUE TAMPAR WAKTU RITUAL DI BANDUNG.”

Aku buru-buru mengelus telinga kananku sambil beranjak menjauh dari tempat bubur. “Jangan teriak bisa nggak?”

“Ya sori deh, tapi gue beneran… Si cewek itu juga masih inget sama gue ternyata.”

“Siapa sih orang yang bakal lupa sama orang yang pernah nampar mereka? Terus? Lo ngapain? Dia ngapain? Nampar lo balik?”

“Lebih parah!”

Aku mengerutkan kening, “Ngancem mau ngebunuh lo?”

“Nggak, dia minta nomer hape gue Rei! Nggak tahu gue harus seneng atau sedih.” Aku terkekeh mendengar berita tersebut. “Seneng lah! Lagian ceweknya juga cantik, kan?” Aku mendengar Gerald—yang sering aku panggil Tronton itu tertawa disebrang sana. “Lo gimana? Ketemu lagi sama cewek yang waktu itu?” Aku terdiam, tidak kunjung menjawab pertanyaannya. “Rei?”

“Oh, iya kayaknya. Dia lagi duduk nggak jauh dari tempat gue berdiri, tapi gue nggak tahu itu beneran dia atau nggak soalnya dia sama sekali nggak ngasih tanda bahwa dia kenal gue.” Jelasku lalu menghembuskan nafas pelan. “Jangan kecewa gitu dong, bro! Masih ada seribu cara lain buat kenal sama dia! Lo pengen kan kenal sama cewek itu?” Aku mengangguk—yang jelas-jelas tidak akan bisa dilihat oleh Tronton. Bodoh sekali aku.

“Mau.” Jawabku akhirnya. “Dengerin rencana gue. Tapi lo nggak boleh gugup! Deal? Dengerin loh ya,” Lalu, aku mendengarkan rencana yang diberikan Tronton, tidak sadar bahwa daritadi perempuan yang ingin aku ketahui namanya sedang berdiri beberapa langkah dari tempatku berdiri. Sial. Aku buru-buru menghentikan sambungan telepon, lalu menatap perempuan didepanku ini gugup.

“Sori, ini punya lo?” tanyanya sambil menyodorkan sebuah headset. Sebentar, harusnya headset itu ada tergantung di leher karena aku melingkarkannya bak sebuah handuk kecil. Aku mengambil headset dari tangannya dan mengamatinya sebentar. “Iya, nemu dimana?” tanyaku. “Tadi, pas lo lewat di depan gue terus ada sesuatu jatuh. Taunya itu,” jelasnya. Aku mengangguk-angguk lalu menunduk, merasa bodoh sebagai lelaki karena tidak bisa menemukan topik lain. Ayo berpikir Rei, berpikir!

Akhirnya sebuah pertanyaan terlintas dipikiranku, “Eh, taun kema—“ saat itu juga, aku baru sadar bahwa perempuan rollerblade tadi sudah tidak ada dihadapanku. Aku menyapukan pandangan ke sekeliling, tapi tidak menemukannya. Apakah ia yang terlalu cepat hilang atau aku yang terlalu lama berpikir? Sial, aku kehilangan jejaknya. Tapi, kenapa pula aku merasa harus kenal dengannya?

***

Sisa 2 jam menuju pergantian tahun, aku baru selesai menyiapkan arang yang sekarang sudah menghasilkan api kecil. Kami akan bakar-bakar malam ini. Sekarang tugasku adalah mencari perempuan tadi pagi. Aku keluar pagar, melihat sekililing. Sudah ada beberapa keluarga yang menyalakan kembang api tidak jauh dari rumah nenek dan kakek. Lalu aku duduk di trotoar, ingin sekali aku berkenalan dengan perempuan itu.

Tidak lama, sepasang kaki dengan sepatu kets putih diam dihadapanku. Aku mendongak untuk melihat siapa pemilik sepatu itu. “Lo orang yang tahun kemaren ngobrol sama gue di tempat itu kan?” tanyanya datar. Detak jantungku tiba-tiba berdebar lebih kencang dari biasanya. “Lo orang yang tahun kemaren nanyain nama gue kan?” tanyanya lagi. Aku berdiri, ia mundur beberapa langkah untuk menciptakan jarak diantara kami. “Lo orang yang tadi pagi nemuin headset gue kan?” akhirnya aku melemparkan sebuah pertanyaan balik padanya.

Ia tersenyum tipis lalu mengangguk. “Nama gue Belleza. Maaf lancang, tapi tolong jaga apa yang gue lakukan di tahun lalu,”

Aku mengangguk-angguk, merasa lega karena ternyata berteman itu bisa semudah ini. Apalagi, aku tidak perlu repot-repot memulai percakapan karena ia yang memulai terlebih dahulu. Aku mengedikkan bahu, “Oh, gue Rei. Itu selalu jadi rahasia, selalu jadi sesuatu yang nggak akan gue ulangin juga.” Ia mengangguk sekilas, “Makasih ya. Happy new year, new friend!” katanya lalu berbalik. Kali ini aku menahan tangannya, “Tahun baruan bareng gue?” tawarku. Ia melihatku sekilas lalu mengedarkan pandangan ke teras rumah nenekku dan menggeleng.

“Banyak orang nunggu lo di dalem kayaknya. Besok kita bisa ketemu lagi,”

Aku berusaha setengah mati menahan agar tidak ada kekecewaan yang kuperlihatkan padanya. “Besok? Oh… Oke. Kita bisa ngobrol lagi kan, Belleza?” tanyaku, yang lebih terdengar seperti permintaan. Ia mengangguk sambil tersenyum lebar, “Sampai ketemu besok ya, Rei!” katanya lalu melepaskan peganganku halus dari tangannya. Setelah itu, aku masuk rumah dengan berat hati. Padahal, aku ingin sekali menghabiskan malam tahun baru ini dengannya.

30 menit terasa begitu lama, orang-orang sedang sibuk dengan makanan yang mereka bakar. Sedangkan aku, Hanna, Gyfon dan Wildan menyiapkan kembang api berbagai jenis untuk diluncurkan. Serasa bersaing dengan tetangga-tetangga lain yang menghabiskan malam tahun baru mereka di rumah.

30 menit lagi terlewati, tapi kali ini lebih cepat daripada 30 menit sebelumnya. Lalu 30 menit setelah itu, aku sudah menghabiskan 2 potong bratwurst besar. Terhitung 15 menit menuju pergantian tahun, aku dan anggota keluargaku yang lain sudah siap di halaman depan, beberapa kembang api sudah siap diluncurkan. Saat tersisa 5 menit, Om Retno berseru. “AYO MAKE A WISH SEMUANYA!” lalu aku berbisik di dalam hati, berharap permintaanku ini terkabul.

Waktu sudah menunjukan pukul 00:00, kami semua berseru “Happy new year!” tapi permohonanku belum juga menjadi kenyataan. Beberapa orang kembali ke rumah, aku sengaja duduk di trotoar untuk menunggunya sambil menelungkupkan kepala dibalik tangan. “Happy new year.” Bisik seseorang. Aku buru-buru mengangkat kepala, lalu mendapati gadis itu berjongkok tepat didepanku dengan senyum lebar diwajahnya. Permintaan tahun baruku terkabul.

***

Bandung, 31 Desember 2013

Aku kembali lagi kesini, ke tempat setahun lalu aku mengenal Belleza. Malam ini terasa lebih spesial daripada malam-malam biasanya, karena hari ini genap satu tahun aku mengenal Belleza. Perempuan ini tidak banyak berubah, hanya aku mengetahui bahwa ternyata ia cerewet. Beberapa menit lagi pergantian tahun, aku sudah menyiapkan sesuatu untuknya.

“Rei, foto dulu sini bareng gue.” Katanya dengan kembang api menyala di tangan. Aku setengah berlari ke arahnya, lalu meminta Wildan untuk mengabadikan foto kami berdua. “Satu… Dua…” tept saat itu, aku merangkulkan tanganku di pinggang perempuan ini, membuatnya buru-buru melihatku. Hasil fotonya pun begitu.

Tepat saat jam 00:00, aku berbisik ditelinganya. Sesuatu yang tidak pernah aku ucapkan pada semua gadis yang pernah aku dekati. Sesuatu yang mengikat kami berdua, entah untuk berapa lama, tapi aku berharap selamanya. “Kita udah jadi pasangan, kan?” tanyaku memastikan. Belleza terkekeh lalu memukul pundakku, “Jangan terlalu gugup kayak gitu dong!”

Dan, halaman terakhir di tahun 2013 ini terisi sempurna dengan nama Belleza didalamnya.

 

Advertisements

#6 *request-an AK -__-


Kate mengangguk-angguk mengerti, “Sam… Kau bukan asli Eropa ‘kan?” tanyanya. Sam mengangguk. “Lalu bagaimana kau bisa ada disini? Datang di pesta ini?” tanya Kate merasa ia tidak perlu tahu bagaimana Sam bisa tinggal di Paris. “Kau pasti kenal Max bukan? Ia kakak-ku,” jawab Sam dengan tatapannya yang datar namun menyeramkan. Itu sebabnya, Kate tidak berani untuk menatap pria itu langsung ke mata. Namun Sam menatapnya tepat ke mata. Sam benar-benar menyeramkan. “Max?” tanya Kate. Nama itu dan wajah yang tiba-tiba muncul di pikirannya sangat familiar. Jangan-jangan… “KAU ADIK DARI MODEL SENIOR ITU?!” pekik Kate sambil menutup mulutnya dengan 2 tangan. Sam menatap Kate lemas, tepat dimata. Tatapan itu seolah berkata ‘iya’. “J-jadi, dia punya adik menyeram— eh adik pria maksudku,” kata Kate setelah tersadar dengan apa yang akan ia ucapkan. “Aku tahu kau ingin bilang menyeramkan, bukan?” tanya Sam tenang dan Kate malah menganggapnya sebagai serangan verbal. Kate tertunduk, beberapa detik kemudian mendongkakan kepalanya dan mengangguk. “Tidak perlu takut, aku tidak akan menggigit.” Mendengar kalimat itu, Kate tersenyum memaksa lalu, “Salam kenal… Sam.” Sam hanya membalasnya dengan anggukan tanpa ekspresi lalu kembali asyik dengan iPad-nya. Pria didepannya ini benar-benar menyeramkan. Tatapannya yang bahkan lebih seram dari tatapan sebuah ‘makhluk’ sekalipun dan lebih dingin daripada berbagai jenis ratu salju dari beberapa film fantasi. Untuk sisi itu, Kate sangat menghargai Sam. Ia tahu, pria itu tidak sejahat yang ia karang dipikirannya. Disisi lain, Kate kecewa harus bertemu bahkan berkenalan dengan Sam. Hatinya sakit dengan perlakuan Sam yang dingin bahkan terkadang kelewat dingin. Tak lama, angin berhembus pelan dan menggelitik leher Kate yang tidak terhalang oleh rambut. Dengan satu gerakan cepat, Kate mendudukan tubuhnya dan membuka ikatan rambut tersebut. Hentakan kakinya membuat Sam kembali menoleh dan bertanya, “Kau kenapa? Tersengat listrik?”

Kate masih terduduk lemas lalu menggeleng.

“Atau… Ada sebuah ‘makh—“

Kate buru-buru berdiri dan menutup wajah Sam dengan kedua tangannya sementara kamera yang ia kalungi sedikit memukul pundak Sam. Pria itu tercengang sambil berusaha melepaskan tangan Kate yang menutupi wajahnya. “H-hei!” seru Sam sambil sesekali menepis tangan Kate. Namun, tenaga Kate yang entah-bagaimana-wanita-punya-tenga-seperti-ini tidak mengalah. Bagaimana hukum di dunia ini? Wanita boleh memukul pria namun pria tidak boleh memukul wanita. Kate tidak tahu jika Sam adalah mantan juara berturut-turut turnamen Karate 4 tahun lalu, saat ia masih di Jepang. Sayangnya, Sam tidak boleh mematahkan lengan Kate dengan kelima jarinya sekarang.

Beberapa detik kemudian, Kate melepaskan tangannya dan “Tolong jangan katakan makhluk apa yang kau maksud. Maaf riasanmu hancur,” jelas Kate lalu membalikan tubuhnya. Baru saja beberapa langkah dan mata Sam yang masih memicing Kate, wanita itu menoleh sambil berpikir sesuatu. Sedetik kemudian ia sudah balik kanan dan mata mereka bertemu. “Tapi… Apa riasanmu hancur atau memang dasarnya sudah hancur?” tanya Kate polos dengan mata yang berbinar disinari cahaya dari ball room seperti mata kucing. Sam mendengus kesal, menatap Kate dengan dead eyes-nya tanpa berkata. Seketika Kate bergidik melihatnya. Tanpa ambil pusing, wanita itu hanya melayangkan huruf V dengan telunjuk dan jari tengahnya di udara, lalu buru-buru berjalan masuk ball room dari pintu samping. Ternyata, keluar ball room lewat teras lounge itu jauh lebih aman daripada melewati sisi depan dan berbelok ke samping bertemu dengan semak belukar yang menyeramkan.

Zoe melihat Kate duduk dikursi tempat wanita itu pertama duduk. “Bagaimana? Apa terjadi sesuatu diluar?” tanya Zoe yang awalnya asyik dengan ponsel kesayangannya dan sekarang menatap Kate. Kate terdiam sambil menaruh kameranya, “Hm… lumayan,” dan seketika wajahnya bersemu merah menahan tawa mengingat dirinya yang benar-benar bertingkah bodoh dan seenaknya didepan Sam. “Kau tahu? Max… Senior kita itu mempunyai seorang adik lelaki. Ia membawanya kemari, kabarnya adiknya tersebut terlalu cuek dan meremehkan acara seperti ini sehingga sekarang ia hilang entah kemana. Yang bertahan untuk senantiasa menghargai acara ini hanya Max saja. Dan.. kau tahu nama adiknya itu? Ada unsur jepangnya! Namanya Sam—“

“Samuel Ozuru,”

“Bagaimana kau tahu? Kau bertemu dengan Samuel?”

“Aku itu mind reader,”

Zoe memampangkan mimik datar dengan mata yang tiba-tiba sama datarnya dengan mulut. Benar-benar datar.

***

“Aku benar-benar lelah!” komentar Kate dengan langkah lunglai memasuki apartemennya. Tubuhnya seakan remuk karena seharian ini tubuh bahkan matanya belum beristirahat. Waktu dan jadwal seolah tidak pernah membiarkan wanita sibuk ini beristirahat. Namun apa daya, ia harus menuntasi 2 pekerjaan dan 1 pendidikan sekaligus dalam 2 tahun kedepan. Selepasnya, jadwal ia untuk bekerja akan semakin renggang dan waktunya untuk beristirahat akan semakin lama. Kate tiba-tiba tersenyum membayangkan kemungkinan-kemungkinan menyenangkan itu terjadi dalam hidupnya. Sekilas ia melirik jam dinding yang berada di dekat meja makan dengan 2 kursi tinggi dan sebuah meja yang menyatu dengan rak-rak makanan untuk memasak. Kate menggeleng-geleng saat ia baru sadar bahwa sekarang jam 1 dini hari. Itu gila, belum pernah dirinya pulang selarut ini. Dengan cepat, Kate berganti pakaian yang sudah ternodai oleh beberapa tetes kopi yang tadi ia minum menjadi pajamas bergambar bunga matahari. Sungguh, ia tidak bisa membayangkan bagaimana reaksi teman-teman atau sahabatnya Zoe jika melihat Kate memakai pajamas bunga matahari ini. Sekarang tujuannya hanya satu, yaitu tidur. Ia berharap saat fajar menjelang, tubuhnya sudah terisi penuh oleh tenaga dan rencananya berkeliling Paris sebelum ‘perpisahan’ berjalan lancar.

Jam sudah menunjukan pukul 10 pagi dan wanita dengan pajamas bunga matahari ini masih meringkuk didalam bed covernya. Matahari bersinar lumayan terang dan mampu menghangatkan gagang pintu di dinginnya udara musim salju. Semalam tidak ada hujan salju, langit bersih tanpa awan. Bahkan, sekarang pun tidak ada hujan salju seakan salju-salju itu tahu bahwa salju yang menutupi jalanan sudah 5 senti tebalnya. Hingga beberapa menit kemudian, wanita itu menggerakan kelopak matanya, terbangun. Perlahan ia duduk, namun ternyata tubuhnya terjatuh. Sikutnya membentur meja kecil tempat lampu tidur bertegangan kecil disimpan. Wanita itu… Kate. Ia meringis kesakitan sambil mengelus-elus siku kanannya dan berusaha berdiri. Ia melihat jam dinding yang ada didekat macbook miliknya. “Sudah jam 10 ternyata,” gumamnya lalu memaksakan kakinya melangkah menuju dapur. Ia harus minum air mineral untuk membuat tenggorokannya tidak serak. Setelah meneguk segelas air mineral, ia bergegas mandi dan bersiap-siap.

Beberapa perlengkapan musim dingin, baju dan keperluan-keperluan yang tidak ia butuhkan saat perjalanan—diperlukan saat sampai di tempat tujuan, ia masukan ke dalam koper besar berwarna merah. Tidak lupa beberapa komik yang selalu menjadi temannya selain kamera ia masukan juga. Ia sudah menyiapkan tekadnya untuk tinggal di negara yang beribu-ribu mil jauhnya dari Paris bahkan dari setahun yang lalu saat rencananya tertunda karena pesuruh menyeramkan yang selalu menyuruh Kate untuk memastikan ini-itu dalam waktu singkat. Panggil pesuruh menyeramkan itu sebagai bos. Kate menghela nafas saat melihat foto Polaroid yang ia ambil tadi malam bersama Zoe dan… Sam. Ya, Kate sempat berfoto berdua bersama Sam setelah ia berhasil membujuk pria itu untuk bertemu dengan Zoe dan teman-teman mantan model lainnya. Sepertinya, itu akan menjadi pertemuan terakhirnya dengan Sam, tapi tidak masalah bertemu secara tidak sengaja dan bahkan ia belum tahu bagaimana Sam sebenarnya. Ia mengambil 2 foto Polaroid-nya dan ia masukan ke tas ransel berwarna putih dan pita polkadot pink didekat kancing tas tersebut. Tas ranselnya itu hanya berisi foto Polaroid, dompet, passport, lip balm dan sebagian komik dari beberapa komik yang ia bawa dalam perjalanannya. “Paris…,” gumamnya sambil menghentikan apa yang sedang ia kerjakan. Sekarang…

#5 *request-an AK -__-


Kate melemparkan pandangannya ke pria tinggi yang baru saja memasuki ball room dan duduk di bangku tidak jauh dengan bangku tempat Kate, Zoe, dan 3 orang mantan model lainnya duduk. “Kau tidak tahu!?” pekik Zoe sedikit keras hingga membuat 3 orang lainnya—yang sebangku dengan mereka—menatap Kate dan Zoe penuh tanya. Kate segera melambaikan tangannya dan tersenyum, membuat mereka segera kembali dengan aktivitas sebelumnya masing-masing. “Sungguh aku tidak tahu, tapi wajahnya familiar.” Jawab Kate, berbisik. Zoe menjentikan jarinya, “Seharusnya kau ingat,” kata wanita itu. “Ingat? Memang aku atau kau pernah bertemu dengannya?” tanya Kate dengan wajah polos. Zoe terkekeh sebentar, “Kau benar-benar sudah lupa,” lanjutnya. Kate menatap Zoe penuh pertanyaan lalu mengangkat bahu tanda tidak mau tahu dan mengeluarkan kameranya. “Kau benar-benar tidak mau tahu?”

Kate terdiam, berfikir. “Iya,”

Zoe menghela nafas, “Dia… model senior kita,”

Seketika Kate tersedak, matanya terbelalak. “S-senior yang diincar oleh seluruh model itu!?” tanyanya dengan nada yang lumayan tinggi. “Ssstt!” seru Zoe sambil menginjak kaki Kate hingga ia lupa bahwa ia sedang memakai high-heels 7 senti. Kate memelototi Zoe sambil memegangi kakinya. Zoe terus meminta maaf pada Kate hingga mereka berdua menjadi bahan tontonan 3 wanita—yang sebangku dengan mereka. Kate mengangguk-angguk lalu akhirnya meneguk segelas espresso yang ia dapat dari seorang pelayan. Sekarang, barulah puncak acara dimulai. Mrs. Shepard, istri dari Mr. Shepard memasuki ruangan. Sial, puncak acara berlangsung saat mata Kate sudah hampir tertutup karena ngantuk. Hampir semenit sekali Kate melirik jam tangannya. Hingga… entah yang ini yang ke-seratus atau ke-50 kali jika ia tak kurang menghitung, Kate menggeram, “ Kenapa waktu tidak berjalan sangat cepat!”

Zoe mendengus, “Kate… Hampir setiap menit kau melirik jam tanganmu. Mana bisa terasa cepat, bodoh!” semburnya. Zoe memakai gaun berwarna hitam dengan beberapa pita kecil putih. Kate melengkungkan bibirnya ke bawah, cemberut. “Yasudah, aku titip tas ya,” lanjutnya lalu bangkit. Zoe menatap, “Mau kemana kau?”

“Mencari udara segar,” jawab Kate singkat lalu beberapa detik kemudian sudah tertelan lautan manusia memakai gaun.

Kate sampai diluar ball room, untungnya ia membawa kamera untuk berjaga-jaga siapa tahu dirinya mulai mengantuk. Kate mulai membuka kameranya, mempersiapkan untuk memotret sisi luar ball room dari bawah hingga dirinya harus berjongkok. Jika dilihat, bagus juga ball room ini. Gedungnya terpisah dari gedung hotel. Ball room ini dipisahkan oleh 1 kolam renang, 1 taman bunga dan 1 kolam ikan. Interior yang hampir sama dengan hotelnya terasa menyejukan mata. Dengan nuansa klasik yunani kuno tanpa patung dan beberapa sentuhan modern terdapat disana. Sayangnya, hari sudah larut hingga Kate tidak bisa melihat dengan jelas bentuk atau letak ball room ini. Sudah 5 menit berlalu dan ia mendapatkan 3 foto dari sekitar 40 kali bidikan. Ia mulai menyusuri bagian samping ball room. Ada semacam teras lounge disana. Kate penasaran dan mulai menghampiri teras tersebut. Sayangnya, jarak antara tempat Kate berdiri dan teras tersebut adalah 10 meter. Ia melihat samping kanannya, semak tanpa cahaya. Disekeliling ball room tersebut, masing-masing sisi di beri lantai selebar 2 meter untuk berlajan. Terlalu lebar jika hanya seorang yang berjalan disana. Tapi itu menguntungkan, membuat Kate tidak begitu dekat dengan semak-semak menyeramkan disisi kanannya. Segera ia melihat sisi kiri, sebuah jendela besar dengan tinggi kira-kira 3 meter dan lebar 2 meter memperlihatkan sebagian isi ball room. Tidak buruk. Hingga angin berhembus menggelitik lehernya, membuat bulu kuduknya berdiri dan suara langkah kaki dari belakangnya. ‘Oh brengsek, siapapun itu dibelakangku tidak akan aku maafkan!’ batin Kate sambil memejamkan matanya. Suara langkah kaki itu semakin jelas terdengar ‘Oh Tuhan,’ umpatnya dalam hati lalu dengan sisa keberaniannya, Kate membawa tubuhnya berjalan ke teras lounge itu. Untungnya, di teras tersebut ada lampu walaupun tidak begitu terang karena sudah mendapat pencahayaan dari ball room. Ia bersyukur, di teras tersebut ada seorang pria yang sedang asyik dengan iPad-nya. Kate melangkah lunglai ke kursi lounge, lalu duduk disana. Ia menarik nafas panjang, lalu menghembuskannya. Membuat pria yang duduk dibangku sebelahnya menengok. Kate merasa diperhatikan, ia mendongkak-an kepalanya dan mendapati pria itu sedang memperhatikannya penuh tanya namun ada sebuah jawaban dari pertanyaan tatapan matanya tersebut. Kate menyipit lalu sedetik kemudian terbelalak, begitupun pria tersebut. “K-kau… Kita bertemu lagi,” ucap Kate sambil menutup mulutnya tidak percaya. “Kate? Ternyata benar kau. Ya, kita bertemu lagi,” kata pria tersebut. Membaca tatapan Kate, pria tersebut hanya tersenyum simpul dan tatapannya kembali menyeramkan. Kate segera berbalik dan mengotak-atik kameranya. 5 menit diselimuti keheningan, Kate semakin penasaran.

“Eh—“

“—bagaimana kau bisa ada disini?” ternyata, pria tersebut baru mau membuka pembicaraan ketika Kate menyelanya dengan pertanyaan ingin tahu. “Maaf! Aku tidak sengaja menyela!” lanjut Kate dan matanya benar-benar melotot minta maaf. Warna mata pria ini coklat, jarinya panjang kurus dan kulitnya putih. Kate yakin, ia bukan asli keturunan Eropa. Pria tersebut hanya menatap Kate, “Tidak apa-apa,” pria itu menghela nafas. “Perkenalkan, aku Samuel Ozuru. Panggil aku Sam.” lanjutnya.

#4 *request-an AK -__-


“Jadi Kate Ravioska baru saja pergi? Bolehkah aku menunggu sampai wanita itu kembali?” pinta pria yang masih memegang kunci apartemen milik Kate. Sang recepsionist terlihat meninmbang-nimbang dan mengangguk. Pria tersebut menunggu di sofa yang disediakan di lobi apartemen ini. Percuma, pria itu tidak akan bisa naik 1 lantai sekalipun dengan memaksa. Hanya penghuni yang boleh naik 1 lantai ke atas dan seterusnya. Tak lama kemudian, terlihat seorang wanita dengan setelan yang sama dengan Kate namun ia memaruh kacamata coklat di kepalanya, memperkurang kemungkinan poni coklatnya jatuh menutupi mata. Wanita itu begitu manis. Dia… Kate. “Um.. Permisi, Kate Ravioska?” Tanya pria yang sudah menunggu 5 menit di lobi apartemen untuk kedatangannya. Kate menatap lelaki itu dari ujung kaki sampai pangkal kepala, lalu mengangguk ramah. Kate sungguh tidak mengenal lelaki ini, seharusnya yang ia temui adalah lelaki dengan tatapan tajam. Namun pria yang sedang berdiri didepannya ini adalah seorang pria dengan tatapan hormat dan ramah. Siapa pria ini? Tiba-tiba pria tersebut menjulurkan tangannya yang terkatup dan membukanya pelan-pelan. Ada kunci apartemen Kate disana. Awalnya, Kate tertahan untuk bernafas sesaat namun di detik berikutnya wanita itu merampas kunci apartemennya dan menggenggam tangan lelaki tersebut penuh arti. “T-terimakasih! Sungguh tidak tahu bagaimana nasibku bila tidak ada anda!” kata Kate yang seperti meremas tangan putih dengan jari-jari panjang lelaki tersebut. “Y-ya, tidak masalah,” jawab pria tersebut sambil berusaha melepaskan cengkraman Kate yang semakin kuat. Akhirnya, Kate melepaskan cengkramannya dan memasukan kunci tersebut kedalam tas. Alih-alih pria tersebut langsung ditinggalkan oleh Kate, wanita itu malah menyuruhnya minum segelas espresso di apartemen Kate. “Maaf, saya ada urusan lain,” jawab pria itu sambil menatap Kate misterius. “Maaf sekali,” lanjutnya. Kate mengangguk, “Baiklah. Saya sangat berterimakasih, semoga kita dapat bertemu di lain waktu. Dah!” seru Kate sambil melambaikan tangan seiring pria itu tersenyum kaku dan membalikan tubuh lalu hilang tertutup pintu masuk basement.”Fuh,” desah Kate sambil menatap jam tangannya. Jam sudah menunjukan pukul 8 malam. “Aku ngantuk sekali,” lanjutnya lalu berjalan menuju lift. Sesampainya di dalam apartemen mewah miliknya—yang diberi oleh managernya—ia langsung membanting tas selempang ke sofa dan duduk merebahkan diri. “Aku tidak boleh ter—“ sesaat ia melihat jam tangannya. “LAMBAT?!” lanjutnya sambil bangkit kembali lalu segera melesat ke kamar tidur. Membuka lemari 2 pintu berwarna putih klasik dan mundur 3 langkah. Matanya menyapu setiap senti lemari pakaiannya. Hasilnya nihil. Lalu ia membuka lemari satunya lagi yang dikhususkan menyimpan gaun-gaun panjang agar tidak terlipat. Ia tidak bisa melihat satu persatu, tangannya yang bertindak. “Mana kostum yang sudah aku siapkan semalam?!” seru Kate sambil terus melihat satu persatu. Menggeser sesenti dari tempat setiap gaun itu digantungkan. Lemarinya sudah sangat penuh hingga ia memutuskan untuk mengambil kostum yang tepat untuknya, bukan gaun. Ia mendengar ponselnya berdering hebat di dalam tas selempang yang ia taruh di atas meja kecil dekat tempat tidur. Kate menggeram kesal lalu kembali mencari pakaian yang cocok tanpa mengangkat sambungan telepon terlebih dahulu. “Bingo!” tidak lama, Kate menemukan setelan yang pas untuknya dimalam musim dingin. Segera ia mencuci muka dan memakai lip balm. Simple. Ia bukan tipe wanita yang hobi berdandan bermenit-menit bahkan bejam-jam. Dari pertama ia menjadi model remaja, tidak pernah sekalipun memakai make up kecuali saat sesi pemotreran dan itupun dilakukan oleh tata rias. Make up untuknya hanya sebatas lip balm warna bibir. Setelah semuanya siap, ia menata rambutnya sedemikian rupa agar terlihat 2 tahun lebih muda. Mengapa? Ya, ia memakai kostum Korean style yang terlihat rumit namun menarik. Ia tambahkan kupluk rajut putih yang dibiarkan menggantung menutupi sebagian kepalanya. Rambutnya? Ia mengikat menjadi 2 bagian seluruh rambutnya. Ikatannya tidak begitu kencang, sengaja dibuat longgar agar senada dengan kupluk yang dipakainya. Sengaja pula ia sisihkan beberapa helai rambut untuk menemani poni sampingnya yang menutupi mata. Tak lupa, ia membawa kamera dan beberapa lensa tambahan untuk memotret. “Apapun komentarnya, aku tidak peduli.” Dan segera ia melesat keluar, menuju basement.

Tubuh 175 senti milik Kate terlihat jelas di pintu masuk ball room. Beberapa kerabat yang perlu mencerna siapa-orang-dengan-fashion-korea-ini? Hingga salah seorang wanita bertubuh lebih pendek beberapa senti dari Kate menyalaminya. “Kate Ravioska,” kata wanita itu seiring senyumnya berkembang. Belum sempat Kate menyapanya, ia kembali menyela, “Orang yang paling cuek dalam hal model namun menarik,” seolah kata-katanya itu menghipnotis, tak lama, beberapa wanita sebaya dengan pakaian yang dapat membuat mereka terlihat lebih tua menghampiri Kate, menyalaminya. Acara sudah berlangsung lebih dari 2 jam dan dalam 2 jam itu sudah banyak tamu yang memenuhi ruangan. Kate baru datang setelah acara berlangsung 1 jam. Beberapa teman dan sahabat lama ada disana. Dan… siapakah itu? Pria tinggi dengan tubuh tidak begitu berisi namun sangat menarik perhatian. Ia memakai baju formal hitam-kelabu. Kate merasa tidak enak hati melihat semua orang memakai gaun namun dirinya memakai baju ala Korean style yang memang menarik baginya. Beberapa orang yang kenal dekat dengan Kate akan segera mengerti mengapa perempuan ini begitu berbeda. “Pst…” bisik Kate pada sahabat lamanya, sahabat yang tadi sore menghubunginya beberapa kali namun tidak diangkat. Zoe Griner. Zoe hanya melirik Kate sekilas, matanya yang berbicara. “Itu siapa?” Tanya Kate.

#3 *request-an AK -__-


“Apa sudah dicari? Benarkah tidak ada kunci disini?!” Tanya Kate khawatir pada kasir dan beberapa pegawai yang sudah mengenalnya. “Maaf… tidak ada,” jawab sang penjaga kasir. Hingga Kate memutar otaknya. Berusaha mengingat. Tapi seingatnya ia tidak mengeluarkan kunci apartemen dari pagi. Ia hanya melihat kunci apartemennya saja yang masih tersimpan dalam tas selempang setelah kopi crème-nya datang dan ia menaruh tas selempangnya di meja. Dengan cepat, Kate berjalan menuju meja yang tadi ia pakai dan menunduk. Berharap matanya menangkap kunci apartemen dengan miniature mini menara Eiffel dan secarik note yang sudah ikut menggantung bersama kunci tersebut selama 6 bulan setelah malam tahun baru saat kartu terakhir untuk masuk ke apartemennya hilang diantara ribuan orang. Setelah hilangnya kartu terakhir tersebut, Kate beralih menggunakan kunci. Dan sekarang? Kunci itu harapan satu-satunya. Kate segera duduk sementara beberapa pegawai berusaha mencari dan menanyakan pada pengunjung yang hendak pulang atau sedang ada disana. Kate memejamkan matanya, berharap sesuatu terjadi saat ia dalam keadaan menutup mata. Berharap sebuah petunjuk melintas di otaknya hingga… “AH!” serunya sambil menjentikan jari dan berlari ke tempat kasir. “Apakah kalian tahu pengunjung laki-laki berbadan sedikit kurus yang mempunyai tatapan tajam disebelahku tadi sore?” Tanya Kate tidak sabar sambil meremas kedua tangannya. “Lelaki itu baru sekali berkunjung,” jawab sang kasir. “Lalu, tadi dia belok ke arah mana?”

“Sama seperti anda,”

“Adakah orang yang menempati bangku khusus 2 orang disebelah bangkuku tadi?”

Tiba-tiba seorang pegawai menghampiri Kate. “Tidak ada, hanya lelaki itu saja.”

Kate mengangguk sambil kembali berpikir. Jika pria tersebut menemukan dan mengambil kuncinya, seharusnya ia menitipkannya pada pegawai disini. Jika pria itu membaca tulisan di note dengan seksama dan mengetahui isinya mungkin ia akan datang ke apartemen Kate dan mengembalikan kuncinya. Namun… apa benar pria tersebut yang mengambil kuncinya? Tunggu… “Apa ada kamera pengawas yang mengarah ke arah meja yang tadi saya tempati?” Tanya Kate yang yakin ide untuk memastikan apakah pria tersebut yang mengambil kuncinya benar. Selain Kate yang bertanya dengan mata berbinar, sang kasir dan 2 orang pegawai kedia kopi tersebut memandang satu sama lain dengan mata yang tak jauh berbinar seakan jawaban dari hilangnya kunci Kate sudah ditemukan. Sekarang waktunya untuk memastikan. Mereka segera mengangguk dan mengajak Kate untuk melihat rekaman sore tadi. Kate mengernyit saat melihat dirinya sendiri masuk ke kedia kopi tersebut dengan wajah kusut dan badan letih. Melihat dirinya seperti itu lebih buruk daripada merasakan penderitaan jadwalnya yang tak henti meneror Kate seakan tidak ada hari tanpa keluar apartemen. Kenyataan itu sudah membuatnya hampir mati selama setahun belakangan ini. Kate tidak tahan melihat dirinya sendiri yang seperti bukan dirinya di depan orang-orang, “Bisa dipercepat?” pinta Kate yang matanya berbicara aku-tidak-tahan-menunggu. Sang pegawai mempercepat rekaman CCTV tersebut hingga, “STOP!” seru Kate yang membuat sang pegawai memencet tombol pause. Saat itu, 3 menit setelah Kate pulang. Ya, pria itu mengambil kuncinya. “Mainkan dengan gerak lambat,” desak Kate yang terlihat geli untuk memencet tombol rekaman dalam monitor. Setelah mengambil kuncinya, pria tersebut membaca note yang tergantung bersama miniature mini menara Eiffel lalu mengangguk-angguk. Seketika senyum Kate mengembang dan jarinya mengepal gemas. Ia tahu, pasti pria tersebut mengerti maksud dalam kertas tersebut. Hingga 20 menit setelah ia mengambil kunci apartemennya, pria tersebut membayar dan keluar. Ia menggunakan mobil sport putih yang warnanya mencolok dimalam hari. Seketika Kate mengalami de javu. Tunggu… ia menjentikan jari dengan keras, berterimakasih pada pegawai yang sudah membantu dan sebagai imbalannya ia memberikan sejumlah uang dan segera melesat ke tempat dimana mobilnya diparkirkan.

#2 *request-an AK -__-


Dengan terburu-buru, Kate berlari hingga menabrak ujung meja kedai kopi tersebut. Ia baru ingat kalau pertemuannya akan berlangsung 2 jam lagi dan ia belum siap sama sekali. Setelah membayar uang kopi crème-nya, ia segera melesat keluar kedai kopi, sementara lelaki yang tadi duduk disebelah bangku Kate memicingnya hingga wanita itu benar-benar hilang dari pandangan. Tidak sengaja, pria itu menangkap sesuatu dengan matanya. Sebuah benda berkilauan dengan sebuah miniature mini menara Eiffel dan note kecil sebelah gantungan tersebut dibawah meja yang tadi dipakai Kate, sebuah…. Kunci?

~

‘Aku akan telat!’ geram Kate dalam hati sambil berjalan cepat di sepanjang lobi apartemen. Seperti biasa, ia menunjukan kartu kamar pada petugas yang mengawasi akses lift ke lantai atas untuk memastikan orang itu adalah pemilik 1 dari 920 apartemen di gedung ini atau bukan. Setelah petugas mengangguk, Kate kembali berjalan cepat menuju lift. Apartemennya terletak di lantai 7, apartemen nomor 708. “Lama!” keluh Kate sambil mengetuk-ngetukan jari lentiknya ke dinding lift dan bersender. Entah mengapa, apa lift disini memang diperlambat atau memang lambat tapi sekarang menjadi sangat lambat. Biasanya ia hanya butuh waktu setengah menit untuk sampai lantai 7 dan sekarang sudah terasa seperti 30 jam. TING. Kate tersenyum dan berjalan menuju apartemennya. Didepan pintu apartemen 708, ia memasukan tangannya ke tas selempang, mencari sesuatu. Lalu berpindah ke saku mantel, mencari sesuatu—lagi. Dan terakhir ke saku legging jeansnya. Mulutnya menganga hebat dan akhirnya ia nekat untuk membuka paksa pintu apartemennya. Kate lupa, apartemen disini bukan apartemen sembarangan. Ia terduduk didepan pintu apartemennya, bersandar tak berdaya. Dengan sisa tenaga, ia mengeluarkan seluruh isi tas selempangnya. Hanya ponsel, dompet, kartu nama, kunci mobil dan lip balm. Ia berpikir keras dimana kuncinya berada. Hingga Kate menjentikan jarinya, “HA!” serunya semangat lalu segera menyambar ponselnya dan menelepon room service. “Ya, kunci duplikat apartemen 708….. APA?! SUDAH DI AMBIL?!” Kate memutar otaknya, sejak kapan ia mengambil kunci duplikat? Ah ia ingat, kunci itu bukannya hilang. Ia meninggalkannya di meja ruang TV bersama majalah-majalah lama yang covernya terpampang jelas wajah Kate 6 tahun lalu. “Bisa minta tolong?”

2 menit kemudian, 2 orang room service sudah ada di depan Kate, berdiri dengan beberapa box peralatan. Sepertinya mereka akan mendobrak pintu apartemen Kate atau lebih parahnya membongkar dinding depan untuk mengganti pintu yang terpaksa membuat Kate mencari tempat tinggal baru. Kate segera menggeleng saat kemungkinan-kemungkinan menyeramkan itu melintas dipikirannya. “Ya… terpaksa, untuk malam ini anda tidak bisa menggunakan apartemen anda. Kami akan berusaha mencarikan kartu atau kunci duplikat baru. Selamat malam,” Kate melongo, lalu segera mengangguk kaku dan pikiran-pikiran buruk kembali terlintas dikepalanya. Harus bermalam dimana ia malam ini? Belum lagi 1 jam 45 menit lagi ia harus datang ke gedung pertemuan untuk reuni. Sebenarnya tidak masalah untuk mencari tempat tinggal baru. Tapi hari sudah terlanjur larut dan salju pun sudah menebal. Kate berpikir keras, ia berencana untuk kembali ke kedai kopi tersebut. Tunggu… kedai kopi?! Bisa saja saat ia mengeluarkan dompet, kunci itu terjatuh tanpa ia duga. Senyumnya kembali terkembang setelah beberapa menit cemberut. Ia tidak akan membuat kakinya terlalu capek, jadi ia putuskan untuk mengendarai mobilnya yang sudah 2 hari tidak di hidupkan dan terparkir rapi di basement. “Apapun akan kulakukan asal tidak merugikan,” gumamnya dan dengan semangat membara, kakinya membawa tubuh Kate berjalan menuju basement dengan semangat.

“Kate Ravioska, 708. E-A” gumam seorang pria sambil memegang kunci dengan miniature mini menara Eiffel dan secarik note yang tadi ia temukan di kedai kopi. “Kate… Sepertinya namanya tidak asing,” gumamnya lagi lalu menancapkan gas. Ia tahu, dimana Kate tinggal. Sebuah apartemen dengan hunian nyaman dan berkelas eksekutif. Mobil sport pria tersebut sudah memasuki basement saat mobil sedan Kate terus melaju disampingnya. Seharusnya mereka berpapasan jika tidak mengendarai mobil, namun sayangnya mereka menggunakan mobil pribadi. “Sepertinya benar ia tinggal disini,” gumam pria itu lagi sambil membuka safety-belt dan memarkirkan mobilnya dekat pintu akses menuju lift ke lobi dari ground floor basement. Sekilas, ia menatap jam tangan yang melingkar di tangan kanannya, sama seperti Kate. Dengan cepat, pria tersebut berjalan ke lobi dan segera menyampaikan maksud kedatangannya kemari pada recepsionist. “Maaf, ada orang yang menjatuhkan ini disebuah kedai kopi,” jelas pria tersebut sambil mengacungkan kunci milik ‘Kate Ravioska’. Awalnya, sang recepsionist terkejut melihat pria tinggi yang tidak begitu berisi berdiri didepannya dengan tatapan tajam setelah membuka kacamata hitamnya. Namun, melihat situasi yang tidak begitu buruk, sang recepsionist langsung menjawab.

#1 *request-an AK -__-


“Ya, tentu…. Tidak…. baiklah sampai bertemu besok,” kata seorang wanita muda berumur 23 tahun sambil menghela nafas dan memasukan ponselnya ke tas selempang. Kate Ravioska dengan mantel putih, syal kelabu  yang melingkari lehernya dan kupluk putih serta kacamata hitam di atasnya. Tak lupa legging jeans hitam dan boot putih-abu menutupi kakinya. Suhu kota Paris yang mencapai -5˚C pada sore menjelang malam memang membuatnya merapatkan mantel. Setiap udara yang keluar dari hidung atau mulut Kate pasti berwarna putih. Suhu minus seperti itu memang sangat dingin. Tak lama, sebuah benda dingin mendarat di pundaknya dengan cukup keras. “Hei!” tegur Kate sambil mencari arah datang benda dingin tersebut. Sebuah bola salju. Hingga seorang lelaki tinggi tertangkap oleh matanya. “M-maaf! Aku tidak sengaja! Apakah lemparan tadi cukup keras?” tanya lelaki itu sesaat belum sempat Kate membersihkan sisa bola salju yang tadi menghantam pundaknya. Sedetik kemudian, Kate hanya berdehem sambil menepuk-nepuk pundaknya sebelum beberapa butiran es menjadi air dan menyerap ke mantel putihnya. “Tidak apa-apa,” jawab Kate akhirnya dan lelaki itu kembali ke tempatnya semula. Dari jam 6 pagi, wanita itu sudah harus ada di kantor untuk mengurus design cover majalah remaja. Jam 9, ia ke kampus. Jam 2, Kate langsung pergi ke tempat modeling untuk mengurus beberapa client yang akan melihat foto-foto vogue hasil jepretan bosnya sebelum akhirnya diseleksi dan mempromosikan kembali model lain untuk dijadikan cover majalah. Sekarang, tepat jam 6 sore ia kembali ke apartemen untuk bersiap-siap karena malamnya akan mendatangi sebuah acara pertemuan khusus untuk para mantan model remaja 6 tahun yang lalu. Atau sebuah acara reuni. Kate merasa dirinyalah yang paling sial hari ini. Sambil membayangkan betapa padatnya jadwal ia hari ini ditambah lagi bunyi ponsel yang sepanjang jalan mengganggunya. Telepon dari bosnya. Tanpa mengangkat sambungannya pun, Kate sudah tahu bahwa apa yang akan dibicarakan bosnya itu adalah hanya sekedar basa-basi sebelum sebuah acara besar. Seperti basa-basi mengingatkan Kate untuk tidak lupa memakan sayuran yang banyak dan mengurangi tidur larut untuk menghindari kerutan atau lengkungan hitam dibawah mata. Hingga salju turun perlahan, bersiap menutupi seluruh jalanan kota Paris. Hari ke-5 musim salju. Kate menggeram sedikit sampai akhirnya ia memutuskan untuk menghangatkan diri disebuah kedai kopi beberapa ratus meter dari gedung apartemennya. Tanpa ditanya, pelayan di kedai kopi tersebut sudah tahu apa saja yang akan dipesan Kate. Saat salah satu pelayan menghampiri, Kate hanya tersenyum sambil mengangguk sedikit dan pelayan tersebut kembali ke tempat dibuatnya kopi tersebut. Simple.

Bermaksud menunggu, Kate mengubah nada dering ponselnya siapa tahu ada telepon penting yang masuk. Semenit kemudian, ponsel Kate mengeluarkan suara nyaring namun mengalun. Ya, sebuah telepon… bukan dari siapa-siapa, melainkan bosnya. “Halo?” sedetik kemudian, Kate langsung menjauhkan ponsel tersebut dari telinganya dan hati-hati mendekatkannya kembali. “Ya? M-maaf…. Aku tidak sempat membuka ponsel….. Ya, baiklah tentu saja aku tidak akan makan banyak minyak dan daging…. Ya, akupun akan tidur tepat waktu….. Baiklah, sampai bertemu besok.” Dan sebuah hembusan nafas berat keluar dari mulutnya. “Ini pesanannya,”

“Terimakasih,” Di detik berikutnya, Kate masih membiarkan asap mengepul dari cangkir antik didepannya. Saat ia mulai menuangkan sedikit crème ke kopi hitam tersebut dan mengaduknya, ponsel wanita itu kembali berdering dan membuatnya nyaris terciprat air kopi yang masih mengepul. Sebentar, ia mengutuk siapapun yang menghubunginya. Dan…. Siapa? Nomor tidak dikenal? Kate melanjutkan meminum kopinya. Nada dering dengan nomor yang sama terdengar lagi. Kate melirik ponselnya sebentar yang ia taruh didepan cangkir kopi panasnya. Mencoba untuk tidak mengangkat sambungan telepon dengan nomor yang tidak dikenalnya, ia kembali memfokuskan dirinya pada acara malam ini. Acara pertemuan dengan mantan modelnya dulu. Tidak lama, seorang pria dengan mantel coklat duduk di bangku sebelah bangku Kate. Bangku khusus 2 orang. Pertama, Kate bergidik melihatnya karena tatapan pria itu terkesan ‘tajam’ dan akan membunuh siapapun yang mengganggunya. Di detik pertama setelah pria tersebut duduk, Kate masih memperhatikannya hingga kepala pria tersebut menoleh ke arah Kate tanpa ekspresi lalu kembali memalingkan wajahnya dan membaca menu. Seketika tubuh Kate terasa beku, namun dimenit selanjutnya ia tersadarkan dengan dering nyaring dari ponselnya. Nomor yang sama. Ia sedikut bersyukur karena disadarkan dengan nada ponselnya yang berisik. Namun disisi lain ia tidak suka diganggu dengan orang yang tidak dikenalnya—atau dikenalnya—tapi ia tidak tahu. Kate melirik jam tangan ditangan kanannya, mendesah lalu cepat-cepat menghabiskan kopinya yang masih lumayan panas. Sekarang, ponselnya berdering lagi. Awalnya, Kate akan memutuskan sambungan hingga matanya menangkap nama kontak teman se-modelnya dulu, “H-halo?” dan Kate menjauhi ponselnya tersebut sambil memegang telinganya. Sesuatu telah terjadi, ia diteriaki oleh seseorang—lagi. “Maaf! Itu nomor baru?! Aku mengira nomor itu bukan milik siapa-siapa…. Iya iya, lain kali aku tidak akan seperti itu lagi…. Baik, sampai jumpa!”